Kutongk, Anak Didikan Alam

Masa itu sungguh indah, amat berkesan. Sekian puluh tahun sampai saat ini umurku mencapai 42 tahun. Kenangan masa kecil tidak akan terlupakan. Setiap orang pasti mempunyai kenangan masa kecil. Tidak peduli berasal dari mana, etnis apa, kaya atau miskin.

Kisah atau cerita berikut merupakan kisah masa kecilku. Sering saya ceritakan secara lisan kepada teman-teman, kejadian-kejadian lucu dan konyol masa kecil. Agar cerita ini tetap abadi, lebih baik saya tulis.

Untuk lebih memahami cerita ini, perlu saya jelaskan sedikit asal usul, tempat atau lokasi kejadian, dan sedikit latar belakang saya.

Nama saya Indra, lengkapnya Kristianus Indra, waktu kecil, maksudnya sampai kelas VI SD saya dipanggil Ki’is. Setelah memasuki SMP, oleh teman-teman saya dipanggil Indra. Lebih kerenlah panggilannya. Saya berasal dari Dusun Seribot, Desa Upe, Kecamatan Bonti, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Dijamin kampung saya tidak akan ditemui di peta.

Orang tua, Bapak pekerjaan Guru SD, biasa dipanggil oleh muridnya Pak Guru Mides, lengkapnya Deomedes. Ibu saya, yang biasa saya  panggil Ma’, seorang Ibu Rumah Tangga, tetapi biasa juga bertani (ladang dan sawah) dan menyadap karet, namanya Sunai. Saya sulung dari 6 bersaudara, tiga laki-laki dan tiga perempuan.

Masa kecil yang saya masih ingat ketika umur di atas 3 tahunan. Yaitu mulai tahun 1978. Kampung saya waktu itu masih asri, hutan masih ada, air sungai masih jernih, binatang hutan masih ada. Rumah yang ada masih sekitar 40 rumah, penduduknya masih saling kenal.

Anak-anak masih bermain bebas di jalan utama, karena kendaraan masih-masih sangat jarang. Hutan dan sungai di sekitar kampung merupakan tempat kami bermain, mengasah berbagai kemampuan hidup untuk bertahan di hutan.

Sungguh alam masih ramah, alam mengajarkan anak-anak di kampung cara bertahan hidup. Dari kecil kami anak-anak kampung sudah mengenal mana tumbuhan yang boleh dimakan daunnya, umbinya. Dan kami juga tahu mana tanaman yang tidak boleh dimakan, tidak boleh disentuh.

Kami sudah belajar membuat perangkap burung, mencari ikan dan mencari sayuran yang sudah disediakan oleh alam. Kami belajar membuat tanda di hutan agar tidak tersesat, mengenal jejak binatang dan keterampilan lainnya yang diperlukan untuk bertahan di hutan.

Kisah ini saya tulis bukan berdasarkan urutan waktu, hanya berdasarkan ingatan. Dan tidak ditulis sekaligus. Berikut kisah dan pengalaman saya, yang akan dibuat secara berseri.

Musim Gasing (Osi’)

Musim gasing (osi’) merupakan musim yang mengasyikan. Setiap anak laki-laki pasti mendambakan memiliki gasing atau kami sebut osi’Osi’ yang dimiliki haruslah bagus, memiliki keseimbangan, sehingga bisa berputar secara sempurna dan tahan lama. Osi’ haruslah kuat, tidak mudah pecah kalau diadu. Bahan osi’ favorit anak-anak di kampung kami adalah dari akar pohon tapang yang sudah mati yang menonjol di tanah. Akar tersebut kami sebutbaner. Kayu tapang warnanya cenderung coklat kehitam-hitaman.

Untuk mendapatkan baner sebagai bahan mentah haruslah dipotong menggunakan parang yang tajam. Jangan heran anak-anak di kampung kami, dari kecil sudah terbiasa menggunakan parang, yang biasa kami sebut bai. Setiap bermain di hutan di sekitar kampung, kami pasti membawa bai.

Setiap pulang sekolah, setelah makan siang kami sudah janjian bersama teman akrab. Sudah disepakati mau mencaribaner tapang. Di sekitar kampung banyak tunggul pohon tapang, tetapi akarnya masih kuat. Masing-masing anak mempunyai lokasi baner tapang yang menjadi incarannya. Setelah baner tapang didapat, maka selanjutnya adalah membuat osi’. Tidak semua anak memiliki keterampilan membaut gasing. Saya sendiri tidak terlalu terampil, tetapi biasanya saya minta tolong bapak. Atau biasanya minta bantu teman yang pandai membuatnya. Untuk memutarnya diperlukan tali.

