Salam Budaya! (budaya apa?)

Kata Kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta, Budhayah, yaitu bentuk jamak dari budhi yang berarti budi atau akal.

Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. (http://historikultur.blogspot.co.id/2015/02/pengertian-budaya-dan-kebudayaan.html).

Pengertian budaya di atas begitu luas dan rumit. Saya tidak akan membahasnya secara keseluruhan. Kali ini saya akan membahas sedikit mengenai model atau bentuk pakaian, khususnya pakaian adat dayak. Seperti kita ketahui, suku atau bangsa dayak ini mendiami pulau Kalimantan atau juga dikenal sebagai pulau Borneo.

Model atau bentuk pakaian adat ini penting, Pakaian adat menunjukan identitas, memiliki arti dan kadang-kadang menunjukan status penggunanya dalam struktur adat atau komunitas.

Akhir-akhir ini, bagi kita yang berdomisili di Kabupaten Sanggau dan Kabupaten Landak, dan daerah lainnya di Kalimantan Barat.

Kita disuguhi dengan lahirnya lagu-lagu yang dikatakan bernuansa dayak atau ada yang menyebutnya lagu daerah. Dalam video klip-nya kita banyak menjumpai artis penyanyi dan pendukungnya menggunakan pakaian adat dayak (katanya). Pakaian dengan berbagai atribut, biasanya didominasi warna merah, hitam dan kuning.

Yang cukup membuat risau sebagaian kalangan adalah penggunaan atribut yang berlebihan. Saya yang termasuk risau. Meskipun ditambah embel-embel pakaian adat dayak kreasi, tetap saja menurut saya hal ini mengaburkan makna dan arti pakaian bagi kaum dayak. Beberapa atribut yang membuat saya risau, juga beberapa orang adalah penggunaan tengkorak kera dan penggunaan bulu burung yang berlebihan.

Kesannya hanya ingin membuat meriah, lebih cocok untuk pakaian karnaval, tanpa makna dan tidak memiliki nilai magis khas dayak. Tanpa mengurangi rasa hormat atas kreativitas pembuatnya, saya kuatir pakaian model begini akan diyakini oleh generasi muda, anak-anak kita sebagai pakaian adat dayak yang diwariskan oleh tetua kita.

Tetapi tidak adil juga kalau saya hanya bisa menyampaikan kritik, saya mempunyai beberapa usulan solusi dan pemikiran.

Pertama

Kesadaran akan warisan budaya yang diwujudkan dan divisualisasikan dalam bentuk lagu dan khususnya pakaian adat dayak yang saya sebut masih pakaian festival patut juga diapreasiasi. Artinya, ada upaya untuk melestasrikan salah satu budaya dayak.

Kedua

Peran pemerintah melalui instansi terkait, misalnya Dinas Pariwisata dan Kebudayaan. Sudah menjadi tugas dan tanggungjawab perintah melalui instansi terkait untuk melestasikan budaya bangsa, itupun kalau suku dayak dianggap sebagai salah satu suku bangsa Indonesia. Pemerintah memiliki dana, yang bisa digunakan untuk melakukan riset. Libatkan Universitas, Akademisi dan panggil ahli sejarah, untuk meneliti dan melakukan riset pakaian adat masing-masing suku dayak.

Ketiga

Peran DAD diberbagai tingkatan atau level. DAD seharusnya sebagai pengawal budaya dayak yang paling depan. DAD bisa berperan sebagai lembaga yang memberikan masukan dan usulan kepada penerintah. Kenyataannya, banyak orang-orang penting yang menjabat di DAD. Tentu bukan pekerjaan sulit bagi DAD untuk mempengaruhi kebijakan penerintah di level daerah untuk melestraikan adat dan budaya dayak.

Keempat

Kita masing-masing yang merasa orang dayak. Mulailah dari lingkungan keluarga, memperkenalkan budaya dayak yang benar kepada anak-anak. Mulai juga membuat dokumentasi baik melalui hasil foto dan tulisan mengenai budaya dayak. Sehingga diharapkan budaya dayak tidak hanya diwariskan melalui budaya tutur, tetapi juga melalui tulisan dan dokumentasi lain yang lebih abadi.

Demikian tulisan sederhana ini saya sampaikan, mewakili keresahan dan kegalauan saya. Sekaligus juga harapan saya atas lestasinya budaya dayak di bumi Borneo tercinta. Jangan mau budaya kita dihilangkan, dibelokkan, dikekang dan dikebiri. Budaya adalah identitas kita orang dayak.

Salam budaya yang lestari.

Related posts

Tinggalkan Balasan