ASAL MULA PODAGI SUNGI PERONI

Podagi Sungi Peroni Saat Ini

Podagi Sungi Peroni adalah nama suatu tempat atau kawasan yang dialiri oleh sungai. Sungai dalam dialek Bahasa Dayak Tinying disebut atau dilafalkan sungi, yang artinya sungai. Jadi sungi peroni artinya sungai yang bernama peroni atau sungai peroni. Podagi sendiri adalah suatu tempat atau bisa juga benda yang dikeramatkan, jadi Podagi Sungi Peroni adalah suatu tempat atau kawasan yang dikeramatkan yang terletak di aliran sungai yang dinamakan sungi peroni.

Sungai peroni adalah anak Sungai Tinying, di salah satu lubuk atau libok di sungai peroni yang dekat dengan muaranya inilah terletak Podagi Sungi PeroniPodagi Sungi Peroni selanjutnya disebut Sungi Peroni saja, berjarak kira-kira 2,5 kilometer arah barat Seribot sekarang. Bagi orang Tinying, baik yang berdomisili di Seribot dan Semadu sekarang, maupun yang lahir dan besar di Seribot dan Tinying, walau pergi kemanapun, akan tetap mengingat dan mengenang Sungi Peroni.

Kisah Engkonaow dari Kampung Sobintakng Menemukan Sungai Keramat

Alkisah, tersebutlah seseorang yang bernama Engkonaow yang berasal dari kampung Sobintakng. Engkonaow suka berburu binatang atau dalam bahasa Tinying disebut ngransu. Bahkan Engkonaow lebih memilih ngransu daripada pergi ke ladang ataupun berladang. Sebagai seorang yang dikenal suka ngransu, Engkonaow dikenal sangat ngasidan ponyali.Ngasi artinya dalam ngransu Engkonaow hampir selalu mendapat binatang buruan, rejekinya dan keberuntungannya besar. Ponyali artinya bisa rajin dan berani dalam ngransu.

Karena ngasi dan ponyali dalam ngransu, Engkonaow sedikit sombong dan suka berbual, melebih-lebihkan cerita atau kisah. Dan sifatnya tersebut sudah dikenal di kampungnya, sehingga setiap Engkonaow bercerita atau menceritakan tentang kehebatannya dalam ngransu dan hal lain , orang kampung kurang yakin bahkan tidak percaya, karena dianggap melebih-lebihkan ceritanya

Tetapi Engkonaow tetap dihargai di kampungnya, karena bagaimanapun, berdasarkan aturan adat, setiap hasilngransu berupa binatang hasil buruan, dalam ukuran tertentu wajib dibagi juga dengan orang-orang satu kampung. Kemampuan Engkonaow dalam ngransu, bagi orang-orang kampung Sobintakng tetaplah dianggap sebagai suatu anugerah, karena taat membagi hasil ngransu berdasarkan aturan adat.

Pada suatu hari, Engkonaow pergi ngransu, seperti biasa Engkonaow pergi ngransu membawa sumpit dan mata anak sumpit serta ipoh. Ipoh adalah racun yang terbuat dari tumbuhan yang akan dioleskan ke mata anak sumpit, untuk mempercepat proses kematian binatang buruan. Tidak lupa Engkonaow juga membawa bai atau parang dan perbekalan makanan.

Tidak seperti hari-hari sebelumnya, setelah jauh masuk ke dalam hutan, Engkonaow merasa heran dan aneh, karena tidak ada satupun bancet atau binatang buruan yang ditemuinya. Setelah lelah dan hampir putus asa, tiba-tiba di kejauhan Engkonaow mendengar riuh suara binatang. Engkonaow segera mencari asal bunyi binatang tersebut, semakin dekat semakin riuh suaranya.

Dan setelah dekat, Engkonaow melihat banyak binatang di atas pepohonan yang banyak tumbuh di pinggir sungai kecil. Binatang yang paling banyak adalah kera atau monyet selain burung dan binatang lainnya yang hidup di atas pohon. Engkonaow menyiapkan sumpitnya, membidik satu persatu binatang yang disukainya. Dengan jelas Engkonaow melihat, satu per satu binatang yang dibidiknya jatuh.

