Penggalan Kisah Kehidupan Berasrama

Penghuni Asrama Putra Desa Pusat Damai

Sekelompok anak-anak seumuran 12-15 tahun memanjat sejenis pohon jambu, yang dalam bahasa orang Tinying disebut jamu lamau. Pohon ini persis berdiri di pinggir sungai Bodok, tempat anak-anak Asrama Desa Putra Pusat Damai mandi. Anak-anak tersebut berada dalam masa pertumbuhan, salah satu ciri-cirinya adalah selera makan yang besar. Walaupun sudah mendapat jatah makan siang, sore setelah bekerja dan berolahraga, perut mulai lapar, tetapi saat makan malam belum tiba, maka apapun yang bisa dimakan menjadi korbannya, termasuk buah jambu tersebut.

Rasa buahnya yang sedikit asam, sedikit manis dan sedikit sepat tidak dipedulikan, dan rasanya enak saja di mulut mereka. Ada tiga orang anak di atas pohon tersebut, sibuk mencari buah yang sudah masak, yang berwarna kuning. Anak-anak tersebut tidak menghiraukan hiruk-pikuk di sekelilingnya, lalu-lalang anak-anak asrama, ada yang pulang berolahraga dan ada yang menuju sungai untuk mandi, dan ada yang menenteng cangkul pulang dari kebun pribadi atau kelompok. Termasuk tidak menyadari kehadiran sosok laki-laki dewasa orang Eropa yang membawa kamera.

Tanpa memberikan aba-aba terlebih dahulu, pria Eropa tersebut mulai membidik anak-anak tersebut dengan kameranya, jepret-jepret. Terlambat sudah bagi anak-anak tersebut untuk bersiap, mereka hanya bisa tertawa. “Ne ne, kalian makan buah jambu?” tanyanya, “Iya Fater”, jawab anak-anak tersebut. “Ya ya, itu enak heh” sahut pria Eropa tersebut sambil terkekeh dan berlalu dengan langkah lebar dan terkesan tergesa-gesa, dan anak-anak tersebut kembali tertawa.

Delapan puluh tahun sebelumnya dari tahun 1987

Pendidikan formal dimulai pada tanggal 1 Oktober 1907, pada waktu itu dibuka sebuah sekolah putra yang mempunyai dua puluh satu murid. Tiga hari kemudian, suster membuka sekolah putri yang memiliki empat belas murid. Anak-anak sekolah ini diasuh oleh para pastor dan suster siang dan malam. Mereka mendapat makanan, pakaian, penginapan, dan pendidikan dari Misi dengan membayar lima gulden per-bulan. Boleh juga dibayar kurang dari yang ditetapkan, kalau orang tuanya hanya sanggup membayar sedikit dari apa yang mereka punya (P.Gentilis Aster, 2015:30).

Anak-anak di atas berasal dari berbagai daerah dan berbagai kampung.  Tingga di asrama adalah pilihan paling rasional bagi kami yang berasal dari kampung, apalagi kalau tidak memiliki keluarga. Beragamnya asal usul kami tidak membuat kami saling menjauh, malah sebaliknya, perbedaan bahasa dan kebiasaan membuat kami saling mengerti dan saling mempelajari bahasa satu sama lain.

Memulai Kehidupan ber-Asrama

Masa itu tahun 1987, tahun pertama bagi saya tinggal di asrama. Setelah menamatkan SD di kampung, saya melanjutkan ke SMP Yos Sudarso yang berada di Pusat Damai, sekitar delapan belas kilometer jauhnya dari kampung. Itulah pertama kali saya berpisah dengan orang tua dan adik-adik, tidak lagi tinggal bersama mereka, memulai kehidupan yang sama sekali baru. Hidup bersama teman-teman sebaya dalam naungan asrama.

Malam pertama di asrama saat merebahkan badan di tikar dengan bantal di kepala, sempat meneteskan air mata karena memikirkan rumah. Perasaan sedih karena harus berpisah dari keluarga, walaupun akhirnya terlelap di atas tikar yang memang dibawa dari kampung, sebagai salah satu syarat barang yang harus dibawa saat masuk asrama.

