Nilai Kemanusiaan Dari Sidang Pertama Ko Ahok

Persidangan pertama sudah dijalani Ko Ahok. Pasti banyak tanggapan, baik dari yang pro maupun kontra. Eksepsi yang kau bacakan pun pasti mendapat tanggapan beragam. Yang pasti bagi musuh-musuhmu, air mata dan raut wajah kesedihan yang terpancar dari wajah CINA-mu sangat memuakkan bagi mereka (sumber). Tanpa perlu membaca komentar di Medsos pun, saya pasti tahu apa saja komentar mereka. Air mata buayalah, pemain sinetronlah, dan sebagainya dan sebagainya.

Aku tahu pasti, Ko Ahok sangat tidak rela disebut menghina, apalagi menistakan agama Islam. Sudah kau jelaskan mengapa dan apa sebabnya. Keluarga angkatmu, yang ternyata juga turut membiayai kuliah S-2 mu, tak mungkin engkau hina. Bukti dukungan yang meraka berikan, terutama kakak-kakak angkatmu membuktikan hal itu. Apakah keluarga angkatmu agamanya kurang taat, sehingga mereka membelamu? Entahlah, hanya pikiran picik, manipulatif, syarat kepentingan yang beranggapan begitu. Yang jelas mereka tidak tahu nilai-nilai kemanusiaan yang kau bangun dengan memberikan contoh nyata bagaimana membangun ikatan persaudaraan keluarga angkatmu yang berbeda agama.

Ada lagi anggota dhewan, yang tidak tahu perbedaan UPS dan USB menganggap dirimu berakting saat membacakan nota pembelaan itu (Sumber). Ah ni orang sok suci dan norak habis, sampai heran saya orang seperti ini bisa menjadi anggota dhewan yang terhormat.

Tetapi tidak apalah, setidaknya Ko Ahok tidak menghindari persidangan, tidak takut pengadilan. Berbedakan dengan si Buni, yang malah mengajukan praperadilan, walaupun itu memang haknya. Dan yakinlah permasalahan ini hanyalah permasalahan POLITIK, yang dibungkus dengan dalil-dalil yang tampak dan seolah-olah tidak bisa dibantah dan seperti tidak boleh dibantah.

Benar katamu Ko Ahok, bahwa banyak orang, tokoh, calon-calon yang tidak berani bersaing secara fair dengan mu. Sehingga berbagai cara, berbagai intrik dilakukan untuk menjegalmu. Itulah kondisinya, masih seperti itu, dan yang pasti akan mendapat dukungan dari orang-orang dan mantan tokoh yang koruptif. Orang-orang yang tidak rela sumber fulusnya yang tak ternilai diganggu, dipertanyakan dan diusili.

Akhirnya, kamu, Ko Ahok dan kasus yang sudah disidangkan ini akan menjadi ujian bagi peradilan, hukum dan keadilan. Hukum negaralah yang akan bicara melalui perangkat penegak hukumnya, bukan hukum agama, dan nyatanya, kasus ini tidak disidangkan menurut tatacara hukum agama tertentu, ingat negara ini masih negara hukum yang berlandaskan UUD 45 dan Pancasila, masih negara dan bukan negara agama.

Demikianlah cacatan ini ditulis demi nilai-nilai kemanusiaan yang universal.

Pusat Damai, 13 Desember 2016

Related posts

Tinggalkan Balasan