Binatang-binatang tersebut, walaupun disumpit dan jatuh satu persatu, bukannya takut atau lari, tetapi semakin banyak mendekat dan jinak, tidak pernah sebelumnya Engkonaow mengalami peristiwa seperti ini. Setelah dirasa cukup, Engkonaow menyudahi menyumpit binatang, dan bersiap memungut hasil bidikannya yang jatuh, yang menurut perkiraannya sudah cukup banyak, dan kebanyakan jatuh ke sungai di bawah pepohonan.

Alangkah heran dan kecewanya Engkonaow, ternyata di sungai dan di sekitarnya tidak ada satupun binatang hasil bidikan sumpitnya yang tampak. Engkonaow masih berupaya mencarinya, tetap tidak didapatinya, padahal Engkonaow sangat yakin dan melihat sendiri tidak ada satupun bidikan sumpitnya yang meleset, bahkan dia melihat sendiri binatng yang dibidiknya jatuh satu persatu.

Engkonaow berpikir, apakah ipoh yang dioleskannya ke mata anak sumpitnya kurang? Sehingga tidak memiliki efek kepada binatang buruannya. Diselimuti rasa penasaran, jengkel dan rasa tidak percaya, Engkonaow mengoles mata anak sumpitnya dengan ipoh yang dosisnya ditambah.

Walaupun Engkonaow tahu, dengan dosis ipoh yang ditambah, binatang hasil buruannya tidak akan bisa dimakan, karena pasti mengandung racun ipoh yang tinggi. Tetapi karena terlanjur kecewa dan jengkel, Engkonaow tidak peduli lagi, yang penting dia dapat membunuh binatang tersebut, puaslah hatinya, itu pikirannya.

Binatang di atas pepohonan semakin riuh dan bertambah banyak, bahkan semakin mendekat jinak, dan seolah-olah mengejeknya. Engkonaow segera membidik seekor kera yang paling dekat dengan posisinya, di atas dahan pohon dan tepat di atas sungai. Kera tersebut jatuh tepat ke sungai dan air sungaipun bergolak. Alangkah terkejutnya Engkonaow, begitu menyentuh air sungai, kera tersebut naik lagi ke pinggir sungai dan memanjat pohon kembali. Seolah-olah tidak ada apapun terjadi terhadapnya. Sekali lagi Engkonoaw membidik yang lain, dan seperti yang pertama, binatang tersebut kembali naik ke atas pohon tanpa kurang satu apapun.

Engkonaow hampir tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, bahkan dia sempat berpikir, mungkin bidikannya salah, tetapi tidak mungkin. Dia adalah seorang pemburu yang sudah berpengalaman, jarang bidikannya meleset. Kembali dia membidik, sampai mata anak sumpitnya habis, akhirnya dia yakin dan dia harus mempercayai penglihatannya, setiap binatang buruan yang jatuh ke sungai terkena sumpitnya, hidup kembali dan naik ke atas pohon lagi. Engkonaow yakin bahwa air sungai tempat jatuhnya binatang buruannya itulah penyebabnya, air sungai itu memiliki khasiat yang dapat menghidupkan kembali binatang yang sudah mati, ya air sungai itu dapat menghidupkan kembali binatang yang sudah mati.

Hari menjelang senja, Engkonaow memutuskan untuk pulang, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Engkonaow pulang dengan tangan hampa tanpa satupun binatang buruan yang didapatnya. Setibanya di rumah, Engkonaow bermaksud menceritakan kejadian aneh yang dialaminya kepada anak istrinya. Tetapi belum sempat dia menceritakannya, istrinya sudah mengomelinya, karena dilihatnya tidak ada satupun binatang buruan yang didapat Engkonaow. Pikir istrinya, Engkonaow hanya menghabiskan hari dengan bersantai di hutan tanpa berbuat apa-apa.

Tanpa bicara, Engkonaow pergi ke sungai untuk mandi, membersihkan badan. Dalam pikirannya, Engkonaow berencana setelah mandi dia akan menceritakan kejadian yang dialaminya kepada para tetangga dan tetua kampung. Tetapi siapakah yang percaya kepada Engkonaow yang penculas dan besar omong, apalagi yang diceritakannya kejadian aneh dan tidak masuk akal, binatang bisa hidup lagi setelah jatuh ke sungai.