Tidak pernah terbayangkan sebelumnya harus tidur dalam satu kamar dengan begitu banyak orang lain. Berbaring dalam formasi berbaris sejajar, masing-masing mencari posisi yang terbaik. Dalam kamar berukuran sekitar empat kali lima meter tersebut berisi belasan anak-anak. Tempat tidur bagian bawah langsung tidur di lantai, dan di atasnya dibuat tempat tidur panggung yang terbuat dari kayu, dinaiki melewati tangga juga diisi oleh anak-anak tersebut.

Asrama yang kami tempati terbuat dari kayu, lantai papan, dinding papan, pondasi dari kayu ulin, atap kayu (sirap), berlantai dua, lantai atas (loteng) terdapat lemari-lemari yang digunakan untuk menyimpan pakaian. Asrama kami terdiri dari dua blok, masing-masing memiliki dua kamar tidur, antara blok hanya terpisah oleh dinding kayu. Blok yang saya tempati bernama Asrama Sekayam, dan di sebelahnya Asrama Tayan. Masing-masing penghuni baru asrama diwajibkan membawa parang, tikar, selimut dan bantal sendiri.

Seorang pejabat dari Jawa, yang mengunjungi sekolah-sekolah tersebut, menulis sebagai berikut, “Menarik untuk dilihat rumah anak itu diatur, semuanya sederhana dan bersih terutama kamar tidur. Putra-putra tidur di atas tikar dengan lantai beralaskan kayu. Beberapa tempat tidur terpisah satu sama lain oleh dinding kayu, yang sekilas tampak mirip dengan sebuah gudang pemilik toko, terbagi-bagi dalam bagian besar untuk beberapa jenis makanan”. Cara mendaftar untuk menjadi murid sekolah intern sebenarnya lebih gampang. Seorang anak datang dengan membawa sebuah tikar dan bantal. Hanya itu inventarisnya (P.Gentilis Aster, 2015:30-31).

Selain asrama Sekayam dan Tayan, ada empat asrama lain yang posisinya terpisah. Yaitu asrama Kapuas, Landak, Melawi dan Barito. Semuanya menggunakan nama sungai yang ada di Kalimantan. Khusus asrama Kapuas merupakan yang asrama yang spesial menurut saya. Selain posisinya dekat dengan kantor Paroki, bahan bangunannya juga sama dengan asrama Sekayam dan Tayan, juga sebagai tempat bagi “Kepala Desa Putra Pusat Damai”. Kepala Desa semacam ketua dari seluruh penghuni asrama yang ada di komplek paroki ini.

Dilihat dari model dan fisik bangunan, tiga asrama yaitu Sekayam, Tayan dan Kapuas merupakan asrama yang terlebih dahulu dibangun. Karena empat asrama yang lain bahan bangunannya, terutama dinding sudah dari semen dan atap dari seng. Tetapi secara keseluruhan, bangunan-bangunan asrama materialnya banyak menggunakan bahan dari kayu.

Sebelumnya delapan puluh tahun yang lalu dituliskan….

Asrama-asrama ini memberlakukan jadwal harian dan menerapkan disiplin dari sebuah asrama di Belanda setengah abad yang lalu. Dari pagi sampai sampai malam disiplin coba diterapkan (P.Gentilis Aster, 2015:46).

Mengenai Kelompok Masak, Bulgur dan Pembagian Susu Bubuk

Hidup di asrama sedikit demi sedikit mengubah kebiasaan saya. Seminggu setelah tinggal di asrama,saya bertugas di kelompok masak. Tugas kelompok masak adalah menyediakan makanan bagi seluruh penghuni satu asrama untuk satu hari penuh, mulai makan pagi, makan siang dan makan malam. Bertugas sebagai tukang masak punya cerita tersendiri. Kami jadi mengenal istilah BL singkatan dari besar lambung. Artinya, tukang masak makan terlebih dahulu setelah makanan masak (sekitar jam lima pagi). Dan makan lagi bersama penghuni lainnya sebelum berangkat sekolah. Itu sudah menjadi rahasia umum, artinya rahasia yang sudah menjadi pengetahuan umum.

