Jebakan-Jebakan Unik Ala Anak Kampung Jaman Old

Satu: Jebakan Miang Rebung

Rebung adalah anakan bambu atau tunas bambu yang masih muda. Rebung memiliki bulu-bulu berwarna hitam atau hitam kecoklatan yang menempel pada kulitnya. Bulu-bulu pada bambu ini biasa kita sebut ‘miang”.

Kalau miang ini mengenai kulit, akan menyebabkan gatal dan bisa menyebabkan iritasi, karena miang ini juga tajam. Jika rebung tidak diambil, maka dalam beberapa hari sampai dengan seminggu akan semakin tinggi, dan pada ketinggian sekitar satu sampai dua meter, rebung yang penuh miang bisa menjadi petaka bagi manusia.

Rebung yang sudah setinggi satu-dua meter masih cukup lentur. Artinya masih bisa ditarik ke berbagai arah. Jika rebung tersebut berada di pinggir perlintasan, atau jalan setapak di dalam hutan, maka dapat dibuatkan jebakan yang sangat menjengkelkan. Biasanya digunakan untuk menjebak teman yang melintasi jalan setapak tersebut.

Cara membuat jebakannya cukup mudah. Cari tali yang terbuat atau yang berasal dari akar-akaran yang banyak tumbuh di hutan. Cari yang ukurannya sebesar lidi, dengan panjang yang dapat melebihi lebar jalan setapak. Langkah selanjutnya, ikat rebung pada posisi atau ketinggian sekitar 30-50 centimeter dari tanah, cobalah beberapa kali, posisi yang baik apabila tali tersebut ditarik, maka keseluruhan batang rebung juga ikut tertarik, tidak patah dan talinya tidak putus.

Ikat ujung tali yang masih bebas ke tanaman di seberang jalan setapak, dan usahakan posisi talinya tidak terlihat, bisa disamarkan dengan dedaunan kering, tetapi tetap diperkirakan akan tersangkut di kaki jika ada teman yang melintasi jalan setapak tersebut, hua ha ha. Jika tali yang mengikat rebung tersebut tersangkut di kaki, maka secara otomatis rebungnya akan tertarik ke arah teman yang dijebak, dan menempellah rebung tersebut di badannya. Apalagi anak-anak jaman old jarang menggunakan baju jika bermain, niscaya miang rebung akan semakin banyak menempel di badannya.

Agar lebih berhasil, dapat dilakukan pancingan kepada teman, misalnya dengan mengejek yang bersangkutan, misalnya dengan memanggil teman tersebut dengan nama orang tuanya, “hayoo siapa yang pernah melakukannya?”, sehingga menyababkan teman marah dan mengejar kita. Maka larilah ke arah jebakan tersebut, tetapi ingat, jangan sampai terjadi “senjata makan tuan” ya? Cukup simpelkan cara membuat jebakan miang rebung ini.

Dua: Jebakan Simpul atau Ikatan Ilalang

Bahasa latin ilalang atau lalang adalah imperata cylindrical raeusch,beh. Ilalang atau lalang adalah sejenis rumput yang berdaun panjang dan tajam, jika tidak berhati-hati dapat menyebabkan luka irisan di kulit. Ilalang dalam bahasa Dayak Tinying disebut “podakn”. Adakalanya kami anak-anak kampung jaman old bermain di padang ilalang. Atau berpergian melintasi padang ilalang yang lebat, sehingga daun-daun ilalang setinggi kepala dapat menghalangi pemandangan di jalan setapak yang dilalui.

Ilalang dapat dibuat jebakan, cukup kejam sebenarnya, hehe. Jebakan yang membuat teman yang melintasinya terjatuh, terjerembab ke tanah. Tetapi kadang-kadang itu kami lakukan semata-mata untuk lucu-lucuan dan seru-seruan.

Cara membuatnya sangat mudah, cukup dengan mengikat daun ilalang yang tumbuh di kiri-kanan jalan setapak. Cukup ambil daun ilalang seukuran lengan anak kecil. Buat simpul yang kuat, jika dilintasi dan terkena kaki tidak putus. Ikatan ilalang tersebut seperti portal, tujuannya adalah untuk menjatuhkan teman yang melintasi jalan tersebut.

Jika tersangkut di kaki dapat menyebabkan terjatuhnya teman kita. Karena posisinya dibawah, ikatan ilalang tersebut tidak akan kelihatan. Pilih lokasi yang aman, perkirakan posisi jatuhnya tidak membahayakan, misalnya tanahnya cukup lembut dan terbebas dari tunggul kayu dan ranting, jadi walaupun menjebak teman, tetapi tetap harus memikirkan keselamatannya, hehe.

Biasanya dendam akan terus saling berbalas, kali ini teman yang menjadi korbannya. Kita tidak tahu kapan giliran kita, disaat kita lengah dan tidak mengira. Dan kita baru sadar menjadi korban balas dendam setelah jatuh terjerembab ke tanah dan mendengar tertawaan teman penuh kepuasaan, “raisa, eh rasain”.

Tiga: Jebakan Durian Jatuh

Musim buah durian di kampung waktu kecil selalu meninggalkan kenangan yang berkesan bagi saya. Menunggu dan mencari durian yang terjatuh dari pohon sangat mengasikkan. Termasuk menjebak teman dengan tipuan durian jatuh. Jebakan ini menirukan suara jika ada buah durian jatuh. Bagi yang sudah biasa menunggu buah durian akan tahu bagaimana suara yang ditimbulkan jika ada buah durian jatuh.