Akhirnya Engkonaow menyerah untuk berusaha menjelaskan kejadian yang dialaminya kepada orang-orang dan tetua kampung. Bahkan anak istrinyapun tidak percaya akan ceritanya. Dalam hati Engkonaw kecewa, tetapi juga dia memaklumi sikap orang-orang dan tetua kampung, karena dia sadar selama ini dia banyak membual dan melebih-lebihkan cerita dan kisahnya.

Karena lelah dan merasa tidak seorangpun percaya atas ceritanya, terlebih Engkonaow masih menyimpan kekecewaan karena seharian ngransu tetapi tidak mendapatkan buruan. Dia memutuskan untuk beristirahat dan bersiap untuk tidur. Engkonaw balik ke biliknya, sebelum tidur, dia mengisi perutnya yang lapar dan setelahnya bersiap untuk tidur.

Diterangi remang-remang cahaya pelita damar, Engkonaow merebahkan badannya yang letih. Matanya langsung dipejamkannya, pikirannya dikosongkannya, dan hanya sekejap Engkonaow sudah memasuki alam tidurnya. Dalam tidurnya, Engkonaow bermimpi didatangi oleh sosok orang tua, yaitu Sengiang Aboe Dato Ponompa Rayo, yaitu sosok yang menjadi perantara antara Sang Pencipta atau Aboe Ponompa dengan mahluk ciptaan-Nya.

Sengiang Aboe Dato Ponompa Rayo berbicara kepada Engkonaow bahwa dia tidak perlu heran atas kejadian siang tadi. Hal itu sudah ditakdirkan, sudah menjadi kuasa Aboe Ponompa, bahwa benar adanya air di lubuk sungai kecil tersebut memiliki khasiat menghidupkan kembali binatang buruan yang sudah disumpitnya.

Bahwa hidupnya binatang yang sudah mati karena terkena sumpitnya, semata-mata karena kehendak Aboe Ponompa, dan air sungai tersebut hanya menjadi perantara untuk menghidupkan binatang. Sengiang Aboe Dato Ponompa Rayo juga berpesan bahwa Engkonaow akan mengerti pada suatu hari nanti maksud dari Aboe Ponompa menunjukkan khasiat air sungai tersebut kepadanya.

Pagi harinya, diliputi perasaan yang tidak menentu, kembali Engkonaow berusaha menceritakan kejadian yang dialaminya sehari sebelumnya dan mimpinya kepada anak istrinya dan kepada orang-orang dan tetua kampung. Tetapi sekali lagi tidak ada yang mempercayai ceritanya.

Untuk menghilangkan rasa kesal, kekecewaannya dan menyadari amarahnya bisa meledak tiba-tiba karena tak seorangpun yang mempercayainya, maka Engkonaow memutuskan untuk pergi ngransu pagi itu. Setelah menyiapkan semua perlengkapan ngransu dan perbekalannya, sekali lagi Engkonaow pergi ngransu, tentu diiringi tatapan aneh dan sinis dari penduduk kampung, tetapi Engkonaow tidak peduli.

Hari itu, seperti hari sebelumnya, setelah jauh masuk ke dalam hutan, melewati bukit dan anak sungai, entah kenapa binatang buruan enggan menampakkan diri. Bahkan binatang-binatang buruan pun sepertinya menghindari Engkonaow. Putus asa dan lelah, Engkonaow mengusapkan muka dan tersadar ternyata hari sudah senja.

Engkonaow duduk menyandarkan tubuhnya ke sebatang pohon yang tumbuh dekat pinggir sungai, mengendarkan pandangan ke sekelilingnya. Bayangan pepohonan hampir hilang, karena matahari sudah berada di ufuk barat. Suara binatang malam mampir satu dua di telinganya, masih malu-malu untuk bernyanyi. Dengan langkah gontai Engkonaow mendekati sungai dan turun ke sungai. Rasa dahaga menuntun nalurinya untuk meminum air sungai yang jernih, terasa segar dan manis.

Engkonaow membersihkan badanya sekedarnya, mencuci muka, kaki dan tangannya.

