Menurut Orang Ini, Membangun Jalan Tidak Bermanfaat?

Foto di atas saya ambil tanggal 18 Agustus 2017, tepatnya satu hari setelah perayaan HUT RI ke-72. Saya ambil dengan menggunakan kamera HP, dalam perjalanan saya ke Pontianak, dari tempat tinggal saya di Pusat Damai. Saya tidak hapal nama tempatnya, di antara Batang Tarang dan Simpang Ampar Tayan, Kalimantan Barat. Dari penampakan di atas, terlihat bahwa jalan tersebut sudah diaspal. Pinggir jalannya sudah ditimbun, lebarnya bagi para sopir, cukup memadai, marka jalan dan rambu lalulintas memang belum ada.

Ini adalah ruas jalan yang menghubungi Ibu Kota Propinsi Kalimantan Barat, Pontianak dengan beberapa Ibu Kota Kabupaten. Sebut saja Pontianak-Sanggau, Pontianak-Sekadau, Pontianak-Sintang Pontianak-Nanga Pinoh dan Pontianak-Putussibau. Bisa dibayangkan jalan ini sangat vital perannya dalam menghubungkan Pontianak dengan enam Ibu Kota Kabupaten di Kalimantan Barat.

Berandai-andai saja, umpamanya, misalkan, jalan ini tidak ada, maka akses menuju beberapa Kabupaten seperti yang saya sebutkan di atas akan kembali melalui jalur lama nan panjang. Jalur Pontianak-Sungai Pinyuh-Ngabang baru menuju Sanggau dan yang lainnya. Selain jauh, melalui jalur lama juga jalannya tidak selebar jalur baru seperti di atas.

Bandingannya, dari tempat tinggal saya ke Pontianak dengan kondis jalan sekarang dan melewati jalur Pusat Damai-Sosok-Simpang Ampar-Pontianak dapat ditempuh dalam waktu plus minus tiga jam. Kalau harus melalui jalur lama, Pusat Damai-Sosok-Ngabang-Sungai Pinyuh-Pontianak, harus ditempuh dalam waktu plus minus 6 jam. Tetapi diingat, itu standar saya, saya yakin ada yang bisa lebih cepat, tergantung lagi dari lajunya kendaraan, kalau sayapalingan kecepatan kendaraannya rata-rata 60-80 KPJ. Ya, begitulah kira-kira perbandingan sederhananya.

Tanpa berbasa-basi, tulisan ini sebenarnya untuk menanggapi pernyataan orang ini, ingat kata orang ini sengaja saya tulis miring, semiring gedung DPR yang minta dibangun baru.
Baca disini:http://news.liputan6.com/read/3060100/soal-gedung-baru-dpr-fadli-zon-malah-sindir-pembangunan-jalan

Orang ini jelas ngawur, masyarakat mana yang dia maksud, apa benar sudah bertanya kepada masyarakat. Tanyakan saja kepada masyarakat di sepanjang jalur di atas, apakah memang pengaspalan jalan yang melewati kampung-kampung atau pemukiman mereka tidak ada manfaatnya?

Tidak perlulah bapak, ibu, saudara, saudari handai taulan yang menjadi contoh, terlalu jauh gitu lho. Saya selalu mencontohkan dimulai dari diri saya sendiri. Dahulu kala, sekitar setahun yang lalu, sekitar Januari-Februari 2016, saat jalan dengan rute Sanggau-Sosok-Simpang Ampar-Pontianak belum diaspal. Saya rutin melintasi rute tersebut kadang-kadang seminggu sekali. Waktu tempuh yang saya perlukan, karena kondisi jalan masih rusak, untuk menempuh jarak antara Pusat Damai- Pontianak minimal, plus minus lima jam perjalanan.

Jika dibandingkan dengan sekarang, untuk jarak yang sama, saya tempuh hanya dalam waktu plus minus tiga jam. Ada selisih plus minus dua jam. Apa dampak atau manfaat langsung secara ekonomi yang saya rasakan? Saya mencoba menginventarisirnya untuk membantu pemahaman orang ini.

