Penipuan Dengan Hipnotis Melalui HP

Beberapa waktu lalu, diakhir tahun 2017, saya mendengar beberapa kejadian kejahatan dengan menggunakan hipnotis. Khususnya kejahatan dengan penipuan yang mengakibatkan hilangnya sejumlah uang, uang dalam jumlah yang cukup besar. Ada tiga kejadian kejahatan berupa penipuan dengan menggunakan hipnotis yang saya ketahui, satu saya ketahui dari medsos beberapa orang teman yang menceritakannya, dua bersumber dari orang-orang terdekat.

Bahkan satu kejadian, yang lokasinya dari domisili saya cukup dekat mengakibatkan korbannya sampai meninggal dunia. Memang dari informasi yang saya dapat, korban memiliki riwayat penyakit jantung. Yang membuat saya tidak habis pikir adalah proses hipnotisnya melalui telepon – handphone. Logika saya dibuat berputar-putar mencari jawaban, kok bisa hipnotis dilakukan melalui telepon, tidak saling tatap muka.

Hal berikutnya yang membuat saya bertanya-tanya, bagaimana pelaku mengetahui bahwa korbannya memiliki cukup banyak uang, rata-rata korban berdasarkan informasi yang sampai ke telinga saya mengalami kerugian di atas dua puluhan juta rupiah. Atau apakah ada korban dengan kerugian sedikit tidak mau kejadiannya diketahui dan tidak mau menceritakannya? Atau memang pelaku melakukan riset terlebih dahulu, yang artinya tidak dilakukan secara acak, tetapi sudah menetapkan target?

Dugaan saya penipuan dengan hipnotis ini dapat dilakukan secara acak. Tetapi dapat juga memang sudah terencana, artinya ada proses pengintaian, riset untuk mendapatkan nomor HP, karakter, kekayaan, tempat tinggal kebiasaan dan informasi lainnya yang perlu pelaku ketahui. Dan itu juga artinya pelaku dan mungkin jaringannya ada di sekitar kita, waspadalah waspadalah.

Baiklah, pertama saya mencoba mencari jawaban bagaimana hipnotis bisa bekerja pada manusia. Pencarian ini menyebabkan saya menemukan salah satu artikel di Kompas ini:

http://lifestyle.kompas.com/read/2017/10/24/051600620/kenapa-ada-orang-yang-mudah-dihipnotis-dan-tidak-

Dari judulnya saja jelas bahwa artikel ini menjelaskan bagaimana dan siapa saja yang dapat menjadi korban hipnotis.

Menurut artikel ini, justru orang yang mudah fokus terhadap suatu masalah adalah orang yang mudah terhipnotis. Terbalik dengan teori yang dipercaya kebanyakan orang , bahwa orang yang susah berkonsentrasi yang mudah dihipnotis. Sebelumnya teori ini juga sesuai dengan pemikiran saya. Apakah saya dan anda mudah dihipnotis? Sulit menjawabnya, karena belum dicoba.

Tetapi artikel ini juga menawarkan kita untuk mencoba mengerjakan tes dari Hypnosis Motivation Institute, untuk mengetahui apakah kita mudah dihipnotis atau tidak. Jawaban atas pertanyaan tes-nya mudah, “ya” atau “tidak”. Ada sepuluh pertanyaan, beri nilai satu untuk jawaban “ya” dan jumlahkan. Jika jawaban anda memiliki skor 0-2, maka anda termasuk orang yang tidak mudah dihipnotis. Jika skor anda 3-7, maka anda tidak mudah dihipnotis, tetapi  tidak sulit juga saat dihipnotis. Jika skor anda 8-10, maka anda mungkin mudah dihipnotis. Pertanyaannya apa saja, hehe cek sendirinya melalui link artikel di atas.

Berbicara mengenai mudah fokus atau susah fokusnya seseorang terhadap suatu masalah, atau perkara atau kejadian, saya pribadi “mungkin” termasuk orang yang susah atau sulit fokus. Saya ingat pengalaman ketika mengikuti kegiatan retret, banyak peserta pada saat di doakan sudah pada fokus dan menangis, saya kok anteng-anteng saja. Sekali lagi “mungkin” saya orang yang masuk kategori tidak mudak dihipnotis, tetapi sodara-sodara jangan di coba ya, hehe.

Saya pernah beberapa kali menerima telepon dari nomor yang tidak dikenal. Ketika hal itu terjadi, secara otomatis kesadaran saya mengatakan “ini nomor siapa, hati-hati”. Artinya, berdasarkan beberapa pengalaman menerima panggilan telepon dari nomor yang tidak dikenal, saya membangun kesadaran di otak saya agar saya berhati-hati.

