Pongaretn Ponto’ dan Pulao Sibu

Seperti janji saya dengan adik saya yang bungsu malam harinya, pagi-pagi saya sudah bangun. Adik saya ini bernama Gabriel Edyan, panggilannya di keluarga kami Edi, tetapi di Kampung saya panggilan kerennya Edy Chex seperti nama pada Faceebook-nya atau dipanggil Chex. Janji kami yaitu dia mengantar dan menemani saya pergi ke tempat pemakaman leluhur kami orang Seribot yang berasal dari Ompu Emporikng, yaitu Pongaretn Ponto’ dan Pongaretn Pulao Sibu untuk melakukan perayaan hari arwah tanggal 2 November 2018 ini.

Saya bersiap, mandi berpakaian dan sarapan, mamak saya menyiapkan barang dan keperluan yang mesti saya bawa. Dalam tradisi di kampung kami, walaupun kami sudah menganut agama Katolik kami tetap menjalankan kebiasaan yang juga tidak diketahui kapan dimulai. Jadi yang pergi ke pemakaman membawa makanan dan minuman yang sudah dibagi ke dalam wadah dari daun atau plastik, isinya bermacam-macam , tetapi dalam jumlah yang sedikit, kira-kira sekepalan tangan jumlah satu ukuran. Isinya nasi, lauk, nasi pulut masak bambu (ajotn), dan sayur. Kami juga dibekali makanan yang memang disiapkan untuk nantinya dimakan, tidak lupa kami dibekali sebotol tuak.

Rintik hujan menyertai perjalanan kami ke Ponto’, menggunakan sepeda motor trail milik adik saya, jalanan yang kurang bagus dilibas dengan mudah, saya tinggal duduk manis di belakangnya. Tujuan pertama kami adalah Pongaretn Ponto’ (Pemakaman/kuburan Ponto’). Sesampainya di Pongaretn Ponto’, orang-orang sudah ada, dan kami langsung melihat sepupu kami Gato. Begitu melihat kami, dia langsung berseru “sudah saya bersihkan”. Maksudnya jelas bahwa makam kakek kami sudah dibersihkan.

Kami hanya menjawab “oh”, tersirat ucapan terimaksih dalam kata “oh” kepada sepupu kami. “Tolong antarkan kami ke makamnya” pintaku. “oe’ boh” jawabnya sambil berjalan mendahului kami. Setelah sekian lama tidak mengunjungi makan kakek, akhirnya saya dapat melihat lagi makam beliau. Sepotong kayu ulin yang dibuat lancip ke ujung sebagai penanda. Tanah makamnya sendiri sudah rata dengan tanah di sekitarnya, sudah bersih, berada di antara pepohonan yang rimbun.

Tetes rintik hujan terus jatuh, saya mengeluarkan bekal yang kami bawa. Mengambil satu porsi makanan yang sudah disiapkan, menuangkannya ke wadah berupa mangkuk yang diletakkan dekat penanda makam. Saya mulai jongkok dan berdoa kepada Tuhan, agar arwah kakek selalu tenang di surga.

Agar tidak bingung, baik kiranya saya ceritakan ulang berdasarkan beberapa penuturan dari orang tua tentang beberapa Pongaretn milik orang Seribot yang berasal dari Ompu Emporikng. Pertama adalah Pongaretn Podakng, ini adalah Pongaretn yang paling tua yang bisa diingat orang. Tidak diketahui banyak dan tidak diketahui siapa-siapa yang dimakamkan di sana. Yang jelas orang-orang yang dimakamkan di sana adalah leluhur kami orang Seribot. Letaknya tidak jauh dari Ompu Emporing, kami dahulu menyebut lokasinya Rima Soju (Rimba Hulu).

Kemungkinan Pongaretn Podakng ini digunakan saat leluhur kami masih bermukim di Ompu Aloh, suatu lokasi arah barat Ompu Emporikng yang jaraknya kurang lebih dua ratusan meter dari Ompu Emporikng. Ompu Aloh ini sendiri memiliki cerita yang menyedihkan, pindahnya warga dari Ompu Aloh ini dikarenakan serbuan musuh yang mengayau. Karena serbuan ini tidak mampu lagi ditahan dan kalah, maka semua yang selamat melarikan diri. Itulah mengapa kampung ini disebut Ompu Aloh, yang artinya kampung yang kalah.

Kedua adalah Pongaretn Pulao Sibu, letaknya sekarang di antara Seribot dan Upe. Di atas bukit, yang lokasinya dinamakan Pulao Sibu. Kalau dari arah Seribot menuju arah Upe, kira-kira seratus meter setelah simpang ke Kerunang. Pongaretn Pulao Sibu digunakan saat bermukim di  Nggomer. Pongaretn Pulao Sibu merupakan pemakaman kedua tertua yang diketahui yang digunakan leluhur kami.

Saat bermukim di Nggomer dikisahkan terjadi  musibah atau bencana oleh mewabahnya suatu penyakit. Penyakit ini menyebabkan banyak warga yang meninggal, saat satu jenazah diantarkan ke pemakaman, warga yang sakit di kampung  sudah ada yang meninggal, begitu seterusnya. Karena sudah tidak sanggup lagi untuk mengurusnya dan dihantui oleh bayangan kematian, warga yang masih hidup memutuskan lari meninggalkan perkampungan menuju lokasi pemukiman baru.

