Nama dan Identitas

Nama anak biasanya diberikan oleh orang tua. Mengapa saya katakan biasa? Karena ada juga di budaya suatu komunitas lain, nama anak diberikan oleh kakek atau neneknya. Nama akan disandang oleh anak dengan rasa penuh bangga sampai dewasa, bahkan sampai tua dan meninggal dunia.

Nama membawa pengaruh positif, menjadi kekuatan dan identitas, tetapi kadangkala nama juga membawa malu penyandangnya. Hal ini biasanya terkait arti, maksud dan  sejarah yang kurang baik. Bisa terjadi kalau orang tua yang ingin memberikan nama yang bagus kepada anaknya, tetapi tidak tahu artinya.

Setiap suku bangsa memiliki nama khas, sebut saja nama Batak, Jawa, Dayak, Manado, Cina bahkan Papua. Itu belum termasuk nama khas sub suku, nama keluarga dan sebagainya. Nama juga bisa dipengaruhi oleh agama atau keyakinan.

Nama juga mengikuti trend atau kecenderungan pada masa tersebut. Misalkan saja, nama orang dayak yang beragama Katolik di masa saya lahir tahun 70-an, 80-an dan tahun 90-an kebanyakan untuk nama anak laki-laki berakhiran US. Misalkan nama saya, lahir tahun 1975 nama saya Kristianus Indra.

Saya tidak pernah menanyakan arti nama saya kepada Bapak, tetapi saya yakin nama pemberiannya baik adanya. Dari Kristianus, dasar katanya Kristian, bisa Kristen atau Kristiani, artinya orang Kristen dan nus adalah ciri khas waktu itu yang saya katakan tadi. Indra, saya tidak tahu Bapak terinspirasi dari mana. Indra adalah nama Hindu, menurut Wikipedia, Indra adalah dewa cuaca dan raja kahyangan. Bahkan kenalan dari Nepal, cie-cie, mengatakan kepada saya “Indra, your name mean King Of God”O em ji, jangan sampai saya dianggap menista Tuhan, waduh.

Tetapi setelah saya pikir-pikir, perlu juga melestarikan nama-nama asli dari komunitas asal kita. Saya tidak mencela ataupun menista ataupun melarang, nama-nama anak sekarang banyak diadopsi dari nama barat. Termasuk saya dalam memberikan nama untuk anak juga mengambil sebagian dari nama barat. Misalkan anak pertama saya namanya Ferdinando Uvaang Koyantin. Ferdinand nama Inggris tinggal ditambah do nampaklah gaya Latinnya.

Ada beberapa sub suku dayak yang masih mempertahankan nama khas. Misalkan istri saya dari Mendalam, orang Kayan, namanya Theresia Hure. Atau yang saya ketahui juga suku dayak Taman masih mempertahankan nama khasnya.

Di masyarakat Dayak Tinying, nama khas biasanya terdiri dari satu kata, bahkan satu suku kata. Kalau dikombinasikan dengan nama-nama yang lebih umum, menurut saya akan menjadi sangat bagus. Tetapi saya juga tidak tahu, apakah boleh menurut adat kami mengambil nama dari nama leluhur, hal ini perlu saya tanyakan nanti. Akan sangat khas misalnya nama Abae Michael Tanyi. Tanyi adalah nama kakek saya dari Mamak.

Tanpa bermaksud kurang ajar dan tidak bermaksud berlaku tidak sopan, dan tidak bermaksud berlaku tulah karena menyebut nama orang yang lebih tua dalam adat kami tidak boleh atau porih. Tetapi untuk tulisan ini, sebelumnya saya mohon maaf, tabe’ boba.

Berikut akan saya tampilkan nama-nama khas orang Tinying yang saya ketahui. Dalam daftar ini, termasuk saya masukkan nama teman-teman dan handai taulan, nama-nama orang tua dan nama-nama leluhur.

Nama Laki-Laki: Tanyi, Abon, Ba’el, Cu, Abe, Lidon, Bar, Lahong, Bakul, Sintu, Boker, Japus, Bidin, Ya, Bakim, Ajung (pengaruh nama cina?), Sudi, Kotel, Sandi, Juak, Ose’, Alon, Atong, Acau, Gong, Kabak, Bangi, Ansong, Anis, Malong, Jaken, dlsb.

Nama Perempuan: Minon, Lanyekng, Tinah (lumayan modern), Sunai (nama Mamak), siapa lagi ya. Terus terang untuk nama perempuan, referensi saya kurang. Karena kebiasaan ditempat kami, menyebut orang yang lebih tua biasanya dengan awalan Mang, Mah, atau Pak yang artinya bapak dari diikuti nama anak tertua, atau Mak yang artinya ibu dari diikuti nama anak tertua, atau Nek yang diikuti biasanya dengan nama gelar karena prilakunya.

Sekali lagi, saya menampilkan nama-nama di atas dengan tujuan nama-nama khas orang Tinying tersebut masih bisa diingat, kalau perlu digunakan oleh anak-anak sekarang, sehingga menjadi ciri khas orang Tinying. Tinggal dikombinasikan dengan nama-nama modern atau kekinian. Semoga ada yang berminat menambah daftar nama tersebut, karena paling tidak ada yang bertanya kepada orang tuanya, siapa nama kakek nenek saya, siapa nama leluhur saya.

Pusat Damai, 31 Maret 2017

Related posts

Tinggalkan Balasan