Menyusuri Vandereng Menuju San Keuw Jong

Perjalanan menuju Samalantan dimulai pukul 16.45. Begitu keluar dari kota Bengkayang, jalanan sempit kami lalui. Ada beberapa perbaikan jalan yang dilakukan, terutama akibat tanah longsor, maklum hujan lagi senang mengguyur bumi.

Pak Esel sudah memberikan informasi kepada kami, pagi tadi di jalan yang melintasi bukit Vandereng (ada juga yang menyebutnya Bendereng), ada pohon yang tumbang dan menghalangi arus lalu lintas. Dan rupanya sudah disingkirkan, sehingga perjalanan bisa lancar.

Saya sedikit bercerita tentang Vandereng ini. Vandereng adalah kawasan perbukitan, jalan yang melintasinya menanjak berkelok-kelok dan akhirnya menurun kembali ke arah yang lainnya. Kelokannya cukup menantang, kalau boleh saya katakana kelokan menanjaknya seperti spiral. Kalau berpapasan dengan kendaraan lain di tikungan, khususnya dengan truck dan bis, maka salah satu harus mengalah. Aturan tidak tertulisnya, yang berada di posisi menurun harus mengalah.

Hutan di kawasan Vandereng masih cukup lebat, sehingga terkesan angker. Tetapi ada di beberapa tempat sudah ada warung-warung yang dikelola masyarakat sebagai tempat istirahat dan melepas lelah.

Menurut beberapa sumber diantaranya dari http://www.indonesiakaya.com. Di bukit vandereng atau vandreng terdapat pos intai militer Belanda. Pos ini dahulu digunakan Belanda untuk mengintai pasukan Jepang yang ingin merebut kekuasaan dari tangan mereka. Didirikan sekitar tahun 1939 – 1942, pos ini menjadi pusat militer Belanda di Bengkayang.

Melewati Vandereng, jalanan menurun kita akan langsung melintasi Serukam. Yang terkenal di Serukam ini adalah keberadaan rumah sakit, namanya Rumah Sakit Bethesda Serukam.

Waktu tempuh yang diperlukan untuk sampai ke Samalantan sekitar satu jam perjalanan. Memasuki Samalantan pertama-tama yang kita lihat adalah Tugu Perdamaian. Tugu Perdamaian ini dibangun pada 17 Agustus 1974 (http://eprints.uny.ac.id/19304/11/BAB%20III.pdf), ini adalah monument perdamaian.

Kami sampai di Kantor CU Lantang Tipo sekitar pukul 17.40. Kantor sudah tutup, tetapi seluruh staf dan manajernya masih melakukan aktivitas di dalamnya. Kami disambut dengan ramah. Manajer KC Pak Octa dengan sigap mempersilahkan kami untuk masuk, walaupun saya sendiri sudah masuk duluan tanpa permisi.

Kantor CU Lantang Tipo KC Samalantan menempati satu ruko di Pasar Samalantan. Hampir sama kondisinya seperti Kantor CU Lantang Tipo KC Sanggau Ledo. Sederhana, setiap jengkal difungsikan secara maksimal karena keterbatasan tempat. Tidak ada ruang tamu khusus, kami duduk di ruangan Manajer, mengelilingi meja kerja Manajer.

Setelah berbasa-basi, pertama-tama kami menyampaikan kepada Pak Octa maksud dan tujuan kami berkunjung ke KC Samalantan. Pak Octa menyambut baik tujuan kami, dan mempersilahkan kami untuk melakukan supervisi sesuai bidang kerja masing-masing. Saya mulai melakukan pemeriksaan terhadap penerapan peraturan, administrasi dan kebijakan yang berkaitan dengan pengelolaan kredit.

Ada banyak hal yang saya tanyakan, tentu semuanya berkaitan dengan pengelolaan kredit di KC Samalantan. Masukan dan saran saya sampaikan, apa yang harus diperbaiki, yang sudah baik diteruskan dan perlu ditingkatkan lagi. Pak Didi dan Pak Simon juga fokus pada pemeriksaan di bidang masing-masing.

Sekitar satu jam kami melakukan supervisi. Terakhir semua Staf KC Samalantan dan Manajer kami kumpulkan dan kami menyampaikan hasil supervisi. Dalam Kesempatan tersebut, kami juga mendengar masukan, saran serta usulan dari Staf dan Manajer KC Samalantan terkait pengelolaan KC Samalantan. Pertemuan diadakan di ruang manajer, berlangsung sekitar 30 menit.

