Janji Mu (palsu)

Oleh sebab itu, pada hakikatnya “kontrak politik” adalah sekadar janji yang mengikat secara moral. Walaupun ada pameo bahwa janji adalah hutang, pada kenyataannya hutang ini tidak dapat dieksekusi secara legal. Jadi, rakyat seharusnya tidak gampang terperdaya oleh janji manis para calon pejabat publik, apalagi jika janji itu diucapkan di luar jangkauan akal sehat kita. (http://business-law.binus.ac.id/2014/07/05/janji-pejabat-publik/)

Nah lo, makanya jangan langsung percaya kepada calon-calon pejabat publik semisal bupati, wali kota bahkan calon gubernur yang sudah tanda tangan kontrak politik. Yang ditulis saja tidak bisa digugat, apalagi yang hanya diucapkan di mulut. Akhirnya janji tinggal janji, Cak Koput-Koput lupa pada janji.

Heboh pilkada Jakarta melanda tidak hanya Jakarta Raya. Kita yang berada di daerah bahkan sampai merasa sebagai warga DKI, saya setuju Ahok, saya dukung Anies, saya dukung Agus. Ahok seng ada lawan, Anies pasti menang,Agus pasti juara. Hanya ramalan Cak Lontong yang benar, yang menang pasti namanya berawal dari huruf “A”.

Percakapan berbau politik dengan seorang kawan yang identitasnya mesti saya rahasiakan. Bukan karena dia tidak mau, cuma saya yang takut, nanti pengamat politik marah karena lahannya diserobot teman saya ini. “Eh kamu kan sudah punya gaji bulanan, jangan jadi pengamat lagilah ya, ya awas ya”.

Pilkada untuk Kabupaten Sanggau masih dua tahun lagi (2018) kalau tidak salah, kalau salah dikoreksi ya. Tetapi menurut teman saya tadi adu strategi dan rencana-rencana politik sudah dimulai saat ini. Teman saya ini ternyata punya akses ke pimpinan-pimpinan partai di tingkat kabupaten lho, katanya. Si Anu mau dipasangkan dengan Si Ane, tetapi Tuan Takur yang punya kuasa atas perahu karet tidak mau. Lalu Tuan Takur maunya Si Ane di pasangkan dengan Si Ene. Si Enenya yang tidak mau, pusing juga ya jadi Tuan Takur.

Ada juga ni informasinya, si mantan mau ikutan lagi. Katanya enak jadi pejabat, padahal isunya dulu banyak dihujat. Ada juga infonya yang dulu gagal mau juga, modal masih kuat, empat atau lima miliar bukan masalah. Cuma saran saya jangan terima dana dari asing apalagi aseng, apalagi dari asong, takutnya pasti didemo oleh geromboran anti asing, aseng dan asong, tetapi suka menggunakan barang asing, aseng, dan asong, hehe.

Saya sampai pusing mendengar analisa dan telahaan teman saya ini. Saya hanya komentar oooh, pantasan, o ya, kok, ya ya, tapi bukan lagi nonton film itu ya. Saya berpikir, pilkada masih dua tahun, tetapi pejabat kita sudah fokus memikirkannya, lalu siapakah yang memikirkan rakyat? Adakah dalam pikirannya untuk membangun, bagaimana dengan realisasi janji-janji politiknya dahulu?

Ah nasibmu rakyat, engkau hanya penting menjelang pilkada, begitu pilkada berlalu, engkaupun dilupakan. Jangan berharap banyak, cari saja makan untuk kita, tidak usah minta ke pejabat. Ada atau tidak ada mereka , dapur tetap harus mengepul. Rencanakan saja masa depan anak-anak kita.

Tanam sajalah komoditi  seperti lada, kelapa sawit, karet dan komoditi lain yang bisa menopang hidup kita. Syukur-syukur kalau pemerintah mau memberi bibit gratis, paling tidak kita bisa bermimpi.

Jadi bukan saya mengajak saudara-saudari sekalian untuk tidak ikut pilkada, bukan, kalau saya mengajak seperti itu bisa-bisa saya masuk penjara. Walau pilkada masih jauh, mengutip bahasa atau peribahasa “Belanda Masih Jauh” bagi kita. Tetapi mulai sekarang kita harus kritis, seleksi, mana yang ingin berkuasa untuk kesejahteraan rakyat dan mana yang berkuasa hanya untuk kejerahteraan diri sendiri dan golongan serta konconya.

Sekali lagi saya dan saudara paling tidak masih bisa bermimpi. Suatu saat, entah lima, sepuluh atau lima belas tahun nanti, bermimpilah di Kalbar, di Kabupaten/Kota muncul Risma, Ahok, Ridwan Kamil dan pemimpin-pemimpin muda yang bekerja hanya untuk rakyat.

Terakhir saya mengutip kata-kata Ahok dalam sebuah wawancara di TV, demikian “Kalau saya punya uang yang ingin saya sumbangkan kepada orang miskin satu miliar. Maka satu orang akan menerima lima juta, maka saya akan membantu  dua ratus orang, dan tahun depan belum tentu saya memiliki uang satu miliar lagi. Tetapi apabila saya berkuasa, menjadi Bupati, atau Gurbernur, dengan kuasa anggaran sekian triliun, maka hitung sendiri berapa orang yang dapat saya bantu, berapa banyak sekolah dan rumah sakit yang saya bangun dan sebagainya”. Wuih, tujuan berkuasa seperti ini sungguh mulia. Yang setuju ketik “Amiiiiin” dan sebarkan, lho kok.

Pontianak, 8 Nopember 2016.

Related posts

Tinggalkan Balasan