Asset = Hutang + Kolor?

Tulisan ini stok lama, tetapi baru selesai ditulis. Karena menghormati ide teman saya tentang rumus yang sangat inspiratif, Asset = Hutang + Kolor, maka tulisan ini wajib saya selesaikan.

Ini bukan “penistaan persamaan dasar akuntansi”, sekali lagi bukan. Saya tidak mau nanti dituntut oleh IAI (Ikatan Akuntan Indonesia). Wah ndak berani saya, kok berani-beraninya mengubah persamaan dasar akuntansi. Sungguh itu pernyataan teman saya tadi pagi. Kami (kami bertiga) lagi bincang-bincang, dan terlontarlah pernyataan itu, penyebabnya tidak perlulah saya sebut, dan nama teman saya itu saya rahasiakan, demi menjaga harkat dan martabatnya, hadew.

Terlebih teman saya ini sebenarnya paham akuntansi, praktisi dalam artian biasa membuat laporan keuangan, belajar akuntansinya juga sejak SMEA (sekarang SMK). Pernah ikut kursus dan pelatihan sana sini tentang akuntansi. Kurang apalagi coba, tetapi teman saya ini kok berteori macam-macam, Aset = Hutang + Kolor?

Tetapi rupanya pernyataan ini hanya candaan, sekaligus sindiran. Pernyataan ini membuat saya galau segalau galaunya, membuat saya limbung. Ibarat tinju, saya langsung KO (knock out) pada pandangan pertama, eh.Terjerembab ke tanah yang berdebu, menimpa tikek lotok, oduk jantok koyuh agek (sengaja tidak saya terjemahkan).Karena apa, karena saat ini posisi hutang saya hampir menyentuh garis merah, gimana tidak galau.

Artiya begini, kita, saya dan anda memang berhak memiliki cita-cita memiliki sesuatu, barang yang diidam-idamkan sejak lama. Untuk itu kita, saya dan anda mungkin sudah menabung. Atau kalau dengan menabung tidak cukup-cukup juga, ya sudah isi aplikasi atau formulir permohonan kredit dan ajukan kredit, rekomendasi saya sih di Credit Union, uh promosi.

Tetapi yang sering dilupakan dalam berhutang adalah kemampuan mengembalikan, cenderung dipaksakan dan posisi hutang sudah tidak ideal lagi dibandingkan dengan jumlah pendapatan. Hal ini dikarenakan sudah terlanjur kebelet atau ingin memiliki barang yang diidam-idamkan.

Kembali kepada judul di atas, kita bahas satu per satu. Aset adalah seluruh kekayaan yang anda miliki. Aset bisa bersifat lancar, kurang lancar dan aset tetap. Aset lancar misalnya nilai tabungan anda, kurang lancar misalnya anda memiliki piutang. Dan aset tetap, misalnya rumah, tanah atau kendaraan. Tetapi jangan salah, kendaraan memang aset, tetapi kalau masih hutang, maka nilainya tidak sepenuhnya aset. Di sini berlaku istilah apa yang anda pikir aset, ternyata bukan aset.

Hutang memang tidak bisa dipisahkan dari hidup di jaman modern ini. Mungkin ada memang orang yang tidak memiliki hutang. Tetapi rata-rata orang sekarang memiliki hutang, minimallah hutang budi, dan itu dibawa sampai mati. Secara pribadi saja, saya bisa punya rumah, tepatnya setengah dari rumah, karena setengahnya lagi masih hutang, dari hutang juga. Doakan saja nilai rumah dan tanah saya setiap tahun naik, hehe.

Kemudian, mengapa Asset=Hutang + Kolor ?. Kebetulan saya bekerja di lembaga keuangan, banyak menemui kasus-kasus dimana individu yang mengajukan kredit untuk keperluan apa saja. Banyak yang menurut analisa, tidak memungkinkan untuk diberikan kredit atau kalaupun diberikan, nilainya tidaklah sebesar yang diajukan. Dengan kata lain, memaksakan diri untuk mendapatkan hutang, yang pada akhirnya terbentur pada kemampuan mengembalikannya. Bukan kesejahteraan yang didapat, malah kehilangan asset. Dan yang tersisa hanya kolor kata teman saya.

Nasehat orang-orang yang sukses, hutang haruslah digunakan untuk membangun asset, bukan untuk membeli barang-barang yang nilainya semakin menurun. Katanya lagi nih, sesuatu dapat dikategorikan sebagai asset, jika dapat memasukan uang ke kantong kita. Ringkasnya, teman saya tadi ingin menjelaskan bahwa nilai asset yang sebenarnya adalah setalah asset tersebut dikurangi dengan hutang.

Bincang-bincang kami diakhiri dengan pesan, jangan sampai kita berhutang untuk sesuatu yang sebenarnya belum kita perlukan atau kemampuan kita mengembalikannya tidak ada, kemudian terjadi kendala dalam pembayarannya, asset dikuasai dan tinggal hanya kolor yang ada di badan, sebagai asset terakhir yang dimiliki.

Pusat Damai, 24 Agutus 2017

Related posts

Tinggalkan Balasan