Setelah pertemuan, kami disuguhi makan malam. Makan malam bersama dan sebelumnya didoakan oleh salah satu staf. Karena meja makan tidak tersedia, masing-masing mencari tempat. Tanpa banyak bicara, makanan disantap dan selesai. Untuk urusan makan, saya jarang menggunakan sendok, lebih nikmat kalau makan langsung menggunakan tangan.

Setelah permisi dan pamit kepada seluruh staf KC Samalantan dan Manejer, sekitar pukul 20.00 kami melanjutkan perjalanan ke Kota Singkawang. Pak Didi masih setia bertindak sebagai driver kami. Perjalanan berjalan lancar, jalan sudah beraspal.

Kalau mengingat Kota Singkawang, saya selalu mengingat nama San Keuw Jong. Berikut saya kutip dari Wikipedia tentang kota Singkawang.

Kota Singkawang atau San Keuw Jong (Hanzi: 山口洋 hanyu pinyin: Shānkǒu Yáng) adalah sebuah kota(kotamadya) di Kalimantan Barat, Indonesia. Kota ini terletak sekitar 145 km sebelah utara dari Kota Pontianak, ibukota provinsi Kalimantan Barat, dan dikelilingi oleh pegunungan Pasi, Poteng, dan Sakok. Nama Singkawang berasal dari bahasa Hakka, San khew jong yang mengacu pada sebuah kota di bukit dekat laut dan estuari.(https://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Singkawang)

Kami memasuki kota Singkawang pukul 21.00. Kota Singkawang masih tetap hidup, aktivitas warga masih ramai. Apalagi Kota Singkawang sebagai destinasi pariwisata, tentu banyak wisatawan baik lokal maupun luar yang berkunjung. Kami langsung mencari hotel untuk menginap. Pak Simon yang memilih hotel tempat menginap dan melepas lelah mala mini, karena beliau sudah pernah bertugas di KC Singkawang. Hotel yang dipilih adalah Hotel Sentosa, berada di tengah kota dan dekat dengan Masjid Raya Singkawang.

Setiba di hotel kami pesan dua kamar, saya sekamar dengan Pak Didi dan meminta kamar dengan double bed. Pak Simon mendapat kamar sendiri. Saya dan Pak Didi berbincang dan sepakat untuk menikmati sejenak Kota Singkawang malam ini, Pak Simon juga setuju akan hal ini.

Setelah mandi kami bertiga keluar, tujuan kami Pasar Hongkong. Kami memang ingin menikmati Singkawang di waktu malam, sekaligus ingin menikmati wisata kulinernya. Setelah mencari kira-kira mana warung yang cocok, kami menemukan satu warung di pojokan jalan. Pak Didi memesan tiga porsi bubur B2 dan minuman. Kalau malam di Pasar Hongkong ini memang dipenuhi oleh pedagang makanan.

Hampir satu jam kami menikmati Pasar Hongkong dan kulinernya, akhirnya kami kalah juga dengan rasa kantuk. Kembali ke hotel dan kami akhirnya berlabuh di peraduan, esok hari tugas sudah menanti.

Pukul 04.30 tanggal 20 April 2016 saya sudah terbangun. Entah kenapa, seharusnya saya masih terlelap. Tetapi mata ini tidak mau lagi tidur. Ah, daripada melamun, saya membuka laptop dan mulai menulis. Kisah inilah yang saya tulis, perjalanan sehari sebelumnya sampai tiba di Kota Singkawang.

Satu jam kemudian saya tidak memiliki ide lagi. Pak Didi terbangun, mungkin agak tertanggu tidurnya oleh aktivitas saya, tetapi beliau tidak protes, kalaupun protes mungkin di dalam hati, ha ha ha. Saya duluan mandi, setelahnya baru Pak Didi. Pukul 08.00 kami sudah siap dan sudah berpakaian rapi. Pak Simon yang dihubungi melalui HP juga sudah siap katanya. Dan kami sepakat untuk mencari sarapan terlebih dahulu.

Tidak sulit mencari tempat sarapan di Kota Singkawang. Kami singgah di salah satu warung yang menyediakan menu mie. Mie kuah, di temani teh hangat, oh iya pak Didi minumannya berbeda, beliau pesan lemon tea katanya. Warungnya cukup ramai, walaupun tidak begitu luas, hanya satu meja saja yang tersisa.

