Hati-Hati Dengan Postingan Di Facebook Bisa Menjadi Karma

Memiliki akun facebook jaman now merupakan suatu keniscayaan. Hampir setiap orang yang kita temui memilikinya, dari mulai remaja, sampai kakek nenek. Ada yang cuma isinya foto-foto, sampai ada yang isinya cuma keluhan setiap saat.

Dari pengalaman sekian tahun memiliki akun facebook, tepatnya sejak 21 Juni 2009, saya mencoba berbagi pengalaman, dan hasil pengamatan. Pengalaman dan pengamatan ini saya bandingkan dengan kehidupan sehari-hari, cerita dan pengalaman orang lain.

Saya menemukan berbagai persoalan, yang dapat merusak, membahayakan dan mempermalukan diri sendiri akibat tidak bijaknya kita dalam menggunakan facebook, berikut ulasannya, cie-cie.

Facebook Menjadi Tempat Curhat, Bisa Dimanfaatkan Penjahat.

Bahagia itu pilihan, anda dan saya bebas memilihnya. Walaupun banyak yang mengatakan bahagia itu sederhana, tetapi menurut saya, bahagia perlu diperjuangkan, dan justru bukan hal yang sederhana, itu menurut saya lho. Di era sekarang, dengan hadirnya Facebook, medsos yang menjadi pokok bahasan (banyak medsos lain), orang-orang semakin mudah untuk mengungkapkan perasaannya dengan tujuan agar diketahui orang banyak.

Perasaan yang ada dipikiran dan selanjutnya dibagikan melalui postingan di FB dengan sangat mudahnya diketahui oleh “teman-teman FB” anda yang jumlahnya bisa ribuan. Tetapi sayangnya, banyak hal-hal yang tidak patut dan tidak seharusnya diketahui oleh orang lain juga diketahui banyak orang. Misalnya aib pribadi, aib pasangan, dan yang paling penting anda dengan polosnya menunjukkan kelemahan anda dengan maksud mendapat “SIMPATI” dari “teman-teman FB” anda, yang mungkin juga sebagain besar tidak anda kenal secara personal.

So, dengan membaca postingan seseorang di Facebook, anda dapat menilai seseorang itu bahagia atau mengalami tekanan hidup atau sengsara, walaupun mungkin hal tersebut bisa menipu. Bahayanya adalah jika orang lain yang memang sudah lama mengintai anda, maka anda akan dimanfaatkan untuk kepentingan pribadinya. Caranya dengan berpura-pura simpati sampai anda merasa benar-benar diperhatikan. Ingat tidak semua teman FB anda anda kenal secara personal, anda tidak tahu masa lalunya, anda bahkan tidak tahu apa profesinya.

Pamer Di Facebook Membahayakan Keselamatan?

Bukannya tidak boleh memamerkan atau menunjukan apa yang anda miliki,apa pencapaian anda, apa prestasi anda, kesibukan anda, liburan, traveling, , pertemuan, menghadiri pesta dan lain-lain. Tetapi saya masih melihat beberapa postingan di FB yang menurut saya dapat dan berpotensi mengundang bahaya.

Pamer harta benda berlebihan, posting foto-foto rumah anda , isi rumah, mobil, cincin, jam mahal dan lain sebagainya. Sama saja dengan anda mempersilakan penjahat atau orang yang memiliki niat jahat untuk merampok anda. Bagi orang yang memiliki niat jahat, anda seolah-olah mengatakan “nih aku punya banyak barang, silakan deh diambil”.

Untuk yang ini memang godaannya besar, saya juga kadang-kadang tergoda untuk melakukanya, atau bahkan mungkin pernah melakukannya. Karena sebenarnya orang yang benar-benar kaya tidak akan melakukannya.