Tali gasing terbuat dari kulit pohon kepuak dalam bahasa kami disebut pohon tiop. Cari pohon tiop kurang lebih sebesar lengan orang dewasa, setelah pohonnya didapat, pohonya ditebang. Potong pohon kurang lebih dua meter, pilih pohon yang lurus dan mulus. Belah pohon tiop, dan kupas kulitnya. Buang kulit luarnya, dengan cara dipukul-pukul, maka akan tinggal kulit dalamnya yang berwarna putih. Kulit yang sudah dikupas ini perlu dijemur 1-2 hari dan warnanya akan berumah menjadi coklat kemerahan, tetapi merahnya agak merah marun. Kulit tiop yang sudah diolah ini disebut romoyuhRomoyuh yang sudah dijemur dibelah masing-masing sebesar lidi. Tiga buah romoyuhini dipilin menjadi tali osi’. Panjang tali osi’ disesuaikan dengan besarnya osi’. Bisa 1-2 meter. Semakin besar osi’nya, semakin panjang talinya.

Bermain osi’ biasanya dilakukan pada sore hari. Anak-anak akan berkumpul di halaman salah satu warga yang luas. Lokasi bermainnya haruslah lapang, tanah tanpa rumput dan kalau bisa rata. Ada dua jenis permaian osi’. Pertama adu kekuatan osi’ atau kami sebut pongka. Jumlah pemainnya tidak dibatasi jumlahnya, bisa 3 sampai 6 orang. Orang pertama akan melempar osi’ nya, selanjutnya orang kedua akan melempar osi’ nya dengan mengenai osi’orang pertama sekuat tenaga. Jika mengenai osi’ orang pertama, maka osi’ yang pertama bisa terpental keluar dari area permainan. Tentu semakin jauh terpental, semakin baik. Begitu seterusnya. Osi’ yang kuat akan bertahan dan tidak pecah. Tidak ada aturan khususnya.

Permainan kedua adalah adu lama gasing perputar. 3-6 orang pemain akan mengadu osi’ nya. Dengan melempar secara serempak osi’ masing-masing. Osi’ yang bertahan lama dialah yang menjadi pemenangnya.

Kadang-kadang permainan osi’ juga diwarnai kelecakaan cukup serius. Kecelakaan terutama jika terjadi permainanpongka. Osi’ yang terpental bisa mengenai kepala salah satu pemain, atau salah satu penonton. Dan kejadian ini pernah terjadi. Kepala penonton sampai bocor dan mengucurkan darah. Yang menyedihkan adalah bagi osi’ yang terpental ke dalam semak-semak dan tidak ditemui.

Demikianlah permainan osi’ ini selalu dimainkan satu tahun sekali. Lamanya periode permainan bisa sampai satu bulan. Osi’ yang bertahan disatu musim akan disimpan baik-baik dan akan dikeluarkan kembali pada musim permainan osi’ tahun berikutnya.

Dua: Musim Kemarau Yang Menyenangkan

Awal bulan Agustus kemarau mulai menghampiri kampung. Udara panas di siang hari cukup menyengat. Bagi orang tua, datangnya musim kemarau pertanda mereka harus siap-siap untuk membakar ladang. Ladang yang sudah siap dibakar adalah ladang yang sudah ditebang pohon-pohon dan semak belukarnya sudah dibersihkan. Kayu dan semak belukar yang dibersihkan haruslah sudah kering sempurna. Ladang yang sudah siap dibakar disebut roban.

Membakar ladang haruslah memperhatikan keamanan dan harus hati-hati. Agar apinya tidak merembet ke area yang lain. Di sekitar ladang yang akan dibakar harus dibersihkan. Kegiatan membersihkan area atau batas ladang disebutngokas. Area yang dibersihkan tersebut disebut kokas. Lebar kokas bisa sampai dua meter. Setelah ada kokas barulah ladang bisa dibakar.

Kegiatan membakar ladang ini bisa dilakukan pagi, siang atau sore hari. tetapi kebanyakan biasanya di sore hari, dimana matahari tidak begitu terik lagi. Ladang yang terbakar sempurna atau mosu menjadi dambaan. Ladang yang terbakar sempurna banyak menghasilkan abu sisa pembakaran yang akan menjadi pupuk bagi padi dan tanaman ladang lainnya kelak.

Membakar ladang dilakukan orang tua atau orang dewasa, anak-anak jarang bahkan hampir tidak dilibatkan. Pada musim kemarau ada satu kegiatan yang sangat menyenangkan bagi kami anak-anak. Kegiatan tersebut adalah mencari ikan di sungai. Mencari ikan selain mengasikkan, juga hasilnya akan menjadi lauk yang enak.

Mencari ikan di sungai yang debit airnya menyusut dapat dilakukan dengan beberapa cara unik. Cara ini dipelajari secara turun temurun.

