Menunggu Durian dan Merawat Tradisi

Sekarang lagi musim durian. Katanya, dan kenyataannya memang banyak durian yang dijual di pasar, di lapak-lapak dadakan, di tempat-tempat persinggahan di jalan raya. Harus beli ya? ya harus, hari gini mana ada yang gratis. Sari Roti saja yang awalnya gratis ada yang menalangi beli kok, ups maaf keceplosan.

Setiap musim durian seperti ini, saya teringat dan terkenang saat-saat masih belia, masih muda dan masih ganteng tentunya menurut versi old book version. Yah kira-kira masa SMP sampai SMA, sekitar tahun 1987-1995. Masa muda selalu indah untuk dikenang, lebay ah. Dulu, dulu sekali di kampung kami kalau sudah musim durian, maka kami-kami anak-anak muda selalu bersemangat.

Tetapi sebelumnya saya perlu jelaskan bahwa dulu durian di tanam dan tumbuh di beberapa tempat yang spesifik. Durian yang ditanam di areal kebun karet biasanya merupakan durian pribadi pemilik kebun karet tersebut dan keluarganya. Yang boleh mengambil dan menunggu duriannya ya anggota keluarga yang bersangkutan. Begitu juga dengan durian yang ditanam di areal pemukinan, biasanya di belakang rumah atau sekitar rumah, masuk kategori durian milik pribadi.

Kemudian durian yang tumbuh di areal umum, kami menyebutnya tomawokng atau dibahasa Indonesia-kan tembawang, biasanya sudah menjadi milik banyak orang. Milik orang sekampung, dan usianya pasti sudah tua, terlihat dari ukuran pohonnya yang sudah besar. Di kampung kami, Seribot, tomawokng ada beberapa seingat saya, yang terkenal tomawokng ompu emporikng.

Ompu Emporikng ini luasnya saya tidak tahu pasti, tetapi mungkin di atas lima hektar. Ompu Emporikng merupakan areal bekas pemukiman terakhir orang-orang Seribot sekarang, yang rumahnya masih berbentuk rumah betang, sebelum dipindahkan ke tempat sekarang yang menjadi Kampung Seribot. Di tempat ini pohon durian rata-rata sudah menjadi milik umum, milik orang sekampung, kami menyebutnya diant ratus. Siapa saja boleh menunggu dan memungut buah yang jatuh, tetapi tidak boleh dipanjat.

Kisah kami berawal di situ, yah menunggu durian bersama teman-teman pada waktu itu merupakan memori yang paling indah untuk dikenang. Biasanya kami bersepakat antara minimal dua orang sampai empat orang untuk bersama-sama menunggu durian di Ompu Emporikng.

Persiapan yang dilakukan didiskusikan bersama. Tugas pun dibagi, terutama tugas membawa perbekalan. Misalnya membawa beras masing-masing dua kaleng (kaleng susu). Membawa garam dan bumbu dapur, membawa rokok, membawa korek api. Perlengkapan standar lain yang wajib dibawa, diantaranya parang dengan sarungnya, senter atau lampu minyak yang kami sebut lotos, pakaian, tidak lupa jaroe atau wadah untuk menyimpan barang bawaan. Perlengkapan lain yang tidak lupa biasanya senapan lantak atau senapan angin, mata pancing, kalau perlu membawasaok atau alat untuk menangkap ikan.

Kalau melihat persiapan dan perlengkapan yang dibawa, sudah bisa ditebak, pasti kami akan bermalam, minimal untuk dua malam. Disinilah asiknya, bermalam di hutan, berkemah ala anak-anak kampung. Membawa tenda? tidak terpikirkan oleh kami, lagian mana ada tenda jaman itu di kampung kami. Jarak dari Kampung Seribot ke Tomawokng Ompu Emporikng kurang lebih plus minus tiga kilometer. Kami tempuh dengan berjalan kaki, melewati jalan setapak, menyeberangi sungai dengan titian, kami menyebutnya tungoh.

