Teruslah Melakukan Pencitraan Pak Jokowi!

Saya beritahu satu RAHASIA BESAR dari diri saya. Catat, dalam Pilpres edisi 2014 yang lalu saya pilih Jokowi-JK. Sesuai slogan  pemilu yang saya tahu, yaitu LUBER, R-nya rahasia saya buka. Cukup dua tahun saya memegang rahasia ini, sungguh saya tidak sanggup lagi menjaga rahasia ini seorang diri. Ada Aq*a?

Tepat pada hari Kamis, tanggal 20 Oktober 2016, sudah dua tahun Pak Jokowi menjadi Presiden Republik Indonesia, sudah dua tahun di mobil dinas bapak tercantol plat nomor kendaraan RI 1.

Saya banyak baca di media online, maaf pak saya sudah lama tidak langganan koran kertas. Bukan saya tidak setuju ada pabrik kertas, saya masih kok membeli buku tulis untuk anak-anak saya, lho kok ngelantur sih pak saya. Saya juga banyak dengar dan melihat berita di televisi, baik milik lawan politik bapak, maupun milik kawan politik bapak, membincangkan raport pemerintahan Bapak, padahalkan bapak sudah selesai sekolahnya, hehe.

Saya mencatat pak, sebagai Warga Negara Indonesia disingkat WNI lho pak. Bahwa lawan-lawan politik bapak saat Pilpres sampai saat ini secara konsisten terus menerus melontarkan kritik. Bahkan kebijakan yang bapak ambil tidak pernah benar di mata mereka, saya tidak tahu mata apa yang mereka gunakan, mata sapi, mata ayam, mata onta barangkali.

Banyak yang bilang mereka lambat bahkan belum move on, ingin cepat-cepat Pilpres lagi. Bahkan yang sadis pak, isunya ni, di ruangan kantor mereka gambar presiden dan wakilnya bukan foto bapak dan Pak JK lho pak, ih ngeri. Menurut penerawangan Cak Koput Koput mereka memajang foto drakula, seram kan pak. Bapak pasti tidak kenal siapa Cak Koput Koput.

Padahalkan Pilpres masih tiga tahun lagi kan pak. Mungkin tiga tahun, bagi mereka tiga puluh tahun pak ya? Kalau saya tiga tahun malah terasa singkat pak, maunya saya disambung saja lagi, asal bapak janji tidak buat album, apalagi kalau produsernya Ahmit Dongok, ups.

Hanya satu yang saya senangi dari kaum mulut ember itu pak, tahukan pak itu dua orang anggota DHEWAN itu. Mereka juga secara konsisten mengatakan bapak melakukan pencitraan, bahkan sejak bapak menjabat sebagai Gubernur DKI. Untung tidak dibilang pencitraan satelit, itu sih ramalan cuaca dari BMKG.

Saya suka bapak melakukan pencitraan, saya suka bapak naik pesawat kelas ekonomi dan itu menjadi kebiasaan bapak sekeluarga dan berlangsung terus menerus. Saya suka bapak membeli sepatu dengan harga Rp 200.000, dan itu bapak pakai. Saya suka bapak difoto menggunakan kain sarung, asal jangan foto topless aja pak. Saya suka bapak pegang payung sendiri saat keluar dari pesawat dan menyalami Gubernur Kalimantan Barat, termasuk saat bapak mengunjungi tanah Papua, bapak pegang payung sendiri.

Daftar pencitraannya masih banyak ni pak. Saya senang saat bapak masuk ke gorong-gorong saat jadi Gubernur DKI, dan bapak jadi tahu apa masalah gorong-gorongnya. Saya senang bapak melakukan sidak untuk menghentikan pungli, bahkan bapak mengatakan pungli Rp 10.000 pun akan bapak urus. Bapak sebenarnya bisa saja membeli kaos seharga Rp 15.000.000, tapi bapak memilih membeli baju kemeja putih seharga Rp 200.000-an.

Teruskan pak melakukan pencitraan dengan memerintahkan Ibu Susi menenggelamkan kapal-kapal pencuri ikan. Teruskan saja membangun infrastruktur, agar citra bapak semakin naik, jalan-jalan, bendungan dan fasilitas di perbatasan yang langsung bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Walaupun dengan banyak membangun infrastruktur, bapak harus mencabut subsidi BBM.

Saya suka bapak melakukan pencitraan. Teruslah membuat pembangunan merata di seluruh NKRI, bukan hanya di Jawa. Sejak bapak jadi presiden, Kalimantan Barat merupakan propinsi yang sering bapak kunjungi. Semoga saja jalan-jalan jadi bagus, PLB Entikong bukan halaman belakang lagi, tetapi disulap menjadi halaman depan rumah NKRI. Cuma pak, jalan ke kampung saya belum tersentuh pencitraan bapak. Itu tugas bapak apa tugas orang lain ya?

Pencitraan bapak setelah saya perhatikan hampir mirip dengan teori yang saya pelajari. Begini pak teorinya. Katakanlah bapak sudah rindu mau pulang ke Solo naik pesawat. Bapak berpikir demi pencitraan bapak harus membeli tiket kelas ekonomi. Selanjutnya bapak katakan dan perintahkan kepada bawahan bapak, “son, bapak mau ke Solo, belikan bapak tiket, kelas ekonomi ya” dan dijawab bawahan bapak “ngge pak”.

Si Son, bawahan bapak membeli tiket kelas ekonomi dan dibayar. Dibayarkan pak, oke. Selanjutnya ya tinggal terbang, wuss sampai Solo. Baliknya juga begitu, naik pesawat lagi kelas ekonomi. Karena ini dilakukan bukan hanya sekali, tetapi berkali-kali, akhirnya ini menjadi kebiasaan bapak. Kebiasaannya, kalau naik pesawat pesan tiketnya kelas ekonomi.

Karena sudah terbiasa, kalau naik pesawat dan bukan pesawat kepresidenan, bapak pasti pesannya kelas ekonomi. Akhirnya itu membentuk watak bapak, bapak orangnya sederhana. Padahal bapak mampu lho beli tiket kelas bisnis, atau beli pesawatnya sekalian. Karena watak bapak sederhana dan tidak memikirkan gengsi, akhirnya nasib bapak disebut sebagai presiden RI yang sederhana. Dan itulah yang disebut pencitraan oleh dua orang di atas.

Ringkasnya teorinya seperti ini: Pikiran – Kata-Kata – Tindakan – Kebiasaan – Watak. Teori ini juga berlaku pak untuk dua orang di atas. Karena pikirannya curiga terus, kotor terus, akhirnya wataknya juga kotor dan curigaan. Maaf lho pak bukan ngajarin. Kalau teori ini pak, Cak Koput Koput sudah tahu lama pak, kalau tidak percaya tanya Rano. Rano ini teman saya berdekatan kampung. Kampungnya belum bisa masuk mobil lho pak, kasihan.

Wah, sudah cukup kayaknya ni pak. Jadi jangan takut pak dengan pencitraan, rakyat Indonesia sudah banyak yang pintar, bisa membedakan yang pura-pura dengan yang asli. Jangan lupa pak, perintahkan agar Bupati dan Gubernur se-Indonesia untuk melakukan pencitraan.

Pusat Damai, 22 Oktober 2016

 

Related posts

Tinggalkan Balasan