  • Saya lebih hemat BBM. Kok bisa? Ya iyalah, masa ya iya dong. Mesin hidup tiga jam pastilah lebih hemat konsumsi BBM-nya dibandingkan mesin yang sama hidup lima jam. Artinya saya hemat sekian rupiah untuk biaya BBM.
  • Biaya perawatan kendaraan lebih hemat. Ya iya dong, masa ya iyalah, eh kebalik. Melewati jalan nan mulus, kendaraan saya lebih awet, hempasan yang lembut, ijakan gas yang stabil, jarang menginjak kopling dan rem. Itu semua memperpanjang usia suku cadang kendaraan, artinya saya hemat lagi sekian rupiah.
  • Hemat biaya kesehatan. Apa hubungannya? Begini, kalau berkendara di jalan yang rusak dan berdebu, kita cenderung stress, mudah marah, senggol sedikit maunya dibacok, ya kan? Kalau setiap saat stress, akibatnya kesehatan terganggu, masuk rumah sakit dan perlu biaya. Kalaupun ada asuransi, biaya orang yang menunggu di rumah sakit kan tidak ditanggung. Dengan mulusnya jalan, saya justru bisa menikmati pemandangan indah di kiri kanan jalan. Artinya saya hemat sekian rupiah untuk biaya kesehatan. Yang ini bukan manfaat langsung, hehe.

Tiga hal di atas, merupakan manfaat yang dapat saya rasakan, terutama manfaat pertama dan kedua. Itu baru saya, yang melintasi jalan ini satu hari bisa mencapai ribuan kendaraan, sepeda motor, mobil pribadi, mobil penumpang, truk ekspedisi dan berbagai jenis kendaraan lainnya. Akumulasi penghematan dari semuanya akan menjadi sekian rupiah lagi, hehe.

Kemudian saya mencoba melihat , mengamati, mencurigai, meraba-raba atau katakanlah menduga apa manfaat yang dinikmati masyarakat yang mendiami jalur jalan yang sudah mulus di atas. Dugaan ini hasil pengamatan selama melintasi jalur tersebut, terutama jalur Simpang Ampar-Pontianak yang terlebih dahulu kondisinya sudah baik.

  • Meningkatnya nilai kekayaan masyarakat yang memiliki tanah dan rumah di jalur yang dimaksud. Dengan adanya jalan yang melintasi tanah, so pasti nilai tanahnya ikut naik. Ini dugaan pertama saya manfaat bagi masyarakat yang mendiami jalur tersebut. Tentunya diharapkan masyarakat tidak mudah untuk menjual tanahnya.
  • Tumbuhnya usaha-usaha produktif masyarakat. Banyak berdiri warung-warung, pencucian kendaraan, kios-kios BBM. Arti semakin banyak peluang usaha yang dapat dimanfaatkan, harapannya taraf ekonomi masyarakat meningkat.
  • Memudahkan masyarakat untuk menjual hasil usahanya, terutama hasil pertanian.
  • Masyarakat lebih mudah mengakses layanan publik yang tersedia di Ibu Kota Kecamatan, Kabupaten/Kota bahkan Ibu Kota Propinsi. Layanan kesehatan, pendidikan, keuangan dan lain sebagainya.

Saya pikir, beberapa poin di atas adalah manfaat langsung yang dapat dirasakan masyarakat. Walaupun memang harus diukur atau diteliti lagi seberapa besar manfaat yang dirasakan masyarakat dengan adanya akses jalan yang melewati wilayah mereka.

Untuk lebih meyakinkan diri saya sendiri, selain manfaat yang saya rasakan di atas, saya mencoba mencari hasil-hasil penelitian secara ilmiah. Hal ini saya lakukan untuk membandingkan pendapat orang ini dengan orang-orang yang sudah menelitinya. Saya sampai harus mencari jurnal ilmiah dengan searching di internet, dan saya menemukan empat jurnal.