Persis sebelum memasuki kawasan Tomawokng Ompu Emporikng, pasti akan menyeberang satu sungai, namanya Tinying, nama suku kami sama persis dengan nama sungai ini, suku Tinying. Di tempat penyeberangan atau di bawah titian sungai ini ada pemandian Ompu Emporikng, namanya Topent Ompu. Sungai Tinying masa itu masih asri, jernih, airnya dangkal dan berpasir. Kami pasti melepas lelah dengan mandi terlebih dahulu di Topent Ompu ini. Kalau haus, tinggal ke hulu sungai sedikit dan tinggal minum air yang mengalir dengan jernih.

Menunggu durian di musim durian tentunya memerlukan strategi, karena sistem yang diterapkan dalam menunggu durian adalah sistem rebutan, siapa cepat dia dapat. Kami sudah menentukan pohon durian mana yang akan kami tunggui.

Setiap pohon durian sudah memiliki nama, ada yang namanya durian tembaga, karena isinya berwarna kemerahan seperti tembaga, dagingnya tebal, tetapi buahnya jarang lebat. Ada durian rasoh, kalau berbuah dahannya suka patah karena tidak mampu menahan berat buahnya yang banyak. Tetapi buahnya kecil dan cenderung dagingnya tipis, ataungroset. Ada durian Nek Solomao, karena lokasinya dekat dengan lokasi pedagi atau pantak Nek Solomao.

Hal pertama yang dilakukan setibanya di pohon durian yang dipilih adalah memilih dan menentukan lokasi pendirian pondok untuk berteduh, menyimpan perlengkapan dan tempat beristirahat. Lokasi yang dipilih dengan pertimbangan dengan dengan dahan yang lebat buahnya, relatif datar, kalau bisa dekat atau menempel di pohon yang relatif besar dan memiliki baner, yaitu akan yang menonjol keluar yang bisa dijadikan penghalang angin . Bahkan ada yang memilih mendirikan pondok persis menempel di batang durian yang dimaksud.

Tanpa diperintah, masing-masing kami sudah tahu tugas dalam membuat pondok. Ada yang mencari kayu untuk pondasi, mencari bambu untuk alas atapnya atau rangka atapnya, daun untuk atap, biasanya sejenis daun palem atau daun tipo, sejenis lengkuas.

Rangka atap mesti kuat, agar kalau ada buah durian yang menimpanya, tidak jebol dan langsung jatuh ke dalam pondok. Pemasangan daun palem untuk atap juga harus rapi agar air hujan tidak merembes ke dalam pondok. Semua bekerja sesuai kemampuan, dan kurang lebih satu sampai dua jam pekerjaan mendirikan pondok selesai, pondok berbentuk panggung untuk menghindari lembabnya tanah dan binatang berbisa.

Disela-sela kesibukan membuat pondok, jika ada buah durian yang jatuh, maka semua berhamburan dan berlari untuk memungutnya. Diperlukan ketangkasan dan kengototan untuk bersaing dengan kelompok lain dalam mendapatkan buah durian. Disitulah letak kompetisinya. Buah yang didapat diawal biasanya dimakan dulu, setelah itu baru dikumpulkan untuk dibawa pulang.

Menjelang sore, makanan disiapkan, nasi dimasak di bambu atau biasanya membawa periuk kecil. Sayuran banyak di hutan, rebung, pakis dan dedaunan yang bisa dikonsumsi. Lauknya kalau ada rejeki bisa dapat ikan, atau binatang buruan lain seperti tupai.

Menjelang malam tugas dilaksanakan, tim dibagi, ada yang menunggu di pondok untuk memungut buah durian yang jatuh. Ada juga yang berkeliling mencari durian di pohon-pohon di areal lain, namanya ngrusao. Kegiatan ini berbekal senter atau lotos, parang dan senapan angin, siapa tahu diperlukan kalau-kalau ada binatang buruan malam hari seperti tenggiling dan musang. Atau mencari kodok/katak di sungai yang kami sebut pugao. Menu lauk yang sangat istimewa adalah ikan atau pugao dimasak dalam bambu dan dicampur daging buah durian, ah sedapnya.

