Hilangnya Ngkirop dan Mpose dari Topent Kami (Kehancuran sungai di kampung kami)

Hampir dua bulan, sejak April 2016 saya tidak pulang ke kampung. Kampung saya Seribot, merupakan kampung di Kedesaan Upe, Kecamatan Bonti, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Sabtu, tanggal 25 Juni 2016, kebetulan dapat jatah off dari kantor, saya manfaatkan untuk pulang kampung. Anak kedua dan ketiga juga katanya sudah rindu dengan sepupu-sepupunya di kampung. Sehingga jadilah hari itu saya dan dua anak pulkam.

Jarak dari Pusat Damai, tempat tinggal saya ke Seribot kurang lebih 18 KM. Ditempuh selama kurang lebih selama 45 menit dengan  mobil. Lamanya waktu yang diperlukan karena alasan klasik. Jalan dari Pusat Damai ke Seribot tidak aspal semuanya, masih banyak jalan yang tidak diaspal.

Masuk ke kampung, saya melihat pemandangan berbeda. Wow, ada pembangunan Gedung Pertemuan. Kalau melihat plang yang ditempatkan di depannya kayaknya anggarannya dari Dana Desa. Saya bertanya-tanya dalam hati, inikah Dana Desa yang satu milyar itu ya. Mantap, akhirnya Dana Desa direalisasikan juga.

Melewati jembatan di tengah kampung, saya melihat pemandangan yang berbeda juga. Sungai terlihat dikeruk, lebih rapi  dan bersih dari pepohonan dan tanaman perdu. Lebih terlihat atau mirip parit, bukan sungai lagi. Berikut penampakannya sekarang.

Saya sungguh terpana, terkejut dan tersadar. Kenangan masa kecil saya (antara tahun 1975 sampai tahun 1997) tentang sungai seribot, itu namanya, bukan seperti parit ini. Sejak tahun 1998 sampai sekarang (2016) sungai-sungai di wilayah kampung saya mengalami penurunan fungsi lebih kepada kehancuran. Kalau sekarang apalagi, sudah hancur, lihatlah gambar di atas, itu bukan sungai, tetapi parit.

 

Baiklah, daripada saya sakit hati, terluka (segitunya), akibat melihat pemandangan sungai seribot sekarang. Lebih baik saya memberikan atau menceritakan kenangan dari ingatan saya tentang sungai nggadokng yang saya ingat sewaktu kecil.

Gambaran sungai nggadokng dahulu (sebelum tahun 1997)

Sungai nggadokng hanyalah sungai kecil, anak sungai barangkali. Lebar rata-rata cuma dua meter, di beberapa tempat (libok dan topent) lebarnya bisa mencapai lima sampai sepuluh meter. Hulu sungai seribot adalah lobak. Lobak adalah rawa, yang kadang-kadang juga dibuat ladang. Hutan di perhuluan sungai seribot masih asri. Sumber airnya masih terjaga, terbukti dari masih jernihnya air yang mengaliri sungai seribot.

Sungai nggadokng tidak panjang, kalau saya perkirakan paling panjang lima kilometer sebelum bermuara di sungai yang lebih besar, yaitu sungai tinying. Sepanjang sungai masih dinaungi pohon-pohon, bahkan sepanjang sungai banyak  pohon yang tumbuh. Akarnya bahkan sebagian masuk ke dalam sungai. Akar pohon yang masuk ke sungai membentuk rungkap. Rungkap adalah ruang atau rongga antara akar pohon yang berumbai di sungai dan terendam di sungai dengan dinding sungai. Rungkap merupakan tempat yang istimewa bagi ikan penghuni sungai.

Sebagai gambaran, berikut foto pohon dipinggir sungai yang membentuk rungkap.

 

Kegiatan sehari-hari di sungai

Banyak kegiatan penduduk kampung saya yang dilakukan di sungai. Untuk mudahnya akan saya urutkan berdasarkan waktu, mulai dari pagi sampai sore hari. Ada juga kegiatan yang insidentil, sewaktu-waktu dilaksanakan di sungai.

Bagian sungai yang banyak digunakan untuk kegiatan penduduk kampung biasanya disebut topent. Topent adalah bagian sungai yang digunakan atau dimanfaat untuk banyak kegiatan. Kegiatan paling banyak adalah mandi. Topentdipilih dari bagian sungai yang cukup dalam, lebar dari bagian sungai yang lain dan memiliki akses yang mudah dari rumah. Topent kebanyakan tidak hanya milik satu keluarga, bisa dua atau tiga keluarga yang menggunakannya.

