Negeri Impian, Negeri Di Atas Awan

Saya sangat beruntung hidup di jaman now, suatu masa yang sungguh hebat sebagai seorang warga negara yang bernama Negeri Awan. Negeri Awan kalau dicari di peta memang sulit dan tidak mudah ditemukan, tetapi percayalah lokasi Negeri Awan hanya dapat dilihat oleh orang-orang beriman saja, hehe.

Negeri Awan adalah negeri yang makmur, sekali lagi kalau dicari di sumber manapun, tidak akan ditemukan nama Negeri Awan dalam daftar peringkat negara termakmur di dunia, dan hanya  orang-orang yang beriman saja dapat melihat bahwa Negeri Awan berada pada peringkat nol, dan posisinya tepat di atas peringkat satu, amazing.

Baiklah, kita kembali fokus pada kehidupan yang saya jalani sebagai warga negara Negeri Awan. Seperti saya katakan di awal saya sangat beruntung. Saya akan bercerita tentang infrastrukturnya, pertama jalan. Jalan-jalan di Negeri Awan  sangat bagus, bayangkan saja ruas jalan dari tempat tinggal saya di Pusat Anti Ribut menuju kampung saya Dusun Muara Ribot sepanjang kurang lebih 18 kilometer tersebut mulus, jalan kampung lho, jalannya lebar beraspal.

Ya, mulus dengan lebar 8 meter, siapa saja yang melewatinya pasti akan terkagum-kagum. Rambu-rambu lalu lintasnya lengkap, marka jalan terlihat jelas, orang-orang yang melewatinya taat terhadap peraturan berkendara. Yang menggunakan sepeda motor semuanya menggunakan helm, baik yang mengendarai maupun yang menumpang.

Mulusnya jalan ini berdampak kepada kebahagiaan warganya, hal ini jelas terlihat. Orang-orang yang melewatinya kalau berpapasan dengan siapa saja, kelihatan selalu tersenyum bahagia. Sungguh hebat, ini baru hebat, karena mulus dan lebarnya jalan ini, hampir setiap minggu dan setiap hari libur saya pulang kampung. Alasannya rindu keluarga, bapak dan emak, padahal sebenarnya kadang-kadang hanya sekedar rindu berkendara melewati jalan ini.

Seperti hari itu, hari minggu, setelah misa di gereja, anak-anak mengajak pulang ke kampung. Okelah, toh jarak Pusat Anti Ribut-Muara Ribot 18 kilometer tersebut hanya saya tempuh dalam waktu kurang dari 20 menit. Hari minggu jalanan lumayan ramai, maklum hari libur dan mereka jalan-jalan, walaupun jalan ramai, semua pengguna jalan tertib dalam berkendara.

Di setiap kampung yang saya lewati, semuanya memiliki halte, yang posisinya strategis, halte-halte tersebut digunakan anak-anak sekolah untuk menunggu bis sekolah. Iya, bis sekolah. Inilah untungnya ada perusahaan yang beroperasi di wilayah kami. Mereka dengan serius turut memperhatikan kepentingan masyarakat melalui program CSR-nya, menyediakan bis-bis sekolah tersebut. Jadi di wilayah ini, tidak ada ceritanya anak-anak SMP, apalagi SD pergi ke sekolah dengan mengendarai sepeda motor sendiri dengan mengabaikan keselamatan tanpa helm dan kebut-kebutan.

Sambil berkendara menikmati jalan yang mulus saya berpikir, inilah hebatnya para pemimpin kami, baik yang di Eksekutif maupun Legislatif. Semua bekerja demi tercapainya kesejahteraan masyarakat, kadang-kadang saya heran juga, apakah hati mereka terbuat dari emas, sungguh mulia dan terhormat.

Bayangkan saja, dengan APBN seadanya, yang nilainya kami sebagai masyarakat tahu persis, bahkan untuk sekedar belanja pegawai saja hampir tidak cukup, mereka dapat membangun infrastruktur, khususnya jalan-jalan antar kecamatan dengan standar yang mengagumkan, seperti disulap saja. Itulah kenapa kami menjuluki para pemimpin kami “The Maestro”, karena semuanya hampir seperti permainan sulap, bim salabim jadilah.

Para pemimpin kami merupakah anugerah yang patut kami syukuri, bahkan saya berpikir jangan-jangan mereka merupakan orang-orang pilihan, yang dikirim secara khusus oleh Tuhan untuk kami. Mereka memiliki hati yang mulia, memiliki moral yang baik, yang dipraktekan dalam kehidupannya sehari-hari.

