Ntowa, Buah Hutan Yang Mulai Langka

Tahun ini, di awal tahun, terutama sepanjang Januari sampai Februari, seharusnya mudah untuk mendapatkan orang-orang yang menjual buah ntowa dengan harga terjangkauTetapi kenyataannya sungguh menyakitkan hati terutama menyakitkan kantong mendengar harganya satu buah minimal Rp 25.000.

Setiap minggu pagi di bulan Januari-Februari, saat belanja di pasar kaget, saya hanya bisa melirik tajam ke arah buahntowa yang dijajakan. Kalau dipaksakan sedikit sebenarnya bisa membeli, tapi rasanya tidak pantas harga segitu cuma dapat satu. Saya tidak menyalahkan yang menjual, mereka juga pasti dapat harganya memang sudah mahal.

Foto : Ntowa Mosak (Sumber)

Dibandingkan tahun lalu, jumlah dan jenis buah-buahan hutan lebih sedikit. Wajar harganya mahal, permintaan banyak, barangnya sedikit, atau dibalik, barangnya sedikit, yang minat banyak, harga naik deh.  Termasuk buahntowa. Tahun lalu yang menjual buah ntowa cukup banyak. Bahkan masih ada yang menjajakannya dari rumah ke rumah menggunakan sepeda motor.

Tahun lalu, 2016 bulan Januari-Februari saya lumayan sering bolak-balik Pontianak. Di Sosok banyak yang jual buah ntowa. Harganya terjangkau, bahkan masih bisa mendapatkan harga Rp 7.000 satu buah. Begitu juga di daerah Batang Tarang, banyak penjual buah-buahan hutan juga menjual buah ntowa.

Foto: Ngudap Ntowa Tahun 2016

Tahun lalu saya masih beruntung saya masih sering menikmati gurihnya buah ntowa. Buah ntowa yang sudah tua menjadi favorit saya, saya kurang suka yang masak karena rasanya manis. Kalau yang masih tua rasanya unik, gurih, rasa khas. Pokoknya rasanya seperti rasa buah ntowa, hehe.

Awal tahun 2017 ini saya kurang beruntung, buah favorit saya tidak banyak berbuah. Saya tanya ibu yang menjual dari mana asalnya buah ntowa yang dijualnya, dia mengatakan dari Ngabang ada juga dari Pahuaman. Pantasan mahal, buah ntowa-nya harus naik mobil dulu ke Bodok dan harus membayar ongkos mobilnya.

Berkurangnya kawasan hutan dan tembawang juga ikut mempengaruhi jumlah pohon ntowa. Pembukaan lahan untuk perkebunan dan untuk kebutuhan lainnya merupakan penyebab utama. Saya menyakini pohon ntowa yang tersisa hanya berada di kebun-kebun karet lokal yang masih dipertahankan. Mungkin juga masih sedikit di tembawang-tembawang yang tersisa.

Kalau sudah begini, sampai kapan saya masih menikmati buah ntowa? Tahun depan?, tahun depannya lagi? atau berapa tahun lagi? Entahlah

Pusat Damai, 28 Februari 2017

Related posts

Tinggalkan Balasan