Kelompok masak akan dipercayai sejumlah uang yang diminta ke kantor asrama, yang harus diatur agar cukup untuk seminggu. Uang masak digunakan umtuk membeli keperluan masak selain beras. Karena beras sudah dibagi dari gudang beras asrama. Tidak setiap hari tukang masak dapat menyediakan lauk, paling banyak tiga kali dalam seminggu. Kecuali saat mendapat pembagian telur dari peternakan asrama.

Hemat adalah kata kunci, sayur tidak beli, tersedia di kebun asrama. Semuanya tumbuh subur karena tanaman cukup mendapat nutrisi dari pupuk “rahasia” anak-anak asrama. Bayam, kangkung dan kacang panjang merupakan jenis sayuran yang sering ditanam. Sehingga kalau dalam seminggu, ada menyisakan sejumlah uang, maka akan menjadi tabungan bagi asrama tersebut, dan dikumpulkan dalam satu tahun pelajaran.

Dalam pendistribusian atau pembagian makanan, setiap orang mendapat porsi yang sama. Ukuran badan tidak menjadi patokan, besar kecil jatahnya sama. Kalau sudah begitu, maka yang memiliki nafsu besar dalam hal makan, akan mencari sisa nasi di periuk (kerak nasi) atau mengharapkan pelimpahan nasi dari teman yang nasinya tidak habis. Nasi, sayur dan lauk disatukan dalam satu piring. Saat menunya ada daging atau lauk , seringnya ikan tongkol atau telur , maka potongan lauknya (pasti hanya satu potong) akan disimpan di bawah nasinya, dan disiram kuah lauknya. Hal ini dimaksudkan agar anak-anak asrama tidak dapat memilih mana lauk yang ukurannya besar, padahal ukuran potongannya kurang lebih saja.

Tukang masak  memasak semua jenis makanan menggunakan kayu bakar, nasi, sayur, lauk dan air putih, semuanya dimasak dengan kayu bakar. Karena sebagian besar anak-anak asrama berasal dari kampung, maka tidak ada yang tidak bisa menghidupkan api dengan kayu bakar. Kayu bakar asrama selalu tersedia, karena mencari kayu bakar merupakan pekerjaan wajib dan diatur jadwalnya untuk masing-masing asrama oleh ketua asrama.

Satu tahun pertama, selain  beras, anak-anak asrama juga wajib mencampur beras yang dimasak dengan bulgur. Bulgur ternyata adalah biji gandum jenis Triticum yang ditumbuk kasar dan kemudian dikeringkan. Tujuannya adalah untuk berhemat, rasa bulgur tawar, rasa yang yang aneh pada awalnya. Anak-anak asrama juga biasa menjadikan bulgur sebagai cemilan, caranya bulgur diseduh dengan air panah, dicampur susu bubuk dan siap disantap.

Selain bulgur, kami juga mendapat pembagian susu bubuk seminggu sekali, masing-masing sekitar satu sampai tiga kilogram per orang, saya tidak ingat persis. Susu ini kalau dikonsumsi terlalu  banyak akan menyebabkan mencret. Pembagian bulgur dan susu bubuk hanya berlangsung selama setahun, kabarnya pemerintah tidak mengijinkan lagi ada bantuan  dari luar negeri untuk asrama, entahlah.

Rutinitas Yang Terjadwal

Jadwal kegiatan harian anak-anak asrama sebagai berikut, pagi sampai 07.00 aktivitas pribadi di asrama, seperti mandi, olahraga, belajar (bagi yang rajin). Pukul 07.00-13.00 (tidak ingat persis jam pulang sekolah) kegiatan sekolah. Pulang dari sekolah ganti pakaian, makan siang. Istirahat sebentar kurang lebih satu jam, setelah itu kerja untuk asrama atau kerja umum.

