Perilaku Berkendara Cerminan Watak dan Moral Masyarakat atau Bangsa ?

Tulisan ini saya mulai dengan pertanyaan “ Benarkah Perilaku Berkendara di Jalan Raya Mencerminkan Watak dan Moral Suatu Masyarakat  atau Bangsa”.

Menurut kamus Bahasa Indonesia perilaku adalah tanggapan atau reaksi individu terhadap rangsangan atau lingkungan (http://kbbi.web.id/perilaku). Watak adalah sifat batin manusia yang mempengaruhi segenap pikiran dan tingkah laku; budi pekerti; tabiat: (http://kbbi.web.id/watak). Dan moral adalah (ajaran tentang) baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, dan sebagainya; akhlak; budi pekerti; susila.

Jadi kalau dihubungkan dengan pertanyaan di atas, maka dapat dibuat pertanyaan baru sebagai berikut “ Benarkah perilaku berkendara di jalan raya mencerminkan sifat batin manusia yang mempengaruhi tingkah laku, budi pekerti, tabiat dan baik buruknya perbuatan, sikap, akhlak, budi pekerti masyarakat atau bangsa?”. Pertanyaan yang panjang. Dan untuk menjawabnya diperlukan penelitian, yang bisa menjadi skripsi/tesis atau disertasi.

Saya tidak akan menjawab pertanyaan di atas. Pertanyaan ini hanya refleksi. Justru saya akan menceritakan pengalaman pribadi, cerita dari teman, dan cerita dari sumber lain. Cerita ini berkaitan dengan perilaku, tingkah laku dan tabiat berkendara di jalan raya.

Cerita pertama, pengalaman pribadi. Bulan Februari 2016, saya dan tiga orang teman lagi “OTW” ke Pontianak. Setelah mengisi BBM mobil, teman meminta saya untuk membawa atau menyopiri mobil. Di dalam mobil, kami asyik mengobrol, termasuk saya. Mungkin terbawa suasana, setelah melewati Warung Simpang Lait (Kimleng), saya menekan gas terus. Sesampainya di awal tikungan dekat biara Pasionis gas masih terus saya injak, saya baru sadar ada tikungan setelah melihat ada truck datang dari arah berlawanan dan menanjak. Rem dan kopling langsung saya injak, stir saya pertahankan menikung ke kiri, dan roda belakang berdecit. Klakson dari truck tidak saya hiraukan lagi. Selamat, ya selamat, tetapi HAMPIR. Pelajarannya, menyopiri mobil harus konsentrasi dan fokus.

Cerita kedua, cerita teman. Teman membawa keluarga menggunakan mobil. Anak tertua laki-laki kira-kira berumur 5 tahun. Menjelang lampu merah, lampu masih berwarna hijau, kemudian berubah kuning. Spontan anak tersebut berteriak: “ pak cepat-cepat, tuh lampunya udah kuning!”. Tetapi teman saya ini tetap menekan kopling dan menginjak rem dan berhenti tepat ketika lampu merah. Pelajarannya adalah, mindset dikebanyakan pengguna kendaraan, lampu kuning berarti harus cepat-cepat dan tancap gas. Padahal menurut UU no. 22/2009 tentang Lalu lintas dan Angkutan Jalan: alat pemberi isyarat lalu lintas atau APILL,lampu kuning adalah peringatan untuk berhati-hati (https://id.wikipedia.org/wiki/Lampu_lalu_lintas).

Setiap ke Pontianak, baik untuk urusan pribadi maupun untuk urusan kantor. Saya hampir pasti melewati perempatan sebelum Jembatan Kapuas I, dari arah Siantan. Ada Traffic Lights, oh ya di situ juga ada Pos Polisi. Tetapi menurut saya justru di Traffic Lights tersebut banyak penyerobotan lampu merah. Pelakunya (maaf) kebanyakan pengendara sepeda motor. Rata-rata dari arah RS Yasri, Gerbang Keraton dan dari arah Siantan. Permasalahannya adalah ketika lampu hijau menyala, fokus pengendara yang boleh jalan hanya ke depan dan samping kiri kendaraan. Yang menerobos lampu merah biasanya dari arah kanan. Dan saya tidak tahu apakah pengendara tersebut dari wilayah di sekitar tersebut, atau dari wilayah lain. Sekali lagi apakah perilaku ini mencerminkan watak dan moral masyarakat kita?

Pengalaman selama mengendarai kendaraan, baik sepeda motor maupun mobil. Karena alasan mengejar waktu, banyak pengendara mengabaikan aturan, sopan santun, dan terutama keamanan berlau lintas. Saya pernah mengunjungi Malaysia, tepatnya Kuching. Di sana hampir tidak ada bunyi klakson. Hampir tidak ada kendaraan yang ngotot mau mendahului. Mungkin juga hal ini disebabkan karena di sana jalannya lebar, jumlah pengendara sepeda motor lebih sedikit, rambu lalu lintasnya lengkap. Tetapi intinya menurut saya adalah ketaatan dan kedisiplinan berlalu lintas menjadi jawabannya. Padahal di sana jarang kita melihat polisi berjaga-jaga di jalan raya.

Siapapun akan mengambil kesimpulan, di sana masyarakatnya lebih disiplin, lebih taat aturan, tahu aturan. Saya terpaksa mengambil kesimpulan ini, karena memang sudah merasakan dan melihat perbedaannya.

Jadi kembali lagi ke pertanyaan “Benarkah Perilaku Berkendara di Jalan Raya Mencerminkan Watak dan Moral Suatu Masyarakat  atau Bangsa?”. Saya kembalikan kepada kita semua untuk menilainya. Ini hanya opini pribadi, pemikiran sendiri. Silakan dikomentari dan ambil kesimpulan sendiri.

Related posts

Tinggalkan Balasan