Pertama disebut nima. Nima adalah metode mencari ikan di sungai dengan mengeringkan satu bagian sungai. Bagian sungai yang dipilih biasanya lubuk dan diperkirakan banyak ikannya. Lokasi yang sudah dipilih akan dibendung, hulu dan hilirnya. Tujuannya agar air dari hulu dan hilir tidak masuk ke lokasi yang akan dikeringkan.

Bendungannya disebut bato, dibuat dari kayu dan bambu yang tersedia di lokasi. Dibuat seperti pagar dua baris, tengahnya diisi dengan tanah yang diuruk. Bato jangan sampai bocor, kekuatannya dibuat dengan memperkirakan lamanya waktu dari mengeringkan air sampai mencari ikan.

Setelah bato nya beres, langkah  selanjutnya adalah mengeringkan air dengan cara menimba air menggunakan ember ke hilir sungai. Air harus dibuang sampai lubuknya hampir kering. Atau sampai ikan yang ada di lubuk bisa ditangkap. Yang paling seru adalah saat menangkap ikan. Bisa menggunakan alat seperti soak atau sowo. Atau bisa menggunakan tangan langsung.

Ikan yang didapat beragam jenisnya. Ada lele, toman, seluang, baong, dan jenis ikan lokal lainnya. Udang dan kepiting juga diambil, kadang-kadang juga ada ular air. Ikan yang didapat bisa sampai sepuluh kilogram, tidak bisa dipastikan. Kegiatan ini bisa berlangsung sampai setengah hari, ya kurang lebih 4-5 jam.

Cara kedua biasa disebut nyowo’. Nyowo’ ini adalah kegiatan mencari ikan menggunakan alat yang disebut sowo. Alat tersebut terbuat dari bambu yang dibelah-belah dan dibentuk seperti bakul, tetapi pipih. Lubang-lubangnya kira-kira seukuran jari kelingking, besarnya bervariasi. Mencari ikan dengan sowo memerlukan keterampilan dan keberanian. Nyowo dilakukan di alur sungai yang dangkal dan hampir kering.

Tiga: Mencari Buah Nenas Berbuah Petaka

Saya punya teman sekelas, namanya Apeng. Apeng ini kalau dari silsilah keluarga harus saya panggil paman. Tetapi karena umur kami tidak terpaut jauh, ditambah kami sekelas, maka saya cukup memanggilnya Apeng. Apeng orangnya pintar, selalu juara satu. Saat itu kami duduk di kelas IV, berarti tahun 1984.

Suatu hari sepulang sekolah, kami sudah membuat janji mencari buah nenas. Lokasinya di kebun karet milik orang tuanya dekat dengan roban. Setelah makan siang dan pamit kepada orang tua, kami berangkat. Kami masing-masing membawa bai dan lomo sowo.

Lomo sowo  adalah wadah atau tempat yang biasa dibawa ke hutan digunakan menyimpan barang bawaan. Lomo sowo memiliki tali, dan cara membawakannya talinya diselempangkan ke pundak. Yah bisa dibandingkan dengan tas selempang jaman sekarang.

Perjalanan ke lokasi sekitar 30 menit berjalan kaki. Petaka dimulai saat melintasi  roban. Pohon kayu yang sudah ditebang harus dilalui dengan cara dititi. Melompati ranting yang sudah mati dan menahan panasnya terik matahari karena tidak ada pohon yang melindungi.

Tiba-tiba saya mendengar dengungan suara lebah. Rasa panas langsung terasa dibahu. Secara spontan saya berlari. Saya sadar ada sarang lebah yang kami lalui. Dan itu sangat mengganggu penghuninya. Apeng hanya melongo, tetapi kemudian tersadar dan ikut berlari.

Saya tidak menghiraukan barang bawaan. Bai dan lomo sowo tercecer dengan cara yang saya tidakketahui. Akhirnya setelah berlari sampai tidak terkejar lagi kami berhenti. Rasa panas dan perih menjalar seluruh tubuh. Kami langsung pulang disertai tangisan menahan sakit. Saya tidak tahu berapa lebah yang menyengat saya saat itu. Saya hampir pingsan dan terus menangis, hampir tidak mampu berjalan lagi, sedangkan rumah masih sekitar 1 kilometer lagi.

Syukurlah, disaat yang tepat kami berpapasan dengan orang dewasa, namanya Aso. Aso ini masih kerabat saya juga. Aso dikemudian hari menikah dengan sepupu saya. Melihat kondisi saya dan mengetahui penyebab saya menagis, Aso langsung menggendong dengan cara saya menaiki punggungnya (tabik) untuk selanjutnya saya dibawa pulang.