Kerja umum terdiri dari: mengerjakan kebun asrama, mencari rumput untuk sapi, membuat kompos, membersihkan kandang ayam petelur, memberi makan kelinci dan membersihkan kandangnya, memasak umpan babi dan beberapa pekerjaan lain yang masih berkaitan dengan kehidupan berasrama.

Waktu yang dialokasikan untuk kerja umum berkisar dua jam. Pekerjaan-pekerjaan selain pekerjaan kebun asrama dilakukan secara bergiliran dari unit-unit asrama dan dikerjakan secara bersama-sama. Mencari kayu bakar dilakukan seminggu sekali untuk masing-masing asrama.

Sore hari setelah kerja umum adalah waktu untuk pribadi, ada yang berolahraga, mengerjakan kebun pribadi, atau ada yang sekedar membuat kerajinan tangan, seperti membuat seruling, sapu dari “ongkah perongakng”. Membuat anyaman gelang dari rotan, selain untuk gelang yang digunakan juga dapat digunakan untuk mengikat sapu ongkah perongakng.

Mengenai pekerjaan kebun pribadi, kami diberi kebebasan untuk membuat satu sampai dua bedeng untuk berkebun secara pribadi di lokasi yang sudah ditentukan. Kebun pribadi ini dapat ditanami sayur apa saja, yang paling sering di tanami adalah kangkung, kacang panjang, sawi dan lobak. Selain itu ada juga yang menanaminya dengan jagung dan kacang tanah.

Ketentuan kebun pribadi kurang lebih sebagai berikut, dikerjakan setelah pekerjaan umum, pupuk berupa kompos dapat diambil dari kompos yang disediakan. Hasil kebun pribadi dapat dikonsumsi sendiri, walaupun agak susah, karena alat masak tidak ada, tetapi kami selalu mempunyai cara tersendiri untuk menikmatinya. Hasil kebun pribadi juga dapat dijual kepada warga di sekitar asrama yang mau, atau kepada mbak-mbak penjual sayur di Pasar Kenari yang tentu akan dijualnya kembali.

Sore menjelang malam, anak-anak asrama sibuk mandi. Disediakan beberapa tempat mandi, bagi yang ingin mandi di sungai  disiapkan satu tempat di Sungai Bodok. Untuk mempermudah mandi dibuat tangga dari papan kayu belian. Selain untuk mempermudah menuruni tepi sungai, juga berfungsi sebagai tempat menaruh perlengkapan mandi dan tempat mencuci pakaian.

Bagi yang tidak suka mandi di sungai dapat juga mandi di tempat yang lebih tertutup. Ada disediakan bak air besar terbuat dari beton, dengan ukuran kurang lebih satu meter lebarnya, dengan panjang sekitar lima meter. Tempat mandi ini dibuat naungan permanen, dengan dinding dari kasau, dibuat jarang-jarang.

Hidangan makan sore disediakan sekitar pukul 17.00 WIB (tahun 1987 Kalbar masih masuk WIT). Mulai pukul 18.00 semua penghuni asrama wajib sudah duduk di meja belajar. Baik yang benar-benar belajar seperti mengerjakan PR dan membaca ulang pelajaran, atau ada juga yang kadangkala hanya duduk dengan buku di meja, tetapi pikiran melayang kemana-mana. Dan ada juga yang terlihat serius menulis, setelah didekati ternyata asyik menulis surat cinta yang ditujukan kepada wanita idamannya yang ada di asrama putri, haha. Tetapi pada intinya, mulai pukul 18.00 sampai dengan pukul 20.00 adalah waktu belajar bagi penghuni asrama, dan tidak boleh membuat keributan.

Pukul 20.00 sampai dengan pukul 21.00 digunakan untuk bermain dan bergurau, yang masih meneruskan belajar silakan. Yang lain mencari kesibukan masing-masing di asrama, ada yang memasak air dan membuat minuman. Dan tepat pukul 21.00 semua penghuni asrama wajib tidur, atau pura-pura tidur, hehe. Tidak boleh ada keriuhan lagi, lampu-lampu yang tidak perlu dimatikan.

Bersambung……………………………………..

Related posts

Tinggalkan Balasan