Selanjutnya, suka posting situasi dan kondisi anda saat itu. Misalnya mengatakan “rumah lagi sepi, sendiri lagi, mana mati lampu”. Maka orang atau seseorang akan tahu situasi yang anda hadapi saat itu, sama saja dengan mengatakan “please deh datang, nih aku lagi sendiri, mau rampok, mau nyulik juga boleh” iya kan? Kecuali nih ya, kecuali anda memang berniat mengundang “seseorang” untuk hadir, hehe.

Saya juga pernah membaca postingan seperti ini kurang lebihnya “menyetir sendiri, perjalanan dari kota X ke kota Y ini sudah satu jam perjalanan melalui jalur pantura, hari semakin sore, sebentar lagi gelap, sekarang masih di sekitaran wilayah anu, istirahat sejenak di RM Simpang Sepuluh, mudah-mudahan selamat sampai tujuan, amin”. Nampak seperti ungkapan biasa bagi kita, tetapi sekali lagi ingat, anda sudah memberikan keterangan yang sangat rinci kepada seseorang yang tidak anda ketahui motifnya di alam belantara dunia maya.

Postingan tentang kegiatan rutin bersama anak-anak yang belum bisa menjaga dirinya di luar rumah. Misalnya menulis secara detil alamat sekolah, nama sekolah, alamat les dan lainnya. Misalnya mem-posting “maaf kesayangan mama, mama lambat jemput kamu pulang les, udah nunggu setengah jam ya, tadi motor mama bannya bocor, duh mukanya sudah kusut ya menunggu mama?”. Postingan disertai foto si anak, dengan latar plang nama tempat les anak, lengkap sudah.

Jejak Digital Dan Karma Bagi Masa Depan

Jejak digital atau Digital Footprint atau digital shadow menurut Wikipedia adalah “refers to one’s unique set of traceable digital activities, actions, contributions and communications that are manifested on the Internet or on digital devices”. Kalau saya terjemahkan dengan bantuan Google Terjemahan artinya seperti ini “jejak digital mengacu pada seperangkat aktivitas digital, tindakan, kontribusi dan komunikasi digital yang dapat dilacak yang dimanifestasikan di Internet atau perangkat digital”.

Artinya apapun yang anda posting di akun FB anda, akan tersimpan abadi dan walaupun anda sudah hapus, kemungkinan akan bisa ditelusuri atau dilacak dikemudian hari. Dan jika di masa lalu anda suka menghina dan menjelek-jelek seseorang, lembaga, organisasi atau bahkan pemerintah di FB, maka itu akan menjadi jejak digital, yang suatu saat dapat menjadi senjata makan tuan bagi anda.

Contoh sajalah, jaman now, perusahaan dalam penerimaan karyawan sangat memperhatikan rekam jejak calon karyawannya. Rekam jejak paling mudah ya melalui medsos, bisa FB dan yang lainnya. Mereka akan berusaha mencari karakter, perilaku, pandangan politik dan hal-hal yang dapat menyebabkan anda diterima atau ditolak. Dan itu semua sumbernya dari rekam jejak digital anda.

Bukan hanya bagi pencari kerja, rekam jejak digital yang bersih juga harus tetap dijaga oleh setiap orang. Kita tidak tahu masa depan, apalagi bagi anda-anda yang suatu saat bercita-cita menjadi pejabat publik.

Mencalonkan diri menjadi anggota legislatif, calon kepala daerah, menjadi anggota KPUD, bahkan mencalonkan diri menjadi Kades. Jangan sampai jejak digital anda bermasalah, dan itu akan anda sesali kelak dikemudian hari, karena penyesalan selalu datangnya diakhir, kalau diawal namanya pendaftaran, lho-lho.

Demikian ulasan singkat saya tentang dunia per-fesbukan, dari sudut pandang saya tentunya. Masing-masing dari kita tentu memiliki sudut pandang yang berbeda, dan perbedaan itu merupakan warna-warni kehidupan yang membuat dunia ini indah, ya kan?

Pusat Damai, 9 Februari 2018

Related posts

Tinggalkan Balasan