Kasih Itu…………….

Mengikuti Misa minggu ini sungguh bermakna. Minggu tanggal 24 April 2016. Bersama ketiga anak-anak ku, saya berangkat ke Gereja Santa Maria Tak Bernoda. Kami mengikuti Misa Kedua, dimulai pukul 08.00.

Sebelum memasuki gereja, saya melihat seorang Pastor yang belum saya kenal, berjalan dari pastoran menuju gereja. Menyalami beberapa orang dan masuk ke gereja. Dalam hati saya bertanya-tanya pastor dari mana  dan siapa gerangan.

Kami duduk di barisan tengah sayap kiri dalam gereja. Saya mengatur posisi duduk anak-anak, biasanya saya akan duduk di antara mereka. Tetap pukul 08.00, misa dimulai.

Paduan suara sepertinya dibawakan oleh ibu-ibu dari Sengoret. Pastor dalam pembukaan sudah mengatakan “agar umat tidak bertanya-tanya sepanjang misa, maka saya perlu mengenalkan diri”. Ternyata namanya Pastor Erwin, dari Ordo Kapusin.

Hasil browsing saya di http://www.pontianak.kapusin.org  menemukan bahwa nama lengkap beliau adalah P. Iosephus Erwin, OFMCap. Salah satu Dewan Pimpinan Ordo Kapusin Provinsi Pontianak, yaitu sebagai salah satu Definitor. Berasal dari Kapuas Hulu, tepatnya dari Benua Martinus. Tujuan beliau ke Paroki Pusat Damai untuk menemui calon imam Capusin.

Dalam Homilinya, Pastor Erwin pertama-tama menyampaikan tentang Kepemimpinan. Kepemimpinan Yesus mendasarkan kepemimpinan-Nya pada Kasih. Beliau mencontohkan beberapa pemimpin yang tidak memimpin berdasarkan kasih. Seperti Hitler, yang hanya Karen alasan mempertahan ras arya, bisa membunuh ribuan orang yahudi. Jelas itu bukan perbuatan kasih. Yang lebih aktual, beliau mencontohkan kepemimpinan Abu Sayyap yang menyandera ABK, termasuk orang Indonesia. Itu juga bukan kepemimpinan berdasarkan kasih.

Intinya beliau menyampaikan bahwa orang Katolik harus mendasarkan kepemimpinannya pada kasih. Beliau mengutip 1 Korintus 13:4-8a:  “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Kasih tidak berkesudahan.”

Beliau menyampaikan, implementasi kasih secara sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Kasih itu sabar, apakah kita sudah sabar menghadapi anak, menghadapi pasangan. Kasih itu murah hati, ia tidak cemburu. Sungguh sulit diimplementasikan. Banyak orang mengatakan cemburu artinya cinta. Menurut beliau bukan itu, karena kasih tidak cemburu.

Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Orang yang memegahkan diri dan sombong jauh dari kasih. Kasih tidak mencari keuntungan diri sendiri. Sungguh sulit mengimplementasikan kasih. Seperti ungkapan berikut, “jauh lebih mudah menulis dan membicarakan tentang kasih ketimbang melaksanakannya”. (http://artikel.sabda.org).

Saya termenung, betapa sulit menerapkan kasih dalam hidup saya. Seperti kutipan berikut yang saya ambil dari http://artikel.sabda.org: 1 Korintus 13 adalah salah satu pasal yang paling di kenal dalam Alkitab, sekaligus pasal yang paling rumit. Bagi kebanyakan orang Kristen, gambaran kasih disini lebih merupakan gagasan ketimbang pengalaman, atau lebih bersifat teoritik ketimbang praktis.

Daya tarik ayat ini membuat banyak orang Kristen terpana bagaikan memandang gunung yang menjulang tinggi dalam kemegahannya sehingga membuat kita tertarik untuk mengukur ketinggiannya, namun menyadari betapa kita terikat di bumi dan tidak memiliki peralatan untuk mendakinya.

Kita mengenal kasih, tetapi kita juga mengenal diri kita dan betapa jauhnya aktualitas kasih kita. Kasih itu sendiri “tak pernah gagal”, kitalah yang gagal, bahkan seringkali gagal menerapkannya.

Tetapi Yesus menyakinkan bahwa jika kita memaknai dan melaksanakan kasih dan dengan memohon bantuan Yesus, maka kasih akan  dapat menjadi dasar hidup kita.

Misa selesai, tetapi saya penasaran dengan sosok Pastor Erwin. Maka begitu keluar dari gereja saya mencarinya, dan menyalaminya. Saya minta ijin untuk mengambil gambar atau foto beliau.

Dokumentasi pribadi: Pastor Erwin

Semoga kasih memiliki wujud dalam tindakan dan perkataan dan perbuatan kita sehari-hari. Amin.

Related posts

Tinggalkan Balasan