Jika ada buah duraian jatuh, pertama yang terdengar adalah bunyi buah durian bersentuhan dengan daun-daun di bawahnya. Bunyinya “sraaak-sraak” yang diakibatkan gesekan buah durian dengan dedauanan di bawahnya. Selanjutnya terdengar bunyi “duuk”, karena buah durian menghantam tanah dengan cukup keras.

Jebakan ini dilakukan oleh teman, bisa beberapa teman yang datang terlebih dahulu ke lokasi durian, atau pohon durian yang menjadi incaran. Caranya gampang, pastikan orang yang ingin dijebak atau ditipu tidak melihat atau tidak mengetahui atau belum mengetahui keberadaan kita yang sudah lebih dahulu berada di lokasi.

Dari jarak 50 meter atau lebih, kita sudah mengetahui kedatangan orang atau teman. Pastikan posisi anda tidak telihat, tetapi berada di bawah pohon durian, yang berbuah tentunya. Ambil sepotong kayu yang sudah disiapkan sebelumnya, seukuran lengan anak-anak, dengan panjang kurang lebih, minimal 70 cm atau lebih.

Buat bunyi tiruan durian jatuh menimpa dedaunan di atas pohon dengan mengibaskan potongan kayu ke semak-semak atau perdu di sekitar kita, “sraak, sraak, sraak”. Buat suaranya sealami mungkin, sebanyak dua atau tiga kibasan. Selesaikan dengan membuat tiruan bunyi durian jatuh menimpa tanah dengan memukul potongan kayu ke tanah sekuat tenaga, “duuk” sempurna.

Niscaya, orang atau teman yang baru datang akan berlarian dengan semangat ’45 menuju pohon durian tempat anda berada. Pastikan anda tetap bersembunyi, dan tidak terlihat dengan bersembunyi di semak-semak. Dan anda akan menyaksikan tingkah lucu teman yang kesana kemari mencari “buah durian yang jatuh” seperti yang mereka dengar.

Empat: Jebakan Tanda Jalan Di Hutan Yang Diubah

Musim menugal ladang adalah masa dimana anak-anak seperti kami mendapat tambahan gizi. Bagaimana tidak, lauk dan sayuran yang dihidangkan yang punya ladang saat makan siang di ladang atau makan malam di rumah yang empunya ladang sangat istimewa saat itu. Minimal ada daging ayam atau daging babi 2-3 potong per orang yang disediakan.

Menugal adalah proses menanam padi di ladang, menugal menggunakan tugal. Kalau waktu saya masih kecil, di kampung kami ada tugal yang sudah dibuat dari kayu belian, yang ujung bagian atasnya bisa menghasilkan suara, kalau tugalnya ditancapkan di tanah, memunculkan irama yang enak didengar dan menjadi pertanda bahwa di ladang tersebut ada orang menugal. O ya, menugal dalam bahasa Dayak Tinying disebut “tomurok” dan alat untuk menugal disebut “turok”.

Kembali ke jebakan, kami anak-anak yang bersekolah pagi harinya mendapat keistimewaan dari orang tua yang menugal dari pagi. Kami boleh mengikuti orang menugal setelah sekolah selesai. Pulang ke rumah, simpan buku, ganti pakaian dan pergi ke ladang orang yang sedang menugal. Kami pergi tidak sendiri-sendiri, biasanya sudah janjian dengan beberapa teman 2-3 orang. Teman-teman yang lain juga pasti pergi secara berkelompok, bisa duluan atau belakangan.

Biasanya lokasi ladang yang dituju tidak begitu jelas, informasi hanya didapat dari teman-teman atau orang tua pagi harinya, “nanti nugalnya di ladang Kek Koput, di dekat ladang Nek Buntat, di Tinying Soba”. Melalui jalan setapak, kami melewati kebun karet dan ladang yang lain, orang tua yang terlebih dahulu menugal biasanya dan kadangkala membuat tanda penunjuk jalan.

Banyak persimpangan jalan setapak, simpang atau jalan yang tidak seharusnya dilalui akan ditutup dengan daun pohon-pohon kecil dengan batang-batangnya. Dibuat seperti penghalang, dan diletakkan di tengah jalan tetapi tetap dapat dilewati, dan memberi kode atau pesan “jangan melewati jalan ini, ikuti jalan yang tidak ditutup” begitu kira-kira pesannya.

Masalahnya, rombongan teman yang terlebih dahulu melewatinya akan memindahkan tanda tersebut ke jalan yang seharusnya dilewati. Begitu sampai di persimpangan, kita akan melewati jalan yang tidak seharusnya, karena tandanya sudah dipindahkan. Kita baru sadar setelah mendengar sura tugal semakin menjauh dan ladang yang dituju tidak sampai-sampai.

Syukurlah, rata-rata kami menguasai medan, dapat mencari jalan pintas, walaupun harus melewati semak belukar untuk sampai ke ladang yang dimaksud. Tentu kami akan mengira-ngira siapa gerangan teman yang sudah memindahkan tanda jalan tersebut.

Begitu sampai di ladang yang ditugal, kami akan melihat mimik muka dan prilakunya teman-teman yang datang terlebih dahulu siapa kira-kira yang memindahkan tanda. Agar nanti pulang bisa membuat jebakan simpul atau ikatan ilalang yang ditujukan kepada yang bersangkutan.

Demikian sebagian pengalaman masa kecil di kampung dalam hal jebak-menjebak. Saat ini, hal tersebut menjadi kenangan yang indah, begitu kreatifnya kami bermain, tanpa HP dan mainan elektronik lainnya. Kenangan yang tidak akan terlupakan sampai saat ini, bagaimana pengalaman masa kecilmu?


Pusat Damai, 08 Februari 2018

Related posts

Tinggalkan Balasan