Engkonaow memutuskan untuk bermalam di hutan malam itu. Karena kalaupun pulang, apalagi dengan tangan hampa, maka akan menjadi masalah nantinya, bisa-bisa diomeli istrinya lagi. Dan juga Engkonaow sudah biasa bermalam di hutan. Apalagi sulit juga bagi dirinya menentukan arah kalau harus berjalan di malam hari, bisa-bisa tersesat.

Untuk bermalam Engkonaow memilih berlindung di baner salah satu pohon yang cukup besar. Baner adalah bagian batang bawah, termasuk akar yang tumbuh di atas tanah, yang membentuk dinding sebelah-menyebelah. Sehingga di antara baner dapat digunakan untuk beristirahat. Engkonaow mencari daun panokng untuk membuat atap tempatnya berteduh.

Panokng adalah sejenis tumbuhan rotan, tetapi tumbuhnya tidak terlalu tinggi. Daunnya biasa digunakan untuk atap pondok darurat kalau bermalam di hutan. Untuk alas pondok nauangannya, Engkonaow menggunakan daun yang tidak memiliki miang, daun tipo dan daun songakng sangat bagus untuk alas tempat tidurnya nanti.

Setelah pondoknya selesai, Engkonaow membuka bekalnya, hanya nasi putih dan garam, karena binatang buruan untuk lauk malam itu tidak ada. Karena lapar, dengan lahap Engkonaow mengabiskan bekalnya. Rasa lelah dan kekeyangan membuat Engkonaow mulai merebahkan badannya. Dedaunan alas pondoknya yang lembut, menyambut punggung Engkonaow yang penat. Engkonaow menikmati betul enaknya membaringkan badannya.

Baru saja Engkonaow mau memejamkan matanya, tiba-tiba terdengar suara gaduh seperti suara orang  berbicara bersahut-sahutan yang berasal dari atas pohon besar dan rindang tidak seberapa jauh dari pohon di mana baner-nya yang digunakan untuk membuat pondok. Dengan perasaan kaget dan sedikit takut Engkonaow memasukkan minu-nya ke dalam lubang sumpitnya, agar minu-nya tidak lari dari raganya. Kalau minu sudah lari atau hilang dari raga, maka dapat dikatakan bahwa manusia tersebut sudah mati.

Dengan seksama, Engkonaow memusatkan pendengarannya ke arah suara gaduh tersebut. Dari pembicaraan yang didengarnya, agaknya suara gaduh tersebut berasal dari gerombolan Munt Kamong. Munt Kamong adalah hantu yang sangat kejam, biasanya menghuni pohon-pohon besar di hutan. Munt Kamong merupakan hantu yang sangat suka memangsa dan membunuh manusia.

Pembicaraan para Munt Kamong yang didengarnya rupanya membicarakan tentang rencana mereka untuk menyerang kampung tempat manusia bermukim. Dalam pembicaraan itu, secara jelas didengar oleh Engkonaow bahwa pemimpin gerombolan Munt Kamong menetapkan  sasaran serangannya. Rencananya mereka akan menyerang kampung Sobintar dan sekitarnyayang berarti juga termasuk kampungnya sendiri, Sobintakng. Mendengar rencana arah penyerangan tersebut, Engkonaow menggigil ketakutan, karena dia tahu betapa kejamnya gerombolan Munt Kamong kalau sudah menyerang manusia.

Walaupun dilanda ketakutan, Engkonaow tidak mau lari, dia terus menyimak pembicaraan gerombolan MuntKamong. Di tengah riuhnya suara gerombolan Munt Kamong, ada suara yang menyela pembicaraan. Agaknya ada anggota gerombolan Munt Kamong yang tidak setuju serangan kepada manusia di arahkan ke kampung Sobintar dan sekitanya. Dengan suara yang terpatah-patah, agaknya salah satu anggota gerombolan Munt Kamong yang sudah tua dan berpengalaman, mengatakan bahwa tidak mungkin menyerang ke arah kampung Sobintar dan sekitarnya.

Dia mengatakan, jangankan menyerang, menunjuk dengan telunjuk tangan saja ke arah kampung Sobintar dan sekitarnya dapat menyebabkan putusnya telunjuk tangan. Mata yang mau melihat ke arah kampung Sobintar dan sekitarnya juga akan langsung buta, dan banyak risiko mengerikan lainnya yang akan dihadapi jika menyerang ke arah kampung Sobintar dan sekitarnya.

