Perbedaan Yang Menyatukan

 

Latar belakang pendidikan, khususnya sekolah-sekolah tempat saya menuntut ilmu mempengaruhi cara pandang saya terhadap perbedaan. Sekolah Dasar saya tempuh enam tahun, pas enam tahun di SDN Nomor 04 Seribot di kampung halaman saya. Sebuah sekolah negeri, artinya sekolah yang menerima murid atau siswa dari berbagai kalangan, agama, suku, kaya, miskin,semuanya.

Sekolah Menengah Pertama atau SMP saya tempuh di sebuah sekolah swasta Katolik. SMP Yos Sudarso di Pusat Damai. Mayoritas siswanya beragama Katolik, tetapi ada juga yang beragama lain. Pendidikan dengan nilai-nilai Katolik diterapkan di sekolah ini.

Selanjutnya Sekolah Menengah Atas atau SMA saya tempuh di SMA Negeri 1 Sanggau. Sekolah Negeri di Ibu Kota Kabupaten Sanggau. Sekolah favorit pada masa itu, yaitu tahun 1990. Mengapa saya memilih sekolah negeri? Ada satu cerita dibalik keputusan saya memilih SMA negeri.

Seperti saya katakan sebelumnya, SMP Yos Sudarso adalah sekolah Katolik. Saya mondok di asrama, yang juga berciri Katolik. Pembinaan iman dan rohani kami dikontrol oleh seorang Pastor. Pastor yang bertugas di Paroki Pusat Damai. Seorang Pastor Kapusin berkebangsaan Swiss, yaitu Pastor Fritz  Budmiger, OFM Cap, yang biasa kami panggil Fater, atau kadang kami panggil Abae.

Fater Fritz kami hormati layaknya orang tua kami, maka tidak salah kalau begitu lulus saya menanyakan dan minta pendapat beliau ke mana saya harus melanjutkan sekolah. Beliau bertanya, kamu mau kemana? Saya memikirkan kota Sanggau, dan saya menyebutkan dua sekolah.

Saya sebutkan saja, SMA Don Bosco dan SMA Negeri 1 Sanggau. Dan saya terkejut, beliau lebih merekomendasikan sekolah negeri, yaitu SMA Negeri 1 Sanggau. Saya tidak mengerti alasannya, bahkan sampai saat ini. Satu hal yang saya pelajari, rekomendasinya itulah kelak yang membuat saya mengerti arti saling menghormati dalam perbedaan.

Tahun 1990 kami lulus SMP, dan teman-teman banyak membincangkan akan melanjutkan ke sekolah-sekolah Katolik. Pilihan yang saya ingat yaitu SMA Don Bosco Sanggau, atau persekolahan Katolik di Nyarungkop Singkawang. Mengapa saya lebih memilih sekolah negeri? Pertama saya ingin merasakan suasana yang berbeda, dan kedua saya didukung oleh orang yang saya hormati, yaitu Fater Fritz.

Di sekolah inilah saya merasakan suasana yang benar-benar berbeda. Sebuah sekolah di Ibu Kota Kabupaten. Jika sebelumnya saya merasakan keseragaman dalam hal iman dan kepercayaan Di sekolah ini saya merasakan komposisi yang berbeda dalam hal agama. Walaupun saya tidak tahu persis, teman yang beragama Islam lebih banyak, terutama kawan-kawan dari suku Melayu.

Saat itulah saya belajar yang namanya toleransi, kalau itulah istilahnya. Yang pasti saya harus menghormati teman yang berbeda keyakinan. Contoh sederhana, ketika mereka melaksanakan sholat waktu istirahat siang, kami yang tidak sholat tanpa diperintah tidak akan ribut. Di sekolah ini jugalah saya belajar bahasa Melayu Sanggau, dan sangat berguna dalam pekerjaan saya kelak.

Di masa SMA inilah saya memiliki seorang teman, seorang muslim taat. Namanya Budi, saya yakin orang tuanya dan saudara-saudaranya tahu saya bukan muslim, tetapi saya selalu diterima dengan baik di rumah itu. Makan dan minum, menonton film-film favorit dan belajar. Bahkan saat saya ulang tahun, Budi memberikan saya sebuah kuali, karena dia tahu saya memasak sayur meminjam kuali teman kost. Apakah ini namanya pertemanan tulus tanpa melihat sekat-sekat keyakinan? simpulkan sendiri.