Tidak lama kami sarapan, mungkin hanya sekitar 45 menit. Setelah Pak Simon mengurusi pembayarannya, kami meluncur menuju Kantor CU Lantang Tipo KC Singkawang. Neon Box dengan warna khas hijau menyambut kami. Segera Pak Simon memarkir mobil, dan kami masuk. Secuity dengan sigap menyambut kami. Sudah ada beberapa anggota tampaknya yang sedang dilayani oleh kasir.

KC Singkawang ini dipimpin oleh Ibu Yona. Staf yang bertugas di KC Singkawang ini ada lima orang, yaitu Gerardus Setiadi (Dudus), Rudi Kurniawan (Aseng), Kristianus Eko, Sophia (Meling), dan Oskar, maaf kalau saya tidak tahu dan kurang lengkap dalam menulis nama masing-masing staf.

Bu Yona rupanya masih sibuk, karena staf yang mengelola perkreditan masih cuti menikah, yaitu Aseng, Bu Yona mesti meng-handle pekerjaannya. Tetapi kami sudah dipersilahkan untuk menggunakan ruangan Manajer di lantai dua. Gedung Kantor KC Singkawang juga berbentuk ruko tiga lantai, tetapi sudah mengalami renovasi dan didesain seperti layaknya kantor. Penataan ruangannya juga sudah rapi bagus. Di ruang Manajer juga sudah tersedia kursi tamu, di sanalah kami bertiga akan melakukan tugas monitoring hari ini.

Seperti di Kantor Cabang sebelumnya, kami akan melakukan supervisi sesuai bidang masing-masing. Tetapi kami juga akan melakukan motivasi kepada staf, dengan cara memanggilnya satu persatu secara bergiliran. Sampai saatnya istirahat siang kami selesai juga melakukan tugas ini.  Semua staf sudah dipanggil semua, data-data yang diperlukan juga sudah kami dapatkan. Ah, perutpun sudah lapar. Kami sepakat mencari makan siang sendiri, walaupun Bu Yona menawarkan akan membeli makan siang.

Karena tugas sudah selesai, sesudah makan siang kami tidak langsung kembali ke Kantor. Kami mau mencari oleh-oleh terlebih dahulu. Oleh-oleh makanan khas Singkawang cukup banyak pilihannya. Mulai dari kue, olahan hasil laut, kopi, dan buah-buahan. Kami menuju Pasar Kuala, tujuan kami mencari oleh-oleh olahan hasil laut.

Saya sendiri sudah merencanakan mencari ikan teri, udang ebi, kopi dan cumi kering. Saya dan Pak Simon masuk toko yang sama, sedangkan Pak Didi masuk toko yang berbeda. Saya dan Pak Simon satu tipe dalam berbelanja, tidak mau ribet, cepat dan tanpa banyak menawar. Sehingga waktu yang kami butuhkan untuk berbelanja kurang lebih 30 menit selesai.

Pasar Kuala, Singkawang

Kami kembali ke mobil, memasukan barang belajaan, dan melihat Pak Didi masih berbelanja. Kami memutuskan untuk menunggu di dalam mobil, mobil dihidupkan dan AC-nya dinyalakan untuk mendinginkan suhu di dalam mobil. Pak Didi masih berbelanja, kami tidak tahu apakah memang belanjaannya banyak, atau memang Pak Didi kalau berbelanja banyak menawarnya atau yang lain.

Saya dan Pak Simon bergurau, Pak Didi kalau mau membeli ikan teri, mesti tahu dulu ikan terinya di tangkap di laut mana, di laut pesisir atau laut dalam. Menangkapnya menggunakan alat apa, dijemurnya di mana, diberi pengawet atau tidak, bedanya dengan ikan teri disebelah apa, ah ribet. Hampir 30 menit lagi kami harus menunggu, total sekitar satu jam kami di Pasar Kuala Singkawang.

Kembali ke Kantor KC Singkawang, kami masih meneruskan pekerjaan. Kami masih melakukan pemanggilan terhadap staf, menggali informasi yang diperlukan. Terkahir kami berdiskusi dengan Bu Yona, menyampaikan hasil monitoring, memberi saran dan masukan. Kami juga meminta Bu Yona untuk menyampaikan persoalan, atau informasi lain yang seharusnya kami ketahui, sehingga dapat diberikan saran untuk perbaikan.

Sekitar pukul 17.00 kami berkemas, pamit dan mulai bergerak pulang. Kami pulang melewati rute yang sama seperti saat datang. Menyusuri jalan Singkawang-Samalantan-Bengkayang-Darit-Simpang Sidas-Ngabang-Sosok dan akhirnya Bodok. Demikian satu episode perjalanan, awal dari perjalanan lainnya.

Related posts

Tinggalkan Balasan