Hal ini juga dibuktikan dengan beberapa anggota gerombolan Munt Kamong yang mencoba menyerang ke kampung Sobintar dan sekitarnya, mereka mengalami hal-hal yang mengerikan seperti dikatakan sebelumnya oleh tetua gerombolan Munt Kamong. Dan hal tersebut dibenarkan oleh beberapa anggota gerombolan Munt Kamong yang lain. Hal itu menurut tetua gerombolan Munt Kamong dikarenakan di sekitar wilayah yang dimaksud, yaitu kampung Sobintar dan sekitarnya ternyata ada tempat keramat. Karena tempat keramat tersebut maka kawasan di sekitarnya termasuk kawasan Sobintar dan sekitarnya terlindungi, tidak dapat ditembus oleh kesaktian gerombolan MuntKamong.

Mendengar sanggahan dari anggota gerombolannya, pemimpin Munt Kamong marah dan merasa terhina. Selama ini dia menganggap bahwa dialah yang paling sakti di bawah kolong langit, dia tidak terima. Karena amarahnya, dan ingin membuktikan kesaktiannya, pemimpin gerombolan Munt Kamong tersebut menerjang dengan parang terhunus pohon tempat mereka tinggal tersebut. Pohon besar tersebut terbelah dua dari atas sampai ke bawah dan hampir roboh, seandainya tidak diikat langsung oleh anggota gerombolan Munt Kamong yang lain.

Engkonaow yang terus mengikuti pembicaraan gerombolan Munt Kamong teringat pengalamannya sehari sebelumnya. Tempat di mana dia berburu kemarin, terdapat anak sungai yang air sungainya dapat menghidupkan kembali binatang buruan yang telah disumpitnya. Engkonaow yakin, tempat itulah yang dimaksud tetua gerombolanMunt Kamong sebagai tempat yang keramat.

Masih dengan suara yang riuh, akhirnya gerombolan Munt Kamong sepakat bahwa yang diserang tidak ke arah kampung Sobintar dan sekitarnya. Tetapi serangan diarahkan ke kampung Ngkitubyang posisinya ke arah barat dari kampung Sobintakng, kampung tempat Engkonaow tinggal. Engkonaow sampai merinding mendengar bahwa paraKamong akan menyerang kampung Ngkitub, karena dia tahu apa akibat yang ditimbulkan, dan betapa kejamnya paraKamong kalau sudah menyerang.

Alotnya perdebatan di antara gerombolan Munt Kamong membuat keputusan, sehingga tidak terasa hari sudah menjelang subuh. Engkonaow yang semalaman tidak tidur sedetikpun akhirnya memutuskan untuk pulang. Dengan diam-diam dan perlahan Engkonaow mulai berjalan pulang. Sepanjang perjalanan Engkonaow berpikir dan memutuskan dengan kebulatan hatinya untuk sekali lagi mencoba menceritakan apa yang didengarnya di hutan kepada tetua kampung. Engkonaow bertekad untuk menyelamatkan orang-orang kampung Ngkitub dari seranganKamong sebisanya.

Setibanya di kampung, tanpa membuang waktu, kembali Engkonaow menceritakan kejadian dan apa yang didengarnya sepanjang malam kepada para tetua kampung. Tetapi sekali lagi, tidak seorangpun percaya kepadanya, bahkan kali ini Engkonaow harus menerima kenyataan pahit, sampai ada yang mengatakannya sudah gila atau hilang ingatan.

Hanya istri dan anaknya saja yang mulai percaya kepada Engkonaow. Istrinya melihat ada sesuatu yang tidak biasanya terjadi pada suaminya, dari caranya bicara dan gerak geriknya, dalam batinnya, dia yakin kali ini suaminya tidak berbohong atau berbual. Ditambah lagi, dua hari berturut-turut suaminya ngransu, tidak seekor binatangpun yang didapat, tidak seperti biasanya. Bahkan sampai suaminya bermalam di hutanpun, bintang buruan tidak ada didapat, hal ini tidak pernah terjadi sebelumnya.

