Pilkada Serentak 2018 dan Isu Primordial

Isu menarik mulai bergulir di Kalimantan Barat, menyambut Pilkada serentak Gubernur dan Bupati 2018. Seperti biasa isu primordial mulai berhembus, yang menurut beberapa pengamat sesungguhnya isu ini sangat menghina akal sehat, cek di Sumber .

Seharusnya isu yang dikedepankan adalah isu-isu yang rasional seperti prestasi, program kerja, visi dan misi. Khusus prestasi sangat gampang sebenarnya untuk dinilai, kalau calon sebelumnya menjabat sebagai Bupati atau Walikota atau Anggota Dewan, apakah sih prestasi yang sudah ditorehkannya?

Logika sederhananya, kalau berhasil memimpin Kabupaten atau Kota dengan bukti yang nyata, kemungkinan  dapat dipercaya bahwa calon dapat memimpin provinsi. Sebaliknya, kalau memimpin kabupaten atau kota saja tidak becus, bagaimana mau memimpin Provinsi?

Kembali ke isu primodial. Kalau isu primordial yang dikedepankan, dan saya yakin, nantinya semua calon akan membantah menggunakan isu ini, dan strateginya memang begitukan? Maka silakan dalam strategi politiknya mengkampanyekan seputaran isu etnis, suku dan agama, sangat simpel dan gampang, walaupun menurut  saya cara ini merupakan pembodohan politik.

Jika calon menggunakan isu primordial sebagai senjata dalam pilkada, maka pilihannya adalah meminimalkan jumlah calon yang memiliki kesamaan dengan dirinya. Kesamaan disini seperti sama agamanya, sama sukunya, sama budayanya. Sekaligus mendorong agar calon yang tidak sama dengan dirinya dalam hal agama, suku dan budaya untuk maju dalam pencalonan pilkada, semakin banyak semakin baik, kalau ini namanya strategi pemecah ombak, aseek.

Meminimalkan pesaing yang sama dengan dirinya dapat dilakukan dengan cara, misalnya melobi calon yang lain agar mundur dari pencalonan. Atau melobi sebanyak-banyaknya partai politik agar hanya mendukung dirinya. Cara melobinya macam-macam, cari sendirilah caranya, hehe.

Langkah selanjutnya, jika menggunakan isu primordial adalah melihat dan menganalisa data statistik kependudukan. Jumlah penduduk yang memiliki kesamaan suku, agama, dan ideologi dengan dirinya berapa, sebarannya di mana saja, tingkat pendidikannya bagaimana, duh kayak mau survey pemasaran saja, hehe.

Selanjutnya yang dipilih adalah strategi pendekatannya, metode kampanyenya, bisa lewat acara keagamaan, maka cukup hanya dengan mendatangkan tokoh agamanya selanjutnya ceramahlah dia, atau apakah cukup dengan hanya mendatangkan artis dan selanjutnya bergoyang. Ataukah cukup dengan bagi-bagi kaos, pasang spanduk dan sumbangkan sedikit uang untuk membeli bola volley, atau untuk perbaikan rumah ibadah, agamis sekalikan, hehe.

Kembali ke laptop, eh isu primordial. Seharusnya cara ini ditinggalkan, jika ingin membangun budaya dan pendidikan politik yang baik bagi masyarakat. Karena tujuan akhir dari sebuah proses pilkada seharusnya adalah mencari pemimpin yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan memajukan daerahnya.

Dan hasil penerawangan Cak Koput-Koput, untuk pilkada serentak 2018 khususnya untuk Gubernur, isu primordial akan menjadi dagangan politik yang masih laku dijual. Tinggal bagaimana strategi masing-masing calon nantinya menjual dirinya kepada pasar sasarannya, hiks.

Pusat Damai, 27 Juli 2017

Related posts

Tinggalkan Balasan