Beberapa modus operandi yang dijalan oleh pelaku penipuan, apakah selanjutnya menggunakan hipnotis atau tidak biasanya menelpon dengan membuat penerimanya terkejut, ada suara gaduh, suara orang berteriak dan menangis, yang menyebabkan kita berbicara. Dari situ, pelaku mengetahui penerima laki-laki atau perempuan, panik atau tidak. Atau ada juga dengan menjalankan aksi pura-pura kenal dan sok akrab, ya katakanah SKSD, sok kenal sok dekat. Ketiga kita tanya siapa ya, maka dijawab “ah masa lupa, jangan sombong lah kawan” yang menyebabkan kita tidak enak sendiri.

Untuk modus yang pura-pura kenal, saya pernah mengalami sendiri, saya buat saja percakapan, Saya dan Pelaku:

Pelaku: Hallo, apa kabar bro, sudah lama ni tidak ketemu, gimana sekarang, kok tidak pernah nelpon lagi sih.

Saya: Ini siapa ya

Pelaku:Ah, masa sih lupa, itu kemarin si Anto ada nelpon saya lho, ada juga dia tanya kamu bro.

Saya: (mulai curiga, apalagi nomor tidak dikenal, kesadaran mulai muncul), ini siapa ya, saya tidak kenal ni nomor.

Pelaku: ah, bro jangan sombonglah.

Saya: (mulai tidak suka, apalagi dibilang sombong, saya kan tidak sombong, cie-cie, dan pelaku belum menyebutkan namanya, berharap saya yang menyebut namanya, selanjutnya akan diiyakan).Ini siapa ya (sudah tiga kali saya tanya ini siapa).

Pelaku: Budi, budi yang di Polres (mulai membuka identitas dan membawa institusi, sekaligus mau membuat kejutan kayaknya) masa lupa sih? (apakah proses hipnotisnya sudah berjalan, saya tidak tau).Kamu di mana sekarang bro? (kalau saya jawab saya di mana, maka pelaku akan tahu lokasi saya, dan pelaku belum menyebut nama saya sama sekali).

Saya: Budi?, polres mana ya?(saya tidak menjawab pertanyaannya, justru saya balik bertanya di mana lokasinya).

Pelaku: Ya di polres, masa gak tau sih bro (belum mau menyebut polres mana).

Saya: Iya, budi di polres mana (ngotot sedikit), saya kan kenal beberapa orang di polres (balik bohong, hehe).

Pelaku: Polres Banjarmasin bro, masa gak ingat sih? (ting, tercyduk, saya tidak kenal satu orang pun di polres Bajarmasin, lagian saya tidak di Kalsel).

Saya: Ah, saya kan  sebenarnya tidak punya kenalan polisi yang bertugas di polres, kamu kalau nipu yang pintar sedikit (langsung nuduh), sudah cari makan yang halal sana!

Pelaku: Mengumpat dan sumpah serapah (saya tertawa, dan telepon diputus, END).

Seperti yang saya katakana di atas, untuk mencegah penipuan melalui media telepon, saya membangun kesadaran. Katakanlah kesadaran otomatis, artinya saya katakana kepada diri saya sendiri secara berulang-ulang bahwa” jika ada panggilan telepon masuk, dari nomor yang tidak terdaftar, saya wajib waspada”.

Selanjutnya, menurut saya, dalam memproses informasi yang diterima melalui telepon, apalagi dari nomor yang tidak dikenal, saya harus berpikir rasional, bukan sebaliknya emosional. Misalnya, masak sih ada orang tiba-tiba mau ngasi hadiah, di jaman now gitu lho, dapat uang jatuh dari langit?

Kalau saya tidak pernah mendaftar atau ikut undian, siapa juga yang mau memberi hadiah, uang lagi, dan syaratnya kita harus kirim uang, logika dari mana gitu lho.

Saya termasuk kaum yang mendukung kebijakan pemerintah yang mewajibkan registrasi bagi pelanggan kartu seluler prabayar. Dan ini pasti juga untuk meminimalkan penipuan melalui telepon itu. Tetapi banyak juga kabarnya yang tidak setuju, entahlah alasannya apa, takut privasi terkuak atau dengan alasan lainnya. Ketentuan ini berdasarkan Permenkominfo 21/2107 (perubahan ke-2 permen sebelumnya nomor 12/2016).

Banyaknya korban dari hipnotis ini harusnya membuka kesadaran kita bahwa cara berpikir dengan menggunakan alur logika dan realistis cukup membantu. Membantu meminimalkan kita terhipnotis, maka ada baiknya juga membangun pikiran agar tetap waspada, kalaulah tidak mau dikatakan berpikir “curigaan”.

Pusat Damai, 6 Februari 2018

http://www.tribunnews.com/regional/2015/06/03/modus-penipuan-baru-pelaku-hipnotis-korban-melalui-telepon

http://aceh.tribunnews.com/2015/11/05/anda-mendapat-telepon-hipnotis-begini-cara-menghindarinya

http://masterholistic.com/cara-mengatasi-hipnotis-melalui-hp/

Related posts

Tinggalkan Balasan