Malam harinya, Engkonaow dan istrinya kembali berbincang. Istrinya sekali lagi memastikan kebenaran cerita suaminya, kembali tanpa ada keraguan sedikitpun, Engkonaow menceritakan secara detil kejadian yang dialaminya. Akhirnya mereka anak-beranak sepakat, esok hari mereka akan pergi ke tempat hari pertama Engkonaow berburu, dimana dia mengalami kejadian aneh, binatang yang sudah disumpitnya dan mati bisa hidup kembali setelah jatuh ke dalam air.

Tujuan mereka pergi ke tempat tersebut adalah untuk meminta berkat perlindungan. Mereka ingin memanjatkanpomang atau doa-doa kepada Aboe Penompa agar dapat kiranya menyelamatkan orang-orang kampung dari amukankamong. Bagaimana caranya? Sementara baik Engkonaow maupun istrinya bukanlah tukang pomang. Malam itu Engkonaow dan istrinya masih bicara dan berusaha mengingat petuah dan tradisi dari tetua kampung bagaimana caranya melaksanakan ritual semacam itu, apa syarat-syaratnya, dan bagaimana pomang-nya. Dan pada akhirnya, mereka sepakat dan membulatkan tekad tetap pergi ke tempat tersebut untuk melaksanakan ritual sebisa mereka.

Pagi-pagi sekali, sebelum orang-orang kampung terbangun dari peraduannya, Engkonaow, istri dan anak-anaknya sudah pergi meninggalkan kampung menuju tempat untuk melaksanakan ritual tersebut. Sesampainya di sana mereka melaksanakan ritual menurut cara mereka, dengan mengingat cara-cara orang tua pendahulunya untuk ritual semacam itu. Mereka menyebut nama tempat tersebut dengan nama Sungi Peroni. Dan setelah dirasa selesai, pomang sudah dipanjatkan, syarat-syarat pomang sudah dilaksanakan, mereka pulang secara diam-diam ke kampung.

Sesampainya di rumah dan bilik, mereka kembali melakukan ritual secara diam-diam. Mereka tidak mau kalau orang-orang kampung tahu, maka mereka akan dicemooh dan untuk menghindari tanggapan yang kurang baik. Ketika tidur malam harinya, kembali Engkonaow bermimpi didatangi sosok orang tua yang bijak, sosok Sengiang Aboe Dato Ponompa Rayo. Kali ini dalam mimpinya, Sengiang Aboe Dato Ponompa Rayo memberikan petuah dan amanah kepada Engkonaow. Sengiang Aboe Dato Ponompa Rayo menyampaikan cara-cara Ngangun dan NgingunSungi Peroni. Ngangun artinya melakukan upacara-upacara atau ritual, sedangkan ngingun artinya memelihara atau melestarikan.

Terbangun dari mimpinya, Engkonaow mendapat keyakinan bahwa dia serahi kewajiban oleh Aboe Ponompa untuk Ngangun dan Ngingun Podagi Sungi Peroni. Dalam ingatannya, Engkonaow sudah mendapat cara-cara Ngangun dan Ngingun dan itu akan disampaikannya kepada anak dan istrinya agar selalu diingat. Hal ini wajib dilakukannya untuk keselamatan kampungnya, dan sukunya Tinying.

Engkonaow teringat akan kejadian yang dialaminya dihari kedua perburuannya. Saat dia ber malam di hutan dan mendengar pembicaraan para gerombolan kamong yang hendak menyerang kampung Ngkitub. Dia harus menyampaikan hal ini kepada orang-orang kampung Ngkitub akan bahaya yang mengancam nyawa mereka.

Segera Engkonaow berangkat ke kampung Ngkitub, dengan misi menyelamatkan kehidupan di sana. Walaupun dari awal Engkonaow pesimis, tidak yakin orang kampung Ngkitub mau mendengarnya, bagaimanapun juga Engkonaow dari kampung lain, ditambah lagi bahwa Engkonaow memiliki kebiasaan bermulut besar juga sudah tersiar lama di kampung Ngkitub. Tetapi demi menyelamatkan kerabat, orang-orang sesukunya dan rasa kemusiaannya terusik, Engkonaow pergi ke kampung Ngkitub.

