Sadarlah, Pada Akhirnya Mereka Makan Lobster, Kamu Makan Iler

Mungkin ini tulisan saya yang paling kacau. Mewakili kegelisahan, keprihatinan sekaligus ketakutan melihat kondisi politik mungkin, kondisi kehidupan beragama warga negara dan mencampuradukan keduanya. Akibatnya sungguh hebat, timbulnya bibit-bibit perpecahan, sectarian dan fundamentalis.

Pertentangan yang berusaha menyeret-nyeret suku dan agama terutama, hal yang cukup sensitif bagi orang yang tidak bisa berpikir panjang, atau banyak yang menyebutnya sumbu pendek, atau pentol korek api atau kaum senggol bacok, kasihan oh kasihan.

Pemanfaatan ormas tertentu oleh orang-orang yang memiliki kepentingan politik. Terutama saat pilkada DKI 2017, dan menjelang pilpres 2019, walaupun banyak pihak mengingkarinya, tetapi itulah kenyataannya. Isu-isu sara dihembuskan dengan sangat massif, pemanfaatan tempat ibadah sebagai sarana penyebar kebencian dan penghasutan, sungguh seperti orang yang tidak mengenal Tuhan sama sekali.

Setelah pilkada DKI usai, mereka mulai menggeser medan pertempurannnya ke daerah tertentu, yang memiliki basis politik partai lawannya. Tujuan sangat jelas kelihatan dan sekali lagi mereka berusaha memanfaatkan isu seksi dan yang paling laku saat ini, agama dan sekarang ditambah suku.

Saya hanya kasihan dan prihatin melihat orang yang dimanfaatkan, siang dan malam diajak berkumpul di jalanan, makan nasi bungkus, dan berteriak. Apa yang mereka dapatkan? Kepuasan, surga atau kenikmataan sesaat, merasa paling hebat di kelompoknya? Sementara elit mereka berpesta pora, menikmati lobster, liburan di luar negeri, naik unta.

Sementara pasukannya, ketika pulang ke rumah mereka mendapati di dapurnya beras hampir habis, gas perlu diisi, air gallon sudah kosong, spp anak belum dibayar, istri minta kuota internet untuk narsis, akhirnya tertidur dan makan mimpi enak yang ternyata makan ilernya sendiri. Dan mereka tetap menerima keadaan tersebut sebagai cobaan.

Saya perkirakan keadaan ini akan diusahakan untuk dipertahankan, dipelihara dan dipupuk sampai 2019, karena itulah tujuan akhirnya. Ah jangan mengelak, ya tujuannya 2019, tidak begitu lama, dan saat itulah penentuannya. Maka mereka mulai berinvestasi dari sekarang, mengeluarkan ratusan milyar, berkolaborasi dengan pengusaha dan taipan, yang mereka sebut kafir jika di muka umum, dan mereka panggil tuan atau bro jika sedang berbincang akrab dan hangat, oh indahnya.

Akhirnya, kita akan tahu bahwa yang menikmati hasil perjuangan mereka adalah kaum elitnya, pemodal dan pemburu rente. Mereka saat ini bisa menjelma sebagai anggota dewan, pimpinan parpol, pimpinan ormas dan tentu saja kaum hartawan dan taipan. Penampilannya, bisa sangat santun, kelihatan taat beribadah, dan cerdas tentunya.

Ah, apakah kalian masih tetap ingin dijajah, setelah 350 tahun oleh Belanda, 3,5 tahun oleh Jepang dan sekarang masih ingin menikmati alam penjajahan? Taktik penjajah yang paling kuno adalah pecah belah dan jajahlah. Dan itu ternyata masih sangat manjur sampai sekarang, bahkan di era teknologi secanggih sekarang, kamu waras?

Ayolah gunakan sedikit akal pikiran secara sehat, manfaatkan otak yang diberikan Tuhan untuk berpikir sedikit. Jangan mau dimanfaatkan, diiming-iming dengan surga, karena kamu tidak pernah tahu apakah kamu masuk surga atau neraka sebelum kamu benar-benar mati nantinya. Tapi ya sudahlah, ngapain juga saya yang repot, itu hidup kalian, prinsip kalian dan  keyakinan kalian. Semoga berbahagia selamanya, amin.




Pusat Damai, 24 Mei 2017

Related posts

Tinggalkan Balasan