Untuk menghangatkan badan dibuatlah api unggun yang terus menyala, sekaligus asapnya berguna untuk menghalau nyamuk. Kalau membawa kopi dan gula lebih asik lagi. Tidak ada jadwal tidur pasti, tidur malah biasanya siang hari.

Pagi hari kegiatan pertama adalah menghitung buah durian yang didapat. Buah durian tidak langsung dibagi. Tetapi dibuka, dagingnya dipisah dari bijinya, dagingnya dikumpulkan dan dimasukan ke potongan bambu poring, bambu yang ukurannya cukup besar, daging durian dicampur garam. Diawetkan, yang kami sebut tompek atau dikenal dengan nama tempoyak. Karena tidak mungkin juga membawa buah durian yang banyak dengan cara dipikul atau menggunakan jaroe.

Pada siang hari, warga kampung yang tidak bermalam biasanya datang juga untuk menunggu durian. Walau tidak ada kesepakatan tertulis, yang menunggu malam hari dan bermalam akan memberikan kesempatan kepada warga yang datang siang hari untuk memungut buah durian yang jatuh pada saat orang tersebut ada di lokasi pohon durian. Ini sebagai pengingat bahwa pohon durian ini dimiliki oleh banyak orang dan ada semangat berbagi.

Anak-anak juga pada siang hari akan datang ke Tomawokng Ompu Emporikng. Tentu mereka datang setelah jam pulang sekolah. Tujuannya juga sama, mencari buah durian dan buah lainnya. Sehingga pada siang hari Tomawokng Ompu Emporikng suasananya lebih ramai dan semarak dari pada di kampung. Disinilah interaksi tua-muda terjadi dan orang dewasa mengajarkan banyak hal kepada anak-anak muda langsung dengan praktek nyatanya di laboratorium aslinya.

Yang menunggu malam hari, pada siang hari lebih banyak melakukan aktivitas lain. Misalnya mencari buah lain misalnya rambutan, manggis, buah ntowa, dan buah lainnya yang semusim dengan buah durian. Atau biasanya mencari sayur, mencari rotan, mencari ikan di sungai dan kegiatan lainnya yang bermanfaat untuk mengisi waktu luang.

Kegiatan mengisi waktu luang inilah yang dapat menjaga tradisi, kebiasaan dan melatih kami-kami yang muda agar bisa bertahan hidup di alam bebas. Kalau kreatif dan rajin, tidak ada ceritanya bisa kelaparan di hutan saat musim buah. Kami dilatih untuk dapat memilih tumbuhan dan dedaunan yang bisa dimakan. Memilih jamur yang tidak beracun, dan berburu binatang yang dapat dijadikan lauk untuk memenuhi kebutuhan akan protein.

Melewati dua hari menunggu durian tidak akan terasa. Bila dirasa hasil yang didapat sudah cukup dan perbekalan sudah habis, maka saatnya untuk pulang. Kalau pulang pasti ada juga membawa buah durian yang masih utuh dan membawa buah lainnya untuk oleh-oleh keluarga. Tompek yang didapat akan dibagi rata, tompek bisa bertahan cukup lama dan sangat digemari  sebagai campuran lauk, atau ditumis dengan ikan teri dan dibuat sambal.

Demikian kira-kira pengalaman yang saya ingat, banyak hal yang bisa saya pelajari dari kegiatan menunggu durian ini. Bukan hanya soal buah duriannya, tetapi juga tentang menjaga tradisi dan mempelajari berbagai hal dari orang-orang dewasa yang berkaitan dengan cara bertahan hidup di hutan yang kami perlukan saat itu.

Pusat Damai, 15 Desember 2016

 

Related posts

Tinggalkan Balasan