Ketiga adalah Pongaretn Ponto’ yang saya dan adik saya datangi ini. Pemakaman ini digunakan saat bermukim di Ompu Emporikng dan masih digunakan pada saat awal bermukim di Seribot saat ini. Pongaretn Ponto’ ini terakhir digunakan sekitar tahun 1975. Bukti yang saya dapatkan pada beberapa makam yang sudah ber-salib dan memang tertulis tahun 1975. Pada saat itu kampung sudah pindah ke Seribot sekarang, artinya saat lima belas keluarga asal orang kampung Seribot pindah dari Ompu Emporing ke Seribot sekarang, Pongaretn Ponto’ masih digunakan.

Keempat yaitu Pongaretn Mpaye’ yang digunakan saat ini. Pemakaman ini mulai digunakan sekitar tahun 1975 dan pada saat itu, warga Ompu Mporikng sudah pindah ke Ompu Seribot saat ini. Pemakaman ini dekat dengan kampung, dan berada di atas bukit yang bernama Mpaye’.

Orang-orang mulai berdatangan ke Pongaretn Ponto’, saya juga sudah selesai memanjatkan doa singkat di pusara kakek saya. Kami berkumpul dengan peziarah lainnya dekat pohon asam. Masing-masing dari kami mulai mengeluarkan bekal makanan dan minuman. Saling menawarkan dan mencicipi makanan, bersenda gurau diantara peziarah. Saya mengenali mereka semua, begitu juga sebaliknya. Beberapa orang bahkan merupakan teman-teman sepermainan saat masih kecil.

Kalau sudah bertemu teman-teman sepermainan waktu kecil, maka mulailah bernostalgia. Salah satunya Pu’in, mengingatkan saya “Masih ingatkah dengan pohon duku yang kita panjat dulu?”, “Masih, saya masih ingat peristiwanya, cuma lupa pohon yang mana?” jawab saya. “Itu, pohonnya sudah timpokng” Saya mengarahkan pandangan saya ke arah yang ditunjuknya. Terlihat pohon sebesar satu pelukan yang terpotong bagian atasnya, mungkin diakibatkan oleh petir atau angin. “Sayang ya sudah timpokng, padahalkan itu pohon duku kenangan kita”  sambung saya sambil tertawa, mengingat peristiwa pohon duku yang dulu kami alami.

Sekitar satu jam saya dan Edi di Pongaretn Ponto’, kami permisi karena masih harus ke Pongaretn Pulau Sibu. Waktu melewati pohon asam saya minta difotokan oleh Edi, pohon asam yang dulu sering kami cari buahnya. Buah asam ini kalau lagi musimya berbuah, maka buah yang masak akan jatuh di sekitaran makam-makam di bawahnya. Walaupun begitu, kami waktu anak-anak tetap mencarinya dengan menahan rasa takut, karena tergoda dengan rasanya yang asam manis.

Perjalanan ke Pongaretn Pulau Sibu tidak lama, hanya sekitar 15 menit sudah sampai. Sudah beberapa orang yang datang terlebih dahulu. Kami menyalami dan menyapa mereka, begitu sebaliknya. Yang sudah selelsai membersihkan makam sudah duduk dan mengobrol sambil minum dan makan bekal yang dibawa. Awalnya kami bingung, mana makam yang mesti kami bersihkan, melihat kebingungan kami, Pak Hamdi langsung berkata “ Dua makam yang berdekatan di bawah pohon itu yang biasanya bapak kalian bersihkan”, serunya.

Penanda makam yang terbuat dari sepotong kayu belian tidak dapat menunjukkan tanda bahwa makam ini milik siapa. Karena memang tidak ada tulisan satupun. Jadi kerabat yang masih hidup mengenal makam berdasarkan petunjuk dari orang tua, dan itu harus disampaikan secara turun-temurun. Saya da Edi mulai membersihkan makam, ranting pohon, rumput dan dedaunan kering dibersihkan. Tidak memerlukan waktu lama, karena memang setiap tahun dibersihkan, berdoa sebentar semoga arwah tenang di alam sana.

Orang-orang juga mulai berdatangan, yang sebelumnya ke Pongaretn Ponto’ selanjutnya ke Pongaretn Pulau Sibu, begitulah rutenya setiap tahun. Yang lebih dulu datang dan sudah selesai membersihkan makam tidak langsung pulang, seperti ada kesepakatan tidak tertulis bahwa sebelum pulang peziarah berkumpul dan bercerita ditemani makanan, minuman dan asap rokok. Yang lebih muda menanyakan kepada yang lebih tua tentang beberapa makam, umumnya makam dari orang-orang berpengaruh dari leluhur kami. Ada yang dulunya seorang temenggung (Tomongokng), apa kekhasannya, bagaimana meninggalnya.

Yang lebih tua dan masih mengalami saat hidup di rumah betang juga bercerita tentang bagaimana kehidupan di rumah betang, bercerita tentang peristiwa-peristiwa penting yang berpengaruh terhadap kehidupan mereka waktu itu. Yang sudah selesai membersihkan makam ikut bergabung dan meramaikan suasana. Saya larut dalam cerita-cerita, lelucon dan obrolan di antara kerabat-kerabat.

Kurang lebih satu jam kami berada di sana, dan saatnya kami pulang. Orang-orang juga mulai pulang, ada yang melanjutkan ke Pongaretn Mpaye’ untuk mengikuti ibadat, tetapi ada juga yang langsung pulang ke rumah. Saya langsung pulang ke rumah orang tua, tidak ikut lagi karena di Pongartn Mpaye’ beberapa keluarga juga sudah ada yang ikut. Semoga situs-situs seperti Pongaretn/pemakaman tua seperti ini tetap dipelihara, karena merupakan saksi sejarah perkembangan budaya dan sosial dari suatu komunitas yang terus akan diketahui oleh penerus dan pewaris dari komunitas tersebut.

Pusat Damai, 17 November 2018

Related posts

Tinggalkan Balasan