Natal dan Fatwa MUI

Hore, Natal tahun ini akhirnya jadi juga. Memangnya ada pembatalan? Ah tidak, cuma kabarnya atribut natal diharamkan tuh digunakan oleh muslim. Diharamkan oleh siapa ya, ya oleh MUI lah. Tetapi kan pemasangan atribut natal oleh orang Kristen tidak diharamkan ya? Ya tidak. Artinya di mall di toko-toko, di kantor-kantor dan di rumah-rumah orang Kristen boleh dong? Ya boleh.

Walaupun karyawan mall, karyawan toko, karyawan kantor dan mungkin asisten rumah tangganya ada yang muslim? Ya tidak apa-apa, kan yang diharamkan itu digunakan, di-PAKAI. Ooooh, ya ya ya.

Masih ada nih Om Koput Koput, kemarin waktu di mall, itu mbak-mabak yang pake jilbab foto-foto dekat pohon natal, haram gak ya? Ya tidak, kan foto, tidak digunakan, tidak dipakai, ngerti? Oh ya ya ya. Ada lagi ni Om Koput Koput, kemarin saya belanja hiasan natal, beli lampu natal yang kelap kelip, beli buah pohon natal, beli tulisan Merry Christmas, beli patung hiasan pohon natal. Pemilik tokonya sih kayaknya Pak Alao, kelihatan lho dari mukanya, tetapi yang melayaninya, atau pramuniaganya mbak-mbak pake jilbab, dan tidak pake atribut natal, haram gak ya om. Ya, mana om tahu, memangnya om lembaga fatwa, hadew.

Om, kemarin di media online ada tuh muslim yang tergerak hatinya membantu membuat hiasan natal, haram gak ya? Ya gak tahu, bisa jadi itu untuk alasan kemanusiaan, bisa jadi juga dia membantu saudaranya yang kebetulan iman dan kepercayaannya berbeda.

Om, kalau dari sudut pandang iman om, bagaimana dengan fatwa ini. Begini, om ini Katolik, iman om ini Iman Katolik. Dalam Iman om, tidak ada pengaruhnya tuh fatwa MUI terhadap iman om. Fatwa tersebut tidak akan menguragi kadar keimanan om, malahan iman om semakin diteguhkan. Iman om semakin dikuatkan, ingat tanpa hiasan natal dan pohon natal, om juga masih Katolik.

Intinya bukan hiasan atau pohon natalnya, tetapi makna natalnya yang penting bagi om.

Justru menurut om, yang melarang dan mengeluarkan ftawa, apalagi mayoritas itu yang takut. Om sih nothing to lose saja, justru om bangga, kecil dan sedikit ditakuti, artinya secara kualitas om unggul dong.

Om, apa om tidak ingin membela agama om dengan adanya fatwa ini? Ogah ah, agama tidak untuk dibela-bela, ngapain. Om cukup hidup menurut iman dan kepercayaan om saja itu sudah berarti. Malahan menurut om, dengan keluarnya fatwa ini, semakin menguatkan bahwa yang disembah itu Tuhan, Allah Yang Maha Kuasa. Bukan pohon natalnya, bukan lonceng natalnya, bukan sinterklasnya, bukan lampu natalnya. Artinya tanpa hiasan natalpun, om tetap memiliki Iman Katolik.

Wah, terimakasih banyak ya om, ini suatu pencerahan bagi saya. Saya tidak perlu lagi menghiraukan fatwa dan larangan lainnya. Yang saya tahu untuk menjaga kekebasan beragama menjadi tugas pemerintah. Ngomong-ngomong om, selamat natal ya. Eh, tunggu dulu, ini baru tanggal 20 Desember tahu, natalnya kan tanggal 25 Desember, itu pun kalau tidak ada halangan. Jangan lupa tema natalnya “HARI INI TELAH LAHIR BAGIMU JURUSELAMAT, YAITU KRISTUS, TUHAN DI KOTA DAUD” (Lukas 2:11). Oh iya, maaf om.

Pusat Damai, 20 Desember 2016

Related posts

Tinggalkan Balasan