Onu Ndayokng

Saya baru ngeh kalau kemarin, tanggal 08 Maret 2017 rupanya diperingati sebagai “Hari Perempuan Internasional”. Itu pun setelah melihat status teman-teman di FB, tetapi saya melihatnya tanggal 09 Maret 2017, telat satu hari. Harap maklum, dalam tradisi Dayak Tinying menurut Cak Koput Koput tidak ada yang namanya hari perempuan. Karena semua hari boleh digunakan untuk apa saja kali ya.

Menilik sejarah, cie cie, hari perempuan internasional atau bahasa kerennya International Women’s Day ini panjang sejarahnya. Berawal dari negara Rusia, demontrasi yang dilakukan para perempuan di Petrograd tanggal 8 Maret 1917 memicu Revolusi Rusia (Sumber).

Masih berdasarkan sumber di atas, hari perempuan secara luas dirayakan di negara sosialis dan komunis  terutama di Soviet dan menjadi hari libur nasional. Catat, Cagub titik titik yang mencitrakan dirinya agamis dan anti komunis dan sosialis jangan malah pidato di hari perempuan internasional (Sumber), karena akarnya dari negara komunis, ups .

Pada tahun 1977, Hari Perempuan Internasional diresmikan sebagai perayaan tahunan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk memperjuangkan hak perempuan dan mewujudkan perdamaian dunia.

Kembali ke hari perempuan, yang kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Dayak Tinying disebut Onu Ndayokng. Mari kita melihat perempuan-perempuan di sekitar kehidupan kita, agar tidak menyinggung siapapun, okelah saya membicarakan perempuan-perempuan di sekitar kehidupan saya saja.

Pertama, perempuan yang melahirkan saya, ibu saya, mak saya. Mak saya pendidikannya tidak tinggi, SD saja, dan tidak dapat ijazah. Tetapi soal memperjuang hidup saya, bagi saya, mak nomor satu. Pasti begitu juga bagi orang lain. Untuk itu, walaupun mak hp nya tidak android, saya tetap menelponnya, walaupun kadang sinyal di kampung kae tentu rudu. Berbicara dengan mak pun tidak boleh kasar, walaupun pendapat mak salah, tetap saya ngomongnya harus lembut. Karena waktu saya bayi, mak pasti memperlakukan saya dengan lembut.

Kedua, saudari-saudari perempuan saya. Perempuan kedua yang saya kenal dekat setelah mak adalah adik perempuan saya, kenal dari kecil dan pasti banyak suka duka yang dilewati. Bagi saya sendiri, ada adik perempuan yang menurut saya berperan besar dalam pendidikan saya. Jadi jangan sampai melupa sudari perempuan.

Ketiga, istri. Ya bagi saya yang sudah berkeluarga selama 16 tahun, sungguh saya semakin hari semakin takjub dengan pengorbanannya untuk suami dan anak-anaknya. Saya tahu, banyak hoby dan kesenangan pribadi yang dikorbankannya. Sanggup dan mau menerima banyak kekurangan saya sebagai suaminya. Maka tidak keberatanlah saya kalau sekali-sekali saya membantunya mencuci piring, menyapu dan membersihkan rumah, karena saya belum mampu menyediakan seorang asisten rumah tangga baginya, ups.

Keempat, teman-teman perempuan yang sekantor. Ya, mereka banyak membantu pekerjaan saya. Kadang-kadang sikap dan prilaku saya yang menjengkelkan mungkin juga ucapan yang menyinggung perasaan harus mereka terima. Tetapi canda tawa bisa menghilangkan kebosanan dalam pekerjaan. Kalian sungguh perempuan-perempuan hebat.

Akhirnya, walaupun terlambat, satu hari, saya mengucapkan Selamat Hari Perempuan, selamat Onu Ndayokng. Tanpa kaum perempuan, dunia ini pasti tidak lengkap, ya kan?

Pusat Damai, 09 Maret 2017

Related posts

Tinggalkan Balasan