Pada pagi hari, kegiatan di topent cukup ramai. Mulai dari mandi pagi, mencuci beras, dahulu orang mencuci beras di sungai. Beras dibawa menggunakan bakul, mencucinya pun di bagian hulu topent. Kemudian  cuci piring mangkuk, mencuci pakaian. Anak-anak juga mandi di sungai, sebelum berangkat sekolah kan harus mandi. Walaupun karena dinginnya air, sekali terjun ke sungai langsung naik dan pulang ke rumah, tanpa menggunakan sabun dan gosok gigi.

Kalau menjelang siang, topent hampir kosong. Para penghuni kampung yang sebagian besar petani, kalau tidak ke ladang ya menyadap karet. Yang menyadap karet juga ada yang langsung pergi ke ladang atau memiliki kegiatan lain di hutan.

Siang hari, setelah jam sekolah selesai, aktivitas di sepanjang sungai justru ramai. Anak-anak ada yang mandi, memancing, mencari tengkuyung sungai (ngkirop) dan banyak kegiatan anak-anak yang dilakukan di sungai. Kalau anak-anak mandi di sungai, bukan hanya mandi yang dilakukan. Kalau sudah ada tiga atau lebih anak yang mandi, dipastikan akan ada permainan. Pertama main kejar-kejaran, tetapi dilakukan sambil menyelam. Semakin ramai semakin seru, dipastikan akan berlangsung minimal selama satu jam. Permainan ini kami sebut pakong’k.

Permainan selanjutnya yang dilakukan di topent adalah adu nyali terjun ke sungai dari pohon yang tumbuh di pinggir sungai. Area penerjunan harus bebas dari kayu di dalam sungai (rangkong’k) dan memiliki kedalaman yang cukup. Ada juga main sembur-semburan air, kalau sudah merasa akan kalah langsung menyelam saja.

Menjelang sore, para orang tua kembali aktivitas di kebun dan ladang. Kembali topent akan ramai sampai menjelang hari gelap.

Sungai sebagai sumber kebutuhan protein

Sungai dimasa saya kecil masih sebagai sumber untuk mencari ikan dan sumber protein bagi penduduk kampung. Banyak cara dan alat yang digunakan untuk mencari ikan dan sumber protein di sungai.

Hampir semua jenis ikan di sungai kecil kami bisa dikonsumsi. Ikan lele, gabus, seluangmposepatong,dan masih banyak jenis ikan lokal yang sekarang sudah musnah. Selain ikan, ada juga udang (unakng), kepiting (ciu) dan tengkuyung (ngkirop). Saya pastikan juga dengan kondisi sungai sekarang tidak akan ada lagi udang dan kepiting kalau ngkirop mungkin masih ada.

Keahlian saya dalam mencari ikan bisa dikatakan pas-pasan. Yang paling sering saya cari adalah ngkiropNgkiropadalah sejenis keong yang hidup di sungai-sungai di sekitar kampung kami.  Ukurannya paling besar sebesar ibu jari tangan orang dewasa. Warnanya hitam, bentuknya tidak panjang. Ngkirop paling senang menempel di kayu yang sudah mati di dalam sungai, di dedaunan yang berguguran ke dalam sungai, dan tiang-tiang kayu yang ditancap di sungai.

Cara mencarinya sangat mudah, tinggal masuk ke sungai dan mulai meraba-raba di sekitar tempat yang diperkirakan ada ngkirop-nya. Ngkirop sangat enak dimasak rebus dicampur ampas tuak (rompakng).

Saya juga sangat terkesan dengan ikan mpose. Ikan ini ukurannya tidak besar, paling besar sebesar ibu jari orang dewasa, dengan panjang sekitar lima sentimeter. Kalau memancing di sungai, ikan ini menjadi pengganggu nomor satu. Suka menghabiskan umpan pancing tanpa terpancing. Ikan mpose kalau makan umpan pancing tidak atau hampir tidak ada gerakannya. Sehingga kita tidak tahu, apakah umpan pancing kita dimakan ikan atau tidak.

Anak-anak juga terlibat dalam mencari ikan di sungai. Bukan karena diwajibkan oleh orang tua, tetapi karena senang dan menjadi pekerjaan yang mengasikan.

