Ibu Kota Negara Pindah, Borneo Bersiaplah

Ungkapan “ anda adalah apa yang anda pikirkan” menjadi dasar pemikiran saya tentang tulisan ini. Secara sederhana artinya segala sesuatu yang terjadi dan akan terjadi kepada diri kita dimulai dai pikiran. Maka mulai sekarang saya dan kita sebagai penghuni pulau Kalimantan harus memikirkan dan membayangkan Ibu Kota Negara segera pindah dari Pulau Jawa ke Pulau Kalimantan.

Ide dan wacana pemindahan Ibu Kota Negara Republik Indonesia ini sudah lama didengung-dengungkan. Bahkan lokasi atau kota yang sering disebut sebagai tempat yang ideal adalah Palangka Raya, Ibu Kota Provinsi Kalimantan Tengah saat ini.

Banyak alasan dan keuntungan kalau Ibu Kota Pindah ke Kalimantan, diantaranya mengurai kemacetan di Jakarta. Walau tidak sering, tetapi saya pernah juga merasakan macetnya Jakarta. Macet artinya pemborosan dan inefisiensi. Kalau Ibu Kota pindah, maka pegawai dan orang yang bekerja di kantor-kantor kementerian, lembaga-lembaga negara, kantor kepresidenan akan ikut pindah juga kan? Hitung sendirilah berapa orang yang akan meninggalkan Jakarta. Data menunjukkan kerugian akibat macet Jakarta berkisar antara Rp 65 triliun sampai dengan Rp 150 triliun pertahunnya.

Pemerataan pembangunan, tidak lagi Jawa Sentris. Secara ekonomi, dengan Ibu Kota berada di Kalimantan, tentu pembangunan infrastruktur akan menjadi prioritas. Baik jalan, rel kereta api, listrik , bandar udara internasional, pelabuhan, dan perumahan tentu akan dibangun, yang artinya akan memudahkan investor yang akan menanamkan modalnya di Kalimantan. Yang pasti juga memudahkan masyarakat berusaha, masyarakat Kalimantan pasti turut menikmati infrastruktur yang akan dibangun, ya kan?

Secara geoplitik, posisi Kalimantan yang strategis di kawasan akan sangat berpengaruh terhadap politik luar negeri. Alasan pertama, Kalimantan berbatasan langsung dengan Malaysia (batas darat), secara geografis letaknya hampir di tengah NKRI (lihat peta Indonesia). Di masa lalu, Malaysia dengan angkuhnya mengambil alih Sipadan dan Ligitan, dan beberapa kali pelanggaran batas negara oleh militer dan sipil. Hal ini terjadi karena Indonesia (Jakarta) hampir tidak peduli terhadap kedaulatan negara, di masa lalu Jakrata hanya bisa prihatin.

Kalau Ibu Kota Negara berada di Kalimantan, pasti kekuatan militer juga akan ditingkatkan di Kalimantan, sebagai pengamanan terhadap Ibu Kota Negara. Dipastikan tidak akan ada lagi pelanggaran batas negara, baik darat, laut dan udara oleh militer dan sipil negara lain. Indonesia juga dipastikan akan lebih mudah memantau kawasan laut cina selatan yang sering bergejolak, posisi laut cina selatan lebih dekat ke Kalimantan.

Politik anggaran akan berubah. Sebagai Ibu Kota Negara, pasti nantinya APBD yang akan dikelola semakin besar. Saya contohkan Kalteng, APBD Kalteng tahun 2017 sebesar Rp 4,088 triliun. Bandingkan dengan APBD DKI 2017 yang mencapai Rp 70,19 triliun. Kalau Ibu Kota Negara dipindahkan ke Palangkaraya, tidak mungkinlah APBD Kalteng akan tetap di kisaran Rp 4 triliun, ambil setengah saja dari APBD DKI saat ini, maka akan menjadi Rp 35 triliun, amazing kata kawan saya. Dengan APBD sebesar itu banyak hal yang bisa dibangun di Kalteng, dan tentu pembangunan yang tepat sasaran.

Sebaik-baiknya ide pemindahan Ibu Kota Negara, pasti ada yang menentangnya. Baik, saya akan mengidentifikasikan pihak mana saja yang dipastikan akan menentang  ide ini. Perkiraan saya, pihak pertama yang menolak ide ini adalah pendukung partai  dan orang-orang partai yang selama ini berseberangan dengan Pemerintah. Tahu sendirikan, partai apa saja? Karena bagi mereka pada diri Jokowi khususnya, tidak ada hal yang baik. Dan hal ini akan disuarakan di Senayan dengan lebih kencang oleh Poli-Tikus-Poli-Tikus lebay bin aneh itu.

Kedua, ya pemegang kekuasaan DKI lima tahun ke depan, karena pasti gengsi Jakarta akan turun, dan akan menjadi pusat bisnis saja, bukan lagi Ibu Kota Negara. Dampaknya bisa jadi ke jumlah APBD yang akan dikelola semakin sedikit.

Yang ketiga ya orang-orang yang tidak suka melihat Kalimantan maju, apakah ada warga Kalimantan yang tidak setuju, bisa jadi ada, dengan berbagai alasan. Tetapi itu wajar saja, sesuai dengan pemikiran dan opini masing-masing.

Ini opini dan analisa saya pribadi, bisa jadi dangkal dan kelihatan hanya menonjolkan manfaat secara ekonomi, dengan mengabaikan aspek sosial budayanya. Ya, kalau ada yang bersedia menganalisa dari aspek sosial dan budaya akan lebih bagus, sehingga dapat dijadikan referensi dan sebagai bentuk peringatan dini sehingga dapat diantisipasi secepatnya.

Secara pribadi saya sangat mendukung ide pemindahan Ibu Kota negara ke Kalimantan dengan alasan-alasan di atas. Bagaimana dengan Bapak, Ibu, Saudara, Saudari, Adik, Abang, Kakek, Nenek penghuni pulau Borneo?

Referensi:

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2017/04/26/153406726/ini.syarat.mutlak.untuk.jadi.ibu.kota.indonesia

http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/jabodetabek-nasional/15/05/22/noqqro-kerugian-akibat-macet-di-jakarta-capai-rp-65-triliun-per-tahun

http://jakarta.bisnis.com/read/20160425/77/541368/kemacetan-jakarta-nilai-kerugian-masyarakat-rp150-triliun-per-tahun

https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/3243447/ini-dampak-kemacetan-terhadap-perekonomian-jakarta

https://id.wikipedia.org/wiki/Geopolitik

http://www.borneonews.co.id/berita/45810-apbd-kalimantan-tengah-2017-ditaksir-rp4-088-triliun

https://seword.com/ekonomi/pemerintah-serius-kaji-pemindahan-ibu-kota-siapa-yang-rugi-bandar/

Related posts

Tinggalkan Balasan