Korupsi?, ho ho ho, itu salah satu kosa kata yang tidak pernah ada di Kamus Bahasa Negeri Awan yang dijual di toko buku di Negeri kami, saya juga heran. Mungkin karena tidak terdaftar di kamus, makanya korupsi dan turunannya tidak dikenal di Negeri kami. Kalau guru-guru di sekolah menanyakan arti kata korupsi di kelas, anak-anak kami bahkan tidak tahu sama sekali artiya. Untunglah melalui UU Pendidikan Negeri Awan, soal-soal ulangan dan ujian sekolah melarang guru-guru membuat pertanyaan tentang korupsi, karena bisa-bisa nilai anak-anak kami nol, mereka tidak akan bisa menjawabnya, wong mendengar kata korupsi saja mereka tidak pernah.

Hari itu, kami anak-beranak agak cepat pulang dari kampung. Bukan apa-apa, besok hari senin, pagi-pagi saya harus lebih cepat bangun untuk bekerja dan anak-anak harus masuk sekolah. Yah namanya juga masih jadi kuli, tetap harus semangat, untuk memberi makan anak istri dan membayar hutang, hehe. Mengapa kami masih tetap berhutang? Padahal negeri kamikan makmur? Jangan salah, hutang tetap perlu, bahkan perusahaan raksasa saja masih ngutang untuk membiayai investasinya, apalagi kami. Kami selalu diajarkan oleh pemerintah, mana hutang yang baik dan mana hutang yang buruk.

Dalam perjalanan pulang, karena cuaca mendung, pukul 16.00 hari sudah cukup gelap, mau hujan kayaknya. Tetapi saya tidak kuatir, kalaupun turun hujan, drainase jalan sangat baik, tidak ada ceritanya jalan kami tergenang, walau hujan semalam suntuk juga tidak masalah. Dan penerangan di kampung-kampung sepanjang jalan sungguh mengagumkan. Lampu-lampu penerangan jalan sudah menyala secara otomatis karena semua dipasang sensor buatan anak negeri, buatan lokal pabriknya ada di Sembiji, cahaya lampu jalan menciptakan pemandangan yang mengagumkan, indah dan berkilau.

Jadi di Negeri kami, tidak ada ceritanya listrik yang dikelola Perusahaan Lampu Negeri Awan (PLNA) mati. Tidak pernah sama sekali, bahkan sedetikpun tidak pernah, ajaib. Kalaulah boleh mengubah syair lagu Ajaib Tuhan, maka bunyikan akan menjadi “SUNGGUH AJAIB PLNA”, oh Tuhan ampuni hambamu ini, krik krik krik.

Karena begitu hebatnya pembangunan dan tata kelola pemerintahan di Negeri kami, maka hampir setiap bulanNegeri Awan kami menjadi tempat studi banding bagi negeri-negeri tetangga. Fasilitas dan infrastruktur hampir lengkap, bandara bertaraf internasional sudah dalam tahap pembangunan, dengar-dengar akan diberi nama “Bandara Mampir Sebentar Mcope” atau disingkat Bandara MSM. Alasan penamaanya juga merupakan hasil termenung di Gua Bodo Bala. Mengapa namanya MSM? Ya kabarnya akan dijadikan bandara transit ke luar negeri, jadi semua penerbangan dari bandara yang ada di Negeri Awan , kalau ke luar negeri, mesti mampir dulu sebentar di Bandara MSM ini, ya sekedar mcope gitu.

Itu semua masih ditambah pembangunan stadion sepakbola sekelas Old Traford juga hampir rampung. Khusus stadion sepakbola ini, mengapa dibangun, karena kabarnya akan bergulir liga sepakbola “Lirikan Janda” disingkat Liga LJ. Banyak bibit-bibit pesepakbola bermunculan berkat rutinnya pelaksanaan liga “Kampung Koto Koih” sepanjang tahun. Sehingga

Dengar-dengar, kalau ada pertandingan sepakbola nantinya, yang diadakan di stadion ini, yang rencanakannya dinamakan “Stadion Ganjur Semalam Suntuk” atau disingkat Stadion GaSS, maka susunan acaranya akan dibuat sebagai berikut: mulai pukul 18.00-24.00 acara orgen tungkal eh salah lagi, orgen tunggal maksudnya. Khusus penyanyinya namanya Ayung Semlohai katanya, jadi penonton yang datang joget dulu, juga diselingi undian-undian berhadiah dengan sponsor yang tiada habis-habisnya.

Dan mulai pukul 24.30 akan ada pidato pembukaan, sekaligus meresmikan pertandingan sepak bolanya. Dan pukul 01.30 dini hari baru pertandingan dimulai, jam mulai pertandingan sepakbolanya mirip jadwal ULC kan?, karena katanya ULC kurang diminati lagi gara-gara Barcelona kalah dan tersingkir musim lalu, eh apa hubungannya ya?