Salah satu pelajaran tersulit di SMA bagi saya adalah pelajaran Bahasa Arab. Sungguh, menulis satu kata saja saya kesulitan. Siapakah yang bisa menolong saya. Budi lah yang dengan ketekunannya membantu saya memahami dan mengerti sedikit tulisan arab, sehingga saya bisa mendapat nilai enam. Satu hal, Budi tidak pernah sama sekali mempengaruhi saya soal keyakinannya, begitu juga sebaliknya. Apakah ini yang disebut perbedaan yang menyatukan? simpulkan sendiri.

Saat menempuh pendidikan di perguruan tinggi, saya juga memiliki pengalaman yang tidak pernah saya lupakan. Saya kuliah di Fakultas Ekonomi Untan Pontianak (sekarang Fakultas Ekonomi dan Bisnis), angkatan 1993. Pada awal kuliah saya menumpang di kost teman satu kampung di Gang Menteng, alias Gang Mendawai Tengah di jalan Imam Bonjol.

Sekitar dua atau tiga bulan, saya mencari kamar kontrakan. Karena cukup mahal bagi saya, saya mencari teman satu angkatan untuk sepakat mengontrak satu kamar untuk berdua. Dan bertemulah teman senasib, yang merasa biaya kontrakan kamar mahal. Seorang teman Batak, namanya Perwira Harahap, anak seorang petani kentang, merantau ke Pontianak untuk menuntut ilmu.

Dari awal kami sudah tahu kami berbeda agama, saya Katolik dan Wira Islam. Berbagi kamar, teman yang baru kenal, berbeda keyakinan, berbeda adat dan budaya, tidak menghalangi kami untuk saling menghargai perbedaan keyakinan. Pemandangan biasa bagi saya untuk melihat dia melaksanakan sholat di kamar. Bukan masalah bagi Wira untuk menunaikan ibadahnya dengan khusuk, walau saya ada di kamar.

Setiap minggu pagi, dengan gaya khas Bataknya Wira selalu mengingatkan saya untuk pergi beribadah di gereja. “Bangun oi, sana ke gereja”. Dari Wira lah saya belajar berbagi dalam situasi kekurangan. Kentang satu karung kiriman orang tuannya menjadi penyambung hidup yang kami syukuri. Menjadi lawan main caturnya, walaupun untuk itu dia harus mengajari saya. Perwira Harahap yang memiliki motto “gelombang besar menciptakan pelaut yang tangguh”, tanpa sadar mengajariku nilai-nilai kehidupan  tanpa melihat perbedaan keyakinan di antara kami.

Ada lagi cerita pergaulan di kampus dan di luar kampus. Teman seangkatan kami namanya Sami, muslim dan memiliki fisik khas timur tengah. Di waktu senggangnya menjaga kios pakaian muslim milik pamannya di Pasar Sudirman. Sering saya dan Lindarno kunjungi. Oh ya, Lindarno ini teman satu SMA bersuku Cina. Tujuan kami hanya ingin mendengar lagu-lagu Queen dari koleksi kaset milik Sami sambil menikmati segelas teh es sebagai kompensasi ikut menjaga kios pakaiannya.

Pergaulan yang tidak mengenal batas-batas atau sekat-sekat keyakinan terasa lebih indah dan bervariasi. Tidak hanya bergaul dengan teman satu keyakinan, lebih memperkaya pengalaman. Menumbuhkan sikap saling menghargai, menghormati dan bertoleransi. Kalaulah itu perwujudan dan praktek nyata dari Bhineka Tunggal Ika, saya sangat bersyukur bisa mengalami dan menikmati pengalaman itu.

Akhir-akhir ini, melihat, membaca, menonton pertunjukan-pertunjukan sikap dari kaum yang menyebut dirinya kaum beriman, alim, dan merasa berhak mengkafirkan orang di luar kaumnya sungguh menciderai semangat Bhineka Tunggal Ika. Mereka dengan dalil-dalil yang menurut mereka tidak terbantahkan tanpa sadar menyeret mereka ke lembah kenistaan dan semakin menghitamkan hati nurani mereka.

Ah, sudahlah untuk apa saya menasihati mereka. Toh bagi kaum ini di luar otak mereka tidak ada kebenaran dan kebaikan. Lebih baik saya menyebarkan semangat kebersamaan, karena saya hidup di dalam perbedaan yang indah dan saya bersyukur saya pernah mengalaminya.

Pusat Damai, 25 Oktober 2016

Related posts

Tinggalkan Balasan