Mati Malu Ala Kutal

Kalau anda berasal dari Kecamatan Bonti, khususnya dari kampung Bonti dan sekitarnya. Lahir tahun 1990-an ke bawah, gaul dan menguasai sedikit bahasa Melayu Sanggau pasti akan tahu dengan ungkapan atau istilah MATI MALU.

Istilah atau ungkapan mati malu sendiri dikenalkan oleh Kutal paling tidak untuk kawasan Bonti dan sekitarnya. Kutal ini warga Bonti etnis Melayu. Jangan berprasangka buruk, apalagi langsung berpikiran saya akan menulis hal-hal yang berkaitan dengan SARA. Kutal juga saya yakin itu nama kerennya, nama aslinya saya tidak tahu.

Orang ini dikenal karena dua hal. Pertama, Kutal disangkakan punya batu tikus. Saya juga yakin yang memberitakan Kutal memiliki batu tikus juga belum tentu pernah melihatnya. Dengan memiliki batu tikus kabarnya Kutal otomatis punya kemampuan untuk melewati celah yang kecil dan sempit layaknya tikus. Jadi kalau Kutal dikurung di dalam sel, urusan kecil buatnya untuk melarikan diri, weleh-weleh.

Hal kedua yang yang dikenal dari Kutal adalah istilah mati malu.Mati malu kalau secara harafiah agak sulit diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Mati malu adalah ungkapan untuk menyatakan rasa malu yang amat sangat. Malu karena perbuatannya diketahui oleh orang banyak dan orang sedikit. Perbuatan yang seharusnya menjadi aib tiba-tiba diketahui oleh orang lain. Dan perbuatan-perbuatan memalukan lainnya yang seharusnya tidak diketahui orang lain.

Contoh ni, kalau Kutal tahu saya pernah berujar bahwa saya  orang yang jujur apalagi dengan bibir sedikit dimonyongkan dan pengucapanya agak dipanjangkan, ju…..jur. Tetapi di lain waktu Kutal mendapati saya nyolong bakwan di warung kopi Mak Nyah, maka langsung Kutal akan bilang ke saya “mati malu, bagi dong”. Ingat, mati malunya satu kali.

Misalnya lagi ni, Nita idola kampung sebelah, artis dangdut organ tunggal punya Om Cuek. Eh udah naik panggung, tetapi kaos kakinya lain sebelah. Maka kita boleh bilang “mati malu, mati malu”. Ingat, mati malu-nya dua kali.

Satu lagi ni contoh pengalaman teman saya. Makan di Warung Padang, cie-cie jadi ingat lagu Nasi Padang yang dinyanyikan bule itu. Karena perut udah lapar, liur sudah menetes membayangkan menu nasi putih + rendang sapi + daun ubi rebus. Nasi diambil porsi jumbo, hampir mengalahkan bukit kelam, daun ubi rebus, terakhir rendang, ambil potongan yang paling besar, jangan lupa kuah rendangnya.

Pilih tempat duduk paling pojok, menghadap ke depan warung, posisi paling strategis. Suapan pertama hampir mampir di mulut, “dek ini teh es-nya, silakan”.  Teh es ni, ada teh es, serumput dulu, segar. Nasi yang dilumuri kuah rendang pun masuk ke mulut, sedap. Ambil daging sapi rendangnya, gigit sedikit, maklum takut cepat habis, kres, kok, kruk-kruk. Lho-lho kok pedas, ini apaan, dicek, ya Tuhan ini sih potongan lengkuas yang sangat besar.

Teman saya kaget, melas, sedih dan malu bercampur menjadi satu. Pupus sudah harapan menikmati rendang sapi, mau ambil lagi malu. Kejadian seperti ini kalau Kutal sampai tahu maka dia akan bilang “mati malu, mati malu, mati malu, mati malu, mati malu”. Ingat berapa kali mati malunya, lho kok lima kali, harusnya tiga ya?

Itulah masalahnya, berapa kali harus menyebut mati malu, belum begitu jelas. Menurut terawangan Cak Koput Koput, jumlah penyebutan mati malu tergantung tingkat kemaluannya. Nah lo, salah lagi, maksudnya tingkat malu dan kepribadian seseorang akan menentukan berapa kali jumlah mati malu disebut.

Peristiwa atau kejadian yang sangat memalukan bagi Cak Koput Koput, bagi kawan saya tadi mungkin tidak begitu memalukan. Jadi kalau dibuat rentang tingkat malu dari nol sampai sepuluh, peristiwa teman saya tadi di warung padang, bagi Cak Koput Koput sudah pada level 7 tingkat malunya. Harus disebut tujuh kali “mati malu, mati malu, mati malu, mati malu, mati malu, mati malu, mati malu” waduh.

Jadi kembali ke kejadian pertama, saya ketahuan nyolong bakwan di Warung Kopi Mak Nyah, walaupun Kutal hanya menyebut satu kali “mati malu”, bagi saya itu sudah “mati malu kali sepuluh kali” gawat, “mati malu” jiKutal.

Pusat Damai, 16 Oktober 2016.

 

 

Related posts

Tinggalkan Balasan