Sambil memegang kendali stir mobil, saya melirik anak-anak yang rupanya tertidur pulas di mobil. Ah, nasib mereka sungguh beruntung, system pendidikan kami di kabupaten tercinta sudah mengadopsi sistem pendidikan di Finlandia, bahkan tidak menutup kemungkinan mengalahkannya. Kalau dibandingkan dengan sistem pendidikan di Negara tetangga upan ipan sih sudah lewat.

Tahu sendiri kan, sebelumnya sistem pendidikan di Finlandia dianggap memiliki sistem pendidikan terbaik di jagat ini. Saat ini di negeri kami, sampai tingkat SMP, sekolah di kabupaten kami masih menyedia alat-alat permainan yang sesuai yang digunakan siswa-siswi waktu jam istirahat, mereka senang bersekolah. Rata-rata jam sekolah juga hanya 18 seminggu, sehingga waktu bersama keluarga dan bersosialisasi dengan lingkungan tersedia. Intinya sistem pendidikan kami ingin menjadikan pendidikan itu sendiri sebagai sesuatu yang membahagiakan siswa-siswi, bukan memberi tekanan.

Lamunan saya tentang sistem pendidikan buyar, lantaran saya melihat di setiap persimpangan kebun kelapa sawit, mobil-mobil pengangkut buah kelapa sawit juga mulai pulang, Mobil mereka penuh dengan buah kelapa sawit. Dari dalam kebun milik masyarakat, bermunculan mobil-mobil pengangkut kelapa sawit jenis truk dan pick up. Kalau di masa lalu, untuk dapat mengambil buah kelapa sawit mesti menggunakan mobil 4X4 atau biasa yang disebut mobil langsiran, sekarang dengan mobil penggerak belakang saja juga bisa, lho kenapa?

Asal tahu saja, petani di negeri kami sangat diperhatikan, baik petani kelapa sawit, petani karet, petani koko, petani lada dan petani-petani tanaman lainnya. Bahkan pemerintah berkomitmen untuk meningkatkan kesejahteraan petani. Program ini, terutama untuk mengatasi problem atau masalah yang dulunya menjadi kendala dalam pengakutan hasil kebun petani, yaitu akses jalan menuju lokasi kebun petani.

Pemerintah berhasil membuat dan menjalankan program yang disebut Program Latrit dan Rawat atau disingkat Program LDR. Secara teknis melalui program ini Pemerintah bertanggung jawab terhadap jalan produksi petani, baik jalan utama menuju kebun petani, maupun jalan-jalan dalam kebun petani.

Semua jalan tersebut dikeraskan dengan batu latrit, dan sekarang semua jalan akses menuju kebun petani sudah bagus.

Jika ada kerusakan jalan, maka petani tinggal lapor melalui aplikasi yang dinamakan Halo LDR (Halo Latrit dan Rawat) jiaaah, caranya mudah, praktis dan ekonomis: input username dan password, masukan kode lokasi jalan yang rusak, berdasarkan titik koordinat yang otomatis muncul jika kita berada di lokasi, ambil foto kerusakan jalan dengan kamera HP, dan upload ke sistem, dan selanjutnya tinggal klik send. Maka dalam waktu 24 jam, sudah ada mobil yang datang mengantar batu latrit, tidak peduli siang atau malam, besoknya petani sudah melihat jalan ke kebun sawitnya sudah diperbaiki.

Ah, saya yakin program ini akan membuat petani-petani di negara lain akan menjadi iri. Tetapi mau bagaimana lagi, nasib baik memang selalu menaungi para petani di negeri kami, sekali lagi ini berkat para pemimpin kami yang mulia, berhati baik, sholeh dan rajin menabung.

Tidak terasa kami anak-beranak sudah sampai di Pusat Anti Ribut, saya mulai menyalakan lampu sen kanan. Jalan ke rumah saya termasuk jalan gang, tetapi jangan tanya, lebarnya saja enam meter. Jarak dari jalan utama ke rumah saya sekitar satu kilometer. Di pertengahan jalan masuk saya mulai merasa ada yang aneh dengan mobil. Lho-lho kok mobil saya goyang-goyang ya, padahalkan jalannya mulus. Lho-lho sekarang kok badan saya yang goyang-goyang, ada apa nih.

“Pa, bangun lagi sudah pagi ni, nanti lambat kerja lho, kan katanya mau cepat” suara yang sangat saya kenal menggema di telinga saya, sedikit memicingkan mata, saya berkata “ah, mama ada apa sih?”. “Papa gimana sih, ini sudah pagi, bangun lagi, lambat nanti kerja”. Eh, saya baru tersadar sesadar-sadarnya. Ini pagi toh, di tempat tidur, kok, mana mobilnya, eh-eh, mana jalannya. Astaga naga, saya mimpi rupanya. Oh Tuhan, rasanya pengen tidur lagi,pengen mimpi lagi, ohhhhhhh.

 

Pusat Damai, 26 September 2018

Related posts

Tinggalkan Balasan