Kisah Tajao Ngkarokng

Seperti dikisahkan oleh Ce’etn dan Bacok yang masih memelihara kisah ini dalam ingatan mereka

Suku Tinying masih bermukim di tanah asal leluhurnya. Di wilayah yang mereka sebut poya asol (tanah asal). Wilayah yang diduga berada di Jangkang sekarang, di sekitar Sekantot. Pada suatu hari balo nya ompu (penghuni kampung) digemparkan oleh hilangnya seorang anak kecil. Semua orang mencari, di sekitar kampung, di sungai tempat mandi, di kolong rumah, dan tempat-tempat yang diduga menjadi tempat hilangnya sang anak.

Tetapi usaha pencarian tidak berhasil. Malamnya para tetua kampung memutuskan untuk melakukan ritual bosinong. Bosinong adalah ritual atau cara untuk meminta petunjuk kepada kekuatan gaib agar menunjukkan kebenaran tentang segala sesuatu. Ritual bosinong malam itu mereka meminta petunjuk di mana sang anak itu berada.

Petunjuk dari bosinong mengatakan bahwa sang anak dalam keadaan baik, tetapi berada dalam kekuasaan gaib, berada di lubang dan memerlukan daya upaya yang keras untuk menyelematkannya. Tempat yang dimaksud juga sudah diketahui oleh tetua kampung, besok pagi-pagi mereka akan mencarinya sesuai petunjuk hasil bosinong.

Keesokan harinya pergilah para tetua kampung dan orang-orang yang dipilih mencari si anak. Sesuai petunjuk yang didapat, tidak lama sampailah mereka di tempat yang dimaksud. Dan memang ada sebuah lubang di tanah seperti petunjuk hasil bosinong. Maka satu persatu dari mereka berusaha untuk melihat ke dalam lubang tanah tersebut dan memanggil nama si anak.

Tiba-tiba dari dalam lubang muncullah seekor ngkarokng (kadal bengkarung). Anehnya ngkarokng tersebut dapat berbicara dalam bahasa manusia, sehingga membuat semua orang kaget. Semua orang terdiam dan ngkarokng tersebut mengatakan bahwa si anak baik-baik saja di dalam lubang. Tetapi untuk mengambilnya kembali, orang kampung harus membayarnya dengan adat pati doya (pati darah) dan diserahkan langsung kepada penghuni lubang tersebut.

Mendengar perkataan ngkarokng, maka para tetua kampung memerintahkan orang-orang untuk mencari dan menyiapkan syarat-syarat yang diminta sesuai adat pati doya. Maka bergegaslah orang-orang sekampung menyiapkannya. Gong dan tajao termasuk salah satu syaratnya. Setelah syarat yang diminta cukup, maka diutuslah beberapa orang tetua kampung untuk masuk ke dalam lubang tanah tersebut dengan membawa syarat-syarat yang diminta.

Walaupun lubang tersebut kelihatan kecil, begitu dimasuki ternyata cukup untuk ukuran tubuh manusia. Rupanya dibawah tanah tersebut sangatlah luas dan mereka dapat melihat si anak ada di antara orang-orang yang ada di sana. Orang-orang yang ada di situ juga berukuran besar dari manusia normal. Bawaaan mereka terutama tajao dan gong juga tiba-tiba bisa berukuran sangat besar. Bahkan tajao dan gong tingginya sampai nikar rongah (tingginya sampai ke loteng rumah).

Adat pati doya segera digelar, para tetua kampung duduk berhadap-hadapan dengan orang-orang dari dalam tanah. Tidak ada kendala dalam penentuan adat, orang-orang dalam tanah bersedia menerima adat dan syarat yang dibawa, dan si anak yang hilang dapat dibawa pulang. Rombongan tetua juga diberikan tajao dan gong untuk dibawa pulang, itu merupakan bagian adat dari si anak. Mereka sempat bingung, bagaimana caranya membawa tajao dan gong yang berukuran tidak normal tersebut, tetapi orang-orang bawah tanah meyakinkan mereka bahwa mereka pasti tidak kesulitan untuk membawanya . Maka berangkatlah mereka kembali ke atas tanah.

Sesampainya di atas, mereka mendapati bawaan berupa tajao dan gong berubah ukurannya menjadi kecil kembali. Bahkan Tajao yang dibawa dari bawah tanah kecil dari ukuran normalnya. Tetapi mereka tetap menyimpan benda-benda tersebut, terutama tajao mereka simpan sebagai pusaka mereka. Tajao tersebut mereka sebut Tajao Ngkarokng.

Catatan:

  1. Tajao Ngkarokng menjadi pusaka orang Tinying, bahkan saat mereka berpindah dari tanah asal menuju pemukiman saat ini, Tajao Ngkarokng merupakan salah satu pusaka yang dibawa.
  2. Keluarga terakhir yang dipercaya menyimpan Tajao Ngkarokng adalah keluarga Tanyi (Kakek Penulis) hal ini dibenarkan oleh kedua narasumber di atas dan dibenarkan oleh Sunai anak bungsu Tanyi. Terakhir Tajao Ngkarokng diketahui keberadaannya adalah saat Tanyi meninggal, oleh anak tertuanya Tajao Ngkarokng diberikan kepada Almarhum dengan cara disimpan di atas makamnya. Sampai saat ini tidak diketahui siapa yang mengambil dan menyimpan Tajao Ngkarokng.
  3. Menurut kedua narasumber di atas, ada keunikan dan keanehan pada saat Tajao Ngkarokng saat masih ada. Karena ukurannya yang lebih kecil dari tajao kebanyakan, maka secara logika akan sangat mudah menyentuh dasarnya dengan tangan orang dewasa. Tetapi anehnya hal ini tidak terjadi dengan Tajao Ngkarokng. Tangan orang dewasa sekalipun tidak dapat menjangkau dasar dari Tajao Ngkarokng.

Related posts

One Thought to “Kisah Tajao Ngkarokng”

  1. KALISTA

    Hipu jadinya hihihi

Tinggalkan Balasan