Beberapa cara mencari ikan di sungai yang kami lakukan, diantaranya dengan memancing. Umpan pancing yang umum adalah cacing, ada juga yang menggunakan telur semut merah (turu isuh), ada juga yang menggunakan ulat beras. Kalau memancing meminjam bahasa kawan harus mencari spot yang bagus. Tempat yang bagus tergantung kepada individu masing-masing.

Ada juga alat yang digunakan untuk menangkap ikan, kami menyebutnya pontont’. Pontont’ adalah alat atau perangkap ikan. Pontont’ terbuat dari bambu, besarnya kurang lebih sebesar betis orang dewasa. Terdiri dari tiga sampai enam ruas, kurang lebih satu sampai dua meter. Antara ruas dilobangi, sehingga dari ujung satu ke ujung satunya lagi tidak ada sekat lagi.

Jenis bambu yang digunakan namanya poriknt. Pontont’ ini ditempat di dalam sungai. Pastilah area sungai yang dipilih yang diperkirakan banyak ikannya. Lokasi ini pasti dirahasiakan oleh orang yang menempatkannya. Jangan sampai orang lain yang menemukannya dan mengambil ikan yang terperangkap di dalamnya.

Cara kerja pontont’ sangat sederhana. Pontont’  ditempatkan di lokasi yang dipilih. Diharapkan ikan menjadi tertarik untuk menggunakan pontont’ sebagai rumahnya. Ikan yang masuk ke dalam pontont’ beragam juga, ikan lele, ikantiget, sejenis ikan lele tetapi memiliki duri di sirip kiri kanannya. Dan masih banyak ikan lainnya yang terperangkap di pontont’ ini.

Setiap dua atau beberapa hari pontont’ ini di angkat, atau kami menyebutnya ngabos. Cara mengangkatnya harus benar. Ujung satunya ditutup menggunakan telapak tangan. Ujung satunya lagi diangkat ke atas. Ikan yang ada di dalamnya akan terperangkap dan pontont’ dibawa ke pinggir sungai.

Banyak cara dan alat yang bisa digunakan untuk mencari ikan di sungai. Saya tidak merincinya satu persatu dalam tulisan kali ini.

Ritual yang berhubungan dengan sungai

Ada satu ritual adat yang yang berhubungan dengan sungai yang saya ingat. Dalam artian saya ingat ada ritual yang sering saya ikuti, namanya nane’ cade. Saya ingat karena adik saya ada lima orang, semuanya dilakukan ritual nane’ cade. Urut-urutan kegiatannya dan mantranya saya tidak tahu. Suatu saat nanti saya akan mencari informasi dan berniat akan menulis tentang ritual ini.

Intinya ritual nane’ cade adalah memandikan anak yang baru lahir untuk pertama kali di sungai biasanya ditopent.Tujuannya saya juga belum tahu, karena waktu saya kecil, saya senang karena kalau  nane’ cade adik saya, maka makanan yang disediakan istimewa. Ritual nane’ cade dipimpin oleh orang yang sudah biasa, tentu yang sudah tahu tata cara dan persyaratannya. Sepengetahuan saya oleh perempuan.

Penutup

Dengan kondisi sungai yang ada sekarang, semua aktivitas yang kami lakukan pada masa kecil tidak akan bisa dilakukan anak-anak jaman sekarang. Ada beberapa budaya yang hilang, saya tidak akan menyalahkan siapa-siapa. Bisa juga saya punya andil dalam merusak lingkungan.

Yang pasti ritual nane’ cade, dengan kondisi sungai seperti gambar di atas akan menjadi tidak sehat. Siapa yang mau mengambil risiko memandikan anak yang berumur beberapa hari di sungai, yang mirip parit, dengan air yang keruh, bisa juga sudah bercampur pertisida dan pupuk (kimia).

Apakah kondisi sungai yang sudah seperti ini masih bisa dikembalikan ke kondisi awal. Rasanya agak mustahil. Ah, saya tidak tahu ini tanggung jawab siapa. Yang saya tahu, saya cukup beruntung masih sempat menikmati sungainggadokng yang masih asri. Masih sempat minum air sungai nggadokng langsung dari sungainya tanpa dimasak, tanpa takut sakit perut. Masih sempat bermain di sungai yang masih memiliki air yang jernih.

Pusat Damai, 29 Juni 2019.

Related posts

Tinggalkan Balasan