Begitu kami sampai, kegemparan terjadi. Ibu saya panik, begitu juga dengan Bapak. Muka dan badan saya bengkak. Ada rencana mau dibawa ke Bonti. Tetapi sekali lagi syukur, dari kejauhan terdengan suara motor. Waktu itu motor yang lewat masih langka, bapak langsung berkata “mungkin itu Pak Kayat (alm)”. Pak Kayat adalah seorang mantra kesehatan yang bertugas di Bodok. Menurut bapak, Pak Kayat ini memang rajin berkunjung ke kampung untuk memberikan pelayanan kesehatan. Mungkin hari itu beliau turun ke seribot tujuannya untuk memberikan pelayanan kesehatan.

Dan benar yang lewat adalah Pak Kayat. Langsung dicegat untuk mengobati saya. Saya diinjeksi dan diberikan obat. Setengah jam, rasa nyeri dan panas di tubuh saya berangsur reda, tetapi bengkaknya masih dan terlihat lucu. Beberapa hari kemudian saya sudah pulih dan bisa beraktivitas lagi.

Lalu bagaimana kabar bai dan lomo sowo yang tercecer? Setelah Robannya dibakar, bai-nya ditemukan. Tentu pegangan atau gagangnya yang terbuat dari kayu tidak ada lagi. Lomo sowo-nya sudah direlakan terbakar.

Empat: Menangkap Burung Dengan Kutongk

Di belakang rumah kami adalah lokasi kebun karet tetangga, sebagian tanah kosong yang masih ditumbuhi ilalang bercampur pohon-pohon kecil. Karet yang ditanam merupakan karet lokal.

Jangan bayangkan kebun karet tersebut bersih. Kebun karet yang saya maksud masih bercampur dengan pepohonan lain, seperti bambu, pohon tiop, tanaman tipo, ada pohon rambutan juga. Yang dibersihkan hanyalah jalan selebar kurang lebih 50 CM yang menghubungkan antara pohon karet satu dengan yang lainnya. Jadi seperti lorong-lorong di antara pohon-pohon dan semak belukar lainnya.

Kembali ke perangkap burung yang namanya kutongk. Kutongk dibuat dari daun tipo. Gabungkan ujung tiga daun tipo. Lengkungkan ketiga daun tipo, tusuk ujung ketiga daun tipo dengan ranting sebesar kelingking dengan panjang sekitar 20-30 cm. Ranting dikaitkan ke pangkal daun. Fungsi ranting ini sebagai tempat burung untuk bertengger.

Gambar kutongk sebagai berikut:

Waktu yang paling ideal untuk menangkap burung yang tergoda untuk tidur di kutongk adalah sore hari. Harus sudah gelap, dengan bekal lampu senter. Kalau tidak ada senter, kami menggunakan lotos. Lotos adalah lampu yang menggunakan minyak tanah sebagai bahan bakar.

Kutongk hanya digunakan sekali pakai. Kalau ada burung di dalamnya, maka bisa ditangkap menggunakan tangan. Proses menangkap burung ini akan merusak kutongk, sehingga kutongk ini hanya sekali pakai.

Lima: Mencari Uang Untuk Jajan dan Membeli Mainan

Sebagian besar mainan yang kami miliki adalah buatan sendiri. Mobil-mobilan kami buat dari kayu, sepeda motor kami buat dari bambu, bola kaki kami buat dari getah karet yang kami kumpulkan dan kami bentuk seperti bola. Sebagian mainan kami terbuat dari bahan yang diperoleh dari alam.

Tetapi kadang-kadang kami juga ingin memiliki mainan yang dijual di toko. Mainan yang dijual di toko juga jenisnya tidak banyak. Yang sering menjadi incaran kami biasanya karet gelang dan kartu bergambar.

Meminta uang kepada orang tua untuk membeli mainan adalah hal yang mustahil. Kalaupun diberikan mungkin satu tahun hanya sekali. Kami harus menghasilkan uang sendiri untuk membeli mainan. Salah satu caranya adalah dengan mencari kulat. Kulat adalah getah karet yang menetes jatuh ke tanah dan tidak dimanfaatkan oleh pemilik kebun.

Kulat dikumpulkan dan dibentuk bulat lonjong. Besarnya kira-kira sebesar buah pepaya. Satu hari paling banyak bisa mengumpulkan satu sampai dua kulat yang sudah dibentuk. Dalam mencari kulat di kebun milik orang lain, ada beberapa etika tak tertulis yang harus ditaati. Yaitu: tidak boleh merusak pohon karet, tidak boleh merusak tempat penampung air karet, tidak boleh merusak alat tempat cucuran air karetnya.


Karena tujuannya untuk membeli mainan, kalau sudah terkumpul dua atau lebih kulat langsung dijual. Paling senang rasanya dapat membeli mainan di toko. Apalagi dengan jerih payah sendiri. Kalau ada kelebihan harga mainan, maka diminta uang tunai. Uang tunai dapat disimpan untuk membeli mainan atau untuk jajan.

Demikian beberapa catatan dan cerita di masa kecilku. Pasti nanti ada sambungannya.

Related posts

Tinggalkan Balasan