Guru (kencing berdiri) Dan Murid (kencing berlari)

Saya memiliki banyak guru. Baik guru yang secara formal yang berdiri di depan kelas dan memberikan pelajaran kapada saya. Ataupun guru-guru di luar sekolah, yang memberikan pengetahuan dan pelajaran tentang hidup di masyarakat.

Terus terang, ups apakah selama ini saya tidak berterus terang? Bukan, maksud saya, saya tergelitik, terpanggil dan merasa wajib memberikan opini pribadi dan pendapat. Bahwa ada di antara “kita” saya dan anda yang hidup di “dunia ini yang dengan seenaknya menghakimi, menjustifikasi, menuduh, menyudutkan orang-orang. Dengan mengatakan dasar manusia tidak tahu terima kasih, gurunya saja dilawan, dikhianati, dihancurkan, dan sebagainya, dan sebagainya.

Rasa hormat, terima kasih dan segan kepada guru menurut saya bukan hanya karena guru telah memberikan segala kemampuan dan pengetahuan kepada kita. Tetapi terlebih karena guru bisa menjadi teladan, memberi contoh nyata, langsung melakukan apa yang diajarkannya.

Rasa hormat dan terimakasih kepada guru tidak akan pernah hilang. Tetapi guru yang saya definisikan sebagai orang yang memberikan ilmu pengetahuan di ruang kelas tetaplah seorang manusia. Manusia yang memiliki keinginan dan kebutuhan, perasaan dan prilaku sendiri. Maksud saya, apakah guru sebagai manusia selalu memiliki sikap dan prilaku yang sempurna?

Seperti saya katakana di awal, guru bukan hanya orang yang mengajar dan berbicara di depan dalam ruangan kelas. Makna guru sangat luas, contohnya saja guru silat, guru ngaji, pengalaman, ya pengalaman juga guru. Buktinya ada pepatah “pengalaman adalah guru yang paling baik”. Puihh, ternyata pengalaman juga adalah guru.

Bahkan sekarang Mbah Google juga menjadi guru, ya kan? Buktinya sedikit-sedikit kita bertanya kepada Mbah Google, cari kekayaan tanya Mbah Google, mencari cara paling efektif untuk menipu tanya Mbah Google. Bahkan mencari cara melakukan santet Mbah Google bisa jawab. Hanya saja kalau kita cari “sungai Jakarta bersih karena Foke”, Mbah Google akan koreksi menjadi “mungkin yang anda maksud sungai bersih karena Ahok, hehe”.

Kembali kepada pemikiran guru sebagai seorang manusia, man or women, hadew. Guru juga bisa salah, guru bisa berbuat dosa, guru juga bisa merencanakan sesuatu yang jahat. Walupun kita wajib menghormati guru, tetapi menurut saya kita harus bisa meneladani sikap, pemikiran dan perilaku guru yang baik-baik saja. Yang jahat-jahat, tolong ya anak-anak Indonesia jangan ditiru, huhuhu.

Kalau pemikiran kita sama, bahwa kita hanya meniru, meneladani dan mempraktekkan perilaku guru kita yang baik saja. Dan kita yang menentang, menyanggah dan mengoreksi perilaku guru yang salah, dan akibatnya kita dianggap durhaka, tidak pandai berterima kasih dan berkhianat. Apa pilihan kita, mana yang lebih baik, sikap apa yang kita ambil. Hayo silakan jawab sendiri.

Akhirnya saya mengutip satu peribahasa. Begini bunyinya “Guru Kencing Berdiri, Murid Kencing Berlari”. Arti secara umum dapat saya pahami bahwa guru harus memberi keteladanan, apa yang dilakukan guru akan ditiru murid dan pengikutnya, bahkan melebihi apa yang dilakukan gurunya dalam artian yang kurang baik.

Pusat Damai, 21 Oktober 2016

Related posts

Tinggalkan Balasan