Seperti dugaannya, orang-orang kampung Ngkitub tidak satupun yang percaya akan kabar yang disampaikan oleh Engkonaow. Bahkan dengan takabur ada yang mengatakan cukup dirinya seorang saja menghadapi ancaman seperti itu, yang lain tidak perlu repot menghadapinya.

Memang Engkonaow juga tahu bahwa beberapa orang Ngkitub terkenal angkuh, hal ini disebabkan karena memang orang-orang Ngkitub terkenal pogatnkPogatnk artinya berani, tidak ada rasa takut, terutama berani menghadapi serangan maupun berani menyerang musuh. Apalagi bagi orang-orang Ngkitub, Engkonaow hanyalah seorang yang besar mulut dan sebenarnya tidak memiliki ponau. Ponaou adalah sesuatu yang melekat pada seseorang menyangkut pengetahuan, ilmu kesaktian, keahlian, dan kecakapan.

Dengan perasan kecewa Engkonaow pulang ke kampungnya. Tidak berselang lama setelah kunjungan Engkonaow tersebut, satu persatu orang-orang Ngkitub meninggal dunia. Serangan tersebut datang dalam wujud penyakit sampar, tidak seorangpun dapat menghadapinya. Terakhir terdengan kabar bahwa ada orang yang melihat ada seorang anak kecil yang masih balita yang tersisa.

Anak tersebut masih menyusui dengan ibunya yang sudah meninggal, merayap diantara jasad-jasad orang sekampungnya. Diketahui bahwa anak yang selamat tersebut menggunakan kalung dari taring beruang, dan hal ini diduga menjadi pelindung atau jimat bagi dirinya, sehingga selamat dari serangan gerombolan munt kamong yang menyerang dalam wujud penyakit.

Mengambil Hikmah Dan Memaknai Kisah Sungi Peroni Sebagai Penutup Cerita

Sebagai penutup dari kisah asal mula penemuan Podagi Sungi Peroni ini. Pertama-tama saya ucapkan kepada teman saya Antonius CU dan Amtimus yang memberikan bahan tulisan ini berupa buku stensilan hasil karya Panitia Pemugaran Pudagi Sungi Peroni Dalam Rangka Hari Gawai Nosuminu Podi dan Naik Pudagi 2006. Susunan Panitia saya lampirkan, khusus untuk teman saya Antonius Cu, namanya lupa dicantumkan, tetapi beliaulah yang mencari narasumber untuk menceritakan ulang kisah ini, sehingga dapat ditulis kembali.

Kalau dapat saya simpulkan dari kisah di atas, saya mencatat beberapa kebiasaan dari suku Tinying, baik yang sudah tidak dilakukan lagi, maupun yang masih dilakukan hingga saat ini. Juga saya mengambil hikmah atau pelajaran dari beberapa tindakan dan kebijaksanaan yang dilakukan nenek moyang orang Tinying, yang mestinya dapat ditiru, dijaga dan dipelihara sebagai warisan budaya sekaligus sebagai petunjuk dan arah hidup yang disampaikan oleh nenek moyang orang Tinying.

Setelah peristiwa Ngkitub, orang-orang Tinying mulai percaya akan cerita dan pengalaman Engkonaow. Mereka mulai percaya akan khasiat, manfaat, keampuhan dan kekeramatan dari Sungi Peroni. Mereka mulai ngangun danngingun Podagai Sungi Peroni. Hinggal saat ini, orang Tinying masih melanjutkan tradisi ini. Setiap tahun, setiap akhir bulan April dilakukan ritualMiah Pikng Aboe di Podagi Sungi Peroni.

Yang menjadi perhatian adalah, dalam mimpinya yang kedua, Engkonaow diberi tanggungjawab atau amanat untuk menjaga dan diberitahu tentang tatacara ngangun dan ngingun Podagi Sungi Peroni. Perlu adanya upaya menulis bagaimana ngangun dan ngingun Podagi Sungi Peroni ini, agar tidak hilang dan tidak dilupakan. Ritual ngangun dan ngingun ini harus tetap sakral dan bermakna, bukan hanya syarat menjaga tradisi. Misalnya, bacaan pomangnya seperti apa, syaratnya apa saja dan sebagainya.