Dari empat jurnal, saya tampilkan dua jurnal masing-masing berjudul:

  •  Peranan Infrastruktur terhadap Pertumbuhan Ekonomi dan Implikasi pada Kebijakan Pembangunan di Kota Samarinda. Oleh: Warsilan dan Akhmad Noor.
  • Analisis Pengaruh Pembangunan Infrastruktur Jalan, Listrik Dan PMA Terhadap Pertumbuhan PDRB Provinsi Bali Tahun 1993-2014. Oleh: I Ketut Sumadiasa, Ni Made Tisnawati dan I G.A.P. Wirathi.

Dari penelitian pertama di atas salah satu kesimpulannya menyatakan bahwa Infrastruktur jalan berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi kota Samarinda. Dan penelitian kedua salah satu kesimpulannya menyatakan Pembangunan infrastruktur jalan memiliki pengaruh positif namun tidak signifikan terhadap pertumbuhan PDRB.

Ah, kok saya rasanya jadi mahasiswa lagi kalau melihat dan membaca hasil jurnal ini. Dan saya rasa perlu ada yang meneliti dampak pembangunan jalan di Kalimantan Barat, terutama ruas jalan yang saya maksud terhadap perekonomian masyarakat di sekitarnya, siapa berminat, ayo dong para mahasiswa?

Pada akhirnya, saya mengerti dan paham, tugas seorang oposan memang harus mencari segala sesuatu yang dapat dijadikan bahan untuk menyerang dan mengkritik lawannya. Baginya, pantang untuk mengakui hasil atau pencapaian kerja lawannya, lebih tepatnya lawan politiknya. Kalau sampai sekali saja pujian atau pengakuan dilontarkan atas prestasi lawannya, habislah dia.

Seperti yang sering dikatakan dan kita dengar, masyarakat semakin melek akan informasi, sudah pintar menilai. Masyarakat sudah tahu, mana yang emas asli, dan mana emas sepuhan. Mana yang bekerja dan mana yang hanya “OMDO” dan menghamburkan uang negara. Tetapi sudahlah, yang penting bagi saya dan masyarakat yang berada di jalur jalan yang sudah teraspal mulus seperti pada penampakan di atas, sungguh merasa bersyukur, selalu lebih nikmat jalan beraspal daripada jalan berlubang dan berkubang lumpur. Salam waras.

Pusat Damai, 8 September 2017

Referensi (Maafkan daku kalau tata cara penulisan referensinya tidak baku,karena tulisan ini bukan karya ilmiah, ah alesan):

Pengaruh Pembangunan Infrastruktur Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Bengkulu, JEPP, Volume 04 Nomor 3,ISSN 1979-7338.

Analisis Pengaruh Pembangunan Infrastruktur Jalan, Listrik Dan PMA Terhadap Pertumbuhan PDRB Provinsi Bali Tahun 1993-2014, E-Jurnal EP Unud, 5 [7] : 925 – 947, I Ketut Sumadias, Ni Made Tisnawati, I G.A.P. Wirathi, ISSN 2303-0178.

Peranan Infrastruktur terhadap Pertumbuhan Ekonomi dan Implikasi pada Kebijakan Pembangunan di Kota Samarinda, Mimbar Vol. 31, No. 2 (Desember, 2015): 359-366, WARSILAN, 2) AKHMAD NOOR, Print ISSN: 0215-8175; Online ISSN: 2303-2499.

Dampak Infrastruktur Jalan Terhadap Perekonomian Pulau Jawa-Bali dan Sumatera, Direktorat Jenderal Binamarga, Kementerian Pekerjaan Umum, IPB, Muktar Napitupulu, Mangara Tambunan, Arief Daryanto, dan Rina Oktaviani.

http://news.liputan6.com/read/3060100/soal-gedung-baru-dpr-fadli-zon-malah-sindir-pembangunan-jalan

https://m.tempo.co/read/news/2016/08/16/090796473/fadli-zon-pembangunan-infrastruktur-tak-berpihak-rakyat

Related posts

Tinggalkan Balasan