Balik lagi ke Bangkayang

Dari Sanggau Ledo kami kembali lagi ke Bengkayang. Pemandangan di sepanjang jalan Sanggau Ledo-Bengkayang tetap menarik perhatian saya. Sebenarnya potensi pertanian di wilayah ini begitu besar. Tanah di sekitaran Sanggau Ledo terkenal subur, terutama untuk tanaman sayuran dan padi.

Kami harus balik arah lagi ke Bengkayang karena memang untuk pergi menuju tujuan selanjutnya yaitu Samalantan harus dari Bengkayang. Pak Didi tetap sebagai driver, Pak Simon di sampingnya, dan saya di kursi tengah. Ada hal-hal yang menarik dan unik yang kami lihat dan perbincangkan.

Pertama, ada excavator (alat penggali) tumbang di pinggir jalan. Ketika kami akan lewat, kami diberi kode oleh orang yang mengatur arus lalu lintas untuk meminggirkan kendaraan. Itu normal, karena sedang diupayakan untuk menarik dan mendirikan kembali excavator tersebut. Upaya tersebut belum berhasil, tetapi kami sudah diperbolehkan jalan. Ada beberapa truck terparkir membantu menarik excavator tersebut.

Yang membuat kami termangu, di salah satu badan bak truck jenis Fuso tertulis “ Biar Oleng Yang Penting Sadar”. Kami bertiga mengeja tulisan tersebut dan langsung tertawa. Para sopir truck memang terkenal kreatif dalam membuat tulisan di badan truck-nya. Tetapi kali ini kami gagal paham apa artinya tulisan tersebut. Kalau dihubungkan dengan excavator yang tumbang, pasti sebelumnya oleng baru tumbang, dan pasti operator-nya tidak sadar kalau excavator akan tumbang.

Kedua, sebelum masuk kota Bengkayang dari arah Sanggau Ledo ada satu Kuburan Cina. Namanya Bong Ja. Perkuburan ini menurut saya tidak seram. Cukup tertata rapi di kontur tanah yang lebih tinggi dari jalan. Ada beberapa kolam, ada tamannya dan terawat.

Pak Didi menceritakan bahwa pekuburan ini dari sore sampai malam ramai. Saya tanya “ada apa?”. Pak Didi menjelaskan bahwa perkuburannya ramai karena dimanfaatkan oleh remaja untuk lokasi berkumpul. Tujuannya juga belum diketahui, apakah untuk lokasi pacaran, senang-senang atau yang lain.

Lalu saya berpikir, apakah tidak ada tempat atau lokasi lain untuk pacaran atau kegiatan lain selain di area tersebut. Rasanya Pemda perlu memikirkan hal ini, mungkin memang kebutuhan akan tempat bagi remaja untuk berkumpul tidak ada atau belum disediakan. Apakah juga para orang tua dari remaja-remaja kita tentang hal ini.

Ketiga, kalau dari arah  Sanggau Ledo sebelum masuk Bengkayang, akan banyak dijumpai komplek perumahan yang dibangun oleh pengembang. Karena menurut informasi yang didapat, kawasan ini memang dijadikan sebagai kawasan pengembangan kota Bengkayang. Salah satu hal yang perlu diperhatikan oleh pengembamg adalah nama komplek perumahan yang akan dibangun. Karena bagaimanapun pemberian nama yang baik, mudah diingat, dan biasanya nama komplek perumahan menunjukan status sosial penghuninya.

Ada satu papan reklame salah satu pengembang yang membuat kami tersenyum. Namanya “Kamaruk”. Kami tidak tahu secara persis artinya, mungkin bahasa lokal. Tetapi kata tersebut setahu saya dalam bahasa Jawa bisa seperti kata “kemaruk”. Kemaruk dalam bahasa Jawa artinya rakus. Usul saya kepada pengembangnya mungkin perlu dipertimbangkan lagi mengenai nama komplek perumahan yang dibangunnya jangan “Kamaruk”.

Demikian perjalan kami dari Sanggau Ledo kembali ke Bengkayang. Di Bengkayang kami istirahat sebentar di rumah saudara Pak Didi, sekalian mengambil tas pakaian Pak Didi di rumah keluarganya tersebut. Selanjutnya kami mulai lagi perjalanan menuju Samalantan.

Related posts

Tinggalkan Balasan