Podagi Sungi Peroni, sesuai namanya adalah suatu tempat di salah satu lubuk sungai kecil. Dalam cerita penemuannya dikisahkan bahwa tempat ini berada di tengah hutan, masih banyak binatang, airnya jernih. Dan dalam kepercayaan orang Tinying, lokasi Podagi harus dijaga, baik secara fisik, seperti tidak merusak, tidak dicemari oleh kotoran, dan tidak ditebangi pohon-pohon di kawasan tersebut. Makna dan pesan yang tersirat adalah menjaga kelestarian hutan sudah menjadi perilaku nenek moyang orang Tinying.

Engkonaow adalah seorang pemburu, senjata utama yang digunakannya untuk berburu adalah sumpit atau sumpet.Dikisahkan bahwa Engkonaow seorang pemburu yang handal, selalu mendapat binatang buruan. Diceritakan bahwa Engkonaow tidak mendapat binatang buruan hanya saat menemukan Sungai Peroni.

Yang mau disampaikan di sini adalah, nenek moyang orang Tinying mahir menggunakan sumpit, dan pasti mahir membuatnya. Dan itu sudah lama sekali, dulu waktu jaman Engkonaow. Bukan jaman saya kecil, saya bahkan tidak pernah melihat sumpit orang Tinying. Artinya keterampilan membuat dan menggunakan sumpit dalam masyarakat Tinying hampir hilang, kalau tidak mau dikatakan sudah hilang, bagaimana membangkitkannya lagi?

Engkonaow dikenal sebagai seorang yang bermulut besar, suka berbual, suka melebih-lebihkan cerita. Dengan adanya peristiwa penemuan Sungi Peroni, Engkonaow dikatakan sadar bahwa akibat perilaku dan wataknya, orang-orang tidak mudah percaya kepadanya saat dia mengatakan kebenaran. Harus terjadi peristiwa yang luar biasa (peristiwa Ngkitub) agar orang-orang sekampungya percaya kepada Engkonaow, dan tidak diketahui apakah dengan peristiwa penemuan Sungi Peroni dan peristiwa Ngkitub, perilaku kurang baik Engkonaow berubah.

Di luar perilakunya yang dianggap kurang baik, Engkonaow menyimpan satu sikap dan watak yang mulia, yaitu rasa solidaritas yang tinggi. Walaupun yakin berita yang akan disampaikannya kepada warga kampung Ngkitub tidak akan dipercaya, Engkonaow tetap menyampaikannya. Tujuannya hanya satu, ingin menyelamatkan kaumnya dari bencana.

Engkonaow juga seorang yang menghormati tradisi, terutama semangat berbagi, dengan cara melakukan tradisi itu sendiri. Kalau mendapatkan binatang buruan dalam ukuran tertentu, maka wajib dibagikan kepada semua orang kampung. Kebiasaan atau tradisi masih dijalankan oleh setidaknya oleh kakek dan nenek saya, karena saya masih mendapatkan kisahnya dari nenek saya. Dan tradisi ini hanya bertahan di rumah panjang, atau rumah betang, saat orang Tinying masih melakukan hidup secara komunal.

Dikisahkan bahwa satu-satunya warga atau orang Ngkitub yang selamat adalah anak bayi yang menggunakan kalung taring beruang atau manengk tarikng buakng. Kalung taring beruang masih saya temukan digunakan beberapa orang sewaktu saya masih kecil, saya melihatnya sendiri, walaupun saya lupa siapa yang menggunakannya. Artinya, terlepas dari kepercayaan dan agama yang saya anut saat ini dan tidak menurangi keimanan saya, saya percaya dan meyakini bahwa kisah penemuan Sungi Peroni dan peristiwa Ngkitub benar terjadi di masa Engkonaow hidup.

Nama tempat dan nama kampung yang disebutkan dalam kisah ini masih dapat ditelusuri hingga saat ini, kebiasaan yang menyertai dan timbul dari peristiawa ini sebagaian masih dilaksanakan, atau setidaknya pernah dilaksanakan, seperti penggunaan kalung taring beruang sebagai pelindung atau jimat dari malapetaka. Hanya satu yang tidak dapat dipastikan dari kisah ini, waktu yaitu kapan peristiwa itu terjadi.

 
 Pusat Damai, 3 Juni 2018

Related posts

Tinggalkan Balasan