Provokasi Murahan Malaysia

Hubungan bilateral antara Indonesia dan Malaysia, dua negara yang dikatakan serumpun, sebenarnya cukup baik. Ada pasang surut dan dinamika dalam hubungan keduanya. Karena kedekatan ini, seperti saudara, persaingan selalu menyertainya. Dengan negara lain juga sebenarnya ada persaingan, tetapi entahlah kenapa kalau dengan Malaysia, persaingan selalu disertai emosi yang cukup tinggi.

Persaingan ini terjadi dalam bidang apa saja, ekonomi, budaya, politik, sampai kepada persaingan di bidang olahraga. Contohnya saja, kalau timnas sepakbola mempertemukan Indonesia dan Malaysia, dalam ajang apa saja, dapat dipastikan seluruh emosi akan ditumpahkan, baik suporter maupun pemainnya.

Kalau menurut analisa saya, Malaysia paling jago dalam hal memprovokasi. Dalam bahasa sehari-harinya “lihai memancing”. Setelah itu, pura-pura tidak tahu, melihat reaksi Indonesia, kalau misalkan didiamkan, lanjutkan sedikit lagi, kalau ada protes, barulah buat klarifikasi, nakal memang. Misalkan saja mengenai isu perbatasan, pura-pura lupa batas, sehingga pilot pesawatnya melewati batas wilayah udara. Baca di sinihttp://www.viva.co.id/indepth/fokus/637075-provokasi-mata-mata-malaysia-di-langit-ambalat.

Termasuk provokasi di bidang budaya, masih terngiang diingatan kita bagaimana “saudara muda” ini mengklaim reog sebagai budaya Malaysia. Mengapa mereka bisa begitu? Konon katanya, saudara muda ini sudah merasa unggul dari Indonesia di segala aspek. Mereka yang dulu di awal-awal kemerdekaannya belajar dari Indonesia bagaimana cara membangun negara, kini malah mengungguli saudara tuanya.https://news.detik.com/berita/1815444/klaim-malaysia-dari-reog-angklung-hingga-beras.

Sifat yang muncul dari watak rada jumawa ini juga berimbas dalam pergaulan sehari-hari. Mereka biasanya memanggil orang-orang Indonesia dengan sebutan “Indon”, yang walaupun itu penggalan dari Indonesia. tetapi secara tersirat panggilan itu merendahkan. Dan anehnya, kadang-kadang orang Indonesia mengiyakannya.

Terkini, aroma provokasi muncul lagi dalam bentuk lain. Cetakan bendera Indonesia di Buku Panduan Sea Games 2017 terbalik, putihnya di atas dan merahnya di bawah. Di even internasional, dan salah cetak hanya terjadi pada bendera Indonesia, tidak bisa dipercaya begitu saja kalau itu hanya “kekeliruan biasa”. Harusnya sekelas Malaysia sebagai negara yang bertetangga mustahil tidak tau bendera Indonesia, kecuali misalnya negara-negara yang jauh dari Malaysia.

Tindakan ini yang dilakukan dalam ajang Sea Games, provokasi seperti ini jelas tujuannya, memecah konsentrasi atlet-atlet Indonesia. Apalagi buku tersebut dibagi pada saat upacara pembukaan Sea Games di Stadion Bukit Jalil, dan dihadiri para pejabat. Pertanyaannya, mengapa di ajang Sea Games? Jelas agar beritanya heboh, dan mereka ingin menunjukkan mereka dominan terhadap Indonesia. Tetapi sebenarnya dengan kejadian ini mereka menunjukan beberapa hal.

Pertama, itu tindakan licik, menggunakan moment Sea Games sebagai tuan rumah, mereka bukan tuan rumah yang baik. Kedua, itu tindakan pengecut, beraninya hanya di kandang. Ketiga, memanfaatkan kegiatan olahraga yang seharusnya menjunjung tinggi sportivitas, artinya menciderai semangat dari Sea Games itu sendiri. Apalagi koran Malaysia, Metro juga memajang bendera Indonesia terbalik, jadi jauhlah dari kata “tidak sengaja”.

Tetapi itulah Malaysia, yang merasa kastanya di atas Indonesia, dan selalu menggunakan cara-cara yang tidak elegan dalam bersaing. Saya rasa Pemerintah dalam hal ini, Presiden Jokowi melalui kementerian terkait tidak akan tinggal diam terhadap penghinaan ini. Akan ada perhitungan sendiri saya rasa, walaupun Menteri Pemuda dan Olahraga  Malaysia sudah meminta maaf. Dan itu seharusnya disadari oleh Malaysia

Akhirnya, tetap semangat kontingen Indonesia, tunjukan bahwa kalian mewakili negara yang bermartabat. Jaga sportivitas, karena itulah semangat dari olahraga, MERDEKA!

Pusat Damai, 20 Agustus